-->

Pagar Hidup Palestina Bendung Serbuan Zionis Ke Masjid Al-Aqsa

YERUSALEM TERJAJAH (SuaraMedia News) – Juru bicara Gerakan Islam di tanah terjajah tahun 1948, Zahi Anjidat, mengatakan bahwa warga Palestina di kota suci Yerusalem dan tanah terjajah pada hari Selasa (16/03) mampu menciptakan pagar hidup untuk melindungi Masjid Al-Aqsa.

Juru bicara tersebut menegaskan bahwa sejumlah besar pria dan wanita Palestina dari Yerusalem dan tanah terjajah 1948 menciptakan pagar hidup mengelilingi Masjid Al-Aqsa untuk melindungi Masjid tersebut dari kemungkinan serbuan Israel.

Dia mengetengahkan bahwa kelompok-kelompok Yahudi ekstremis mengungkapkan niatan untuk merangsek masuk halaman Masjid Al-Aqsa pasca pembukaan kembali sinagog Hurva. Mereka berniat masuk kompleks Al-Aqsa untuk melakukan upacara pembangunan "kuil Solomon".

Dalam konteks terkait, bentrokan terjadi pada hari Selasa pagi di sudut lain kota Yerusalem, khususnya di sekeliling kota tua dan Masjid Al-Aqsa, pada saat pasukan penjajah Israel masih mengepung kota suci tersebut untuk hari yang keempat dan mencegah ribuan orang Palestina memasuki masjid suci tersebut.

29 orang pemuda Palestina dikabarkan mengalami luka-luka menyusul bentrokan tersebut. Empat orang di antaranya ditahan oleh Israel.

Pasukan penjajah Israel menggunakan tongkat pemukul, gas air mata, dan granat cahaya (flashbang), dengan bantuan dari korps kepolisian dan anjing pelacak untuk memukul mundur para pengunjuk rasa Palestina.

Sheikh Kamal Al-Khatib, deputi kepala Gerakan Islam di tanah terjajah, dan Sheikh Ali Abu Sheikha, seorang tokoh senior gerakan Islam, ada di antara orang-orang yang mendapatkan serangan fisik.

Karena pembatasan Israel, yang melarang para pria memasuki Masjid Al-Aqsa, puluhan orang wanita Palestina mampu masuk ke dalam dan meneriakkan sejumlah slogan, menyaingi suara para pemukim ekstremis Israel yang berkumpul di plaza Al-Buraq dan mempersiapkan serangan mendadak terhadap Masjid Al-Aqsa.

Sementara itu, deputi juru bicara Dewan Legislatif Palestina, Ahmad Bahar, menyerukan kepada Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, untuk merespons bentrokan yang terjadi hari Selasa di Yerusalem Timur menyusul pembatasan akses terhadap Masjid Al-Aqsa.

Dalam satu dari banyak unjuk rasa yang digelar di Gaza, Bahar mengatakan kepada massa pengunjuk rasa, "luapkan kemarahan kalian hingga batas maksimum dan desak Liga Arab untuk menarik keputusan mendukung kelanjutan negosiasi tidak langsung dengan penjajah Israel."

Bahar mengkritik pemerintah Palestina pimpinan Mahmoud Abbas, yang menghalangi demonstrasi untuk menunjukkan solidaritas terhadap Masjid Al-Aqsa, ia menyebut tindakan pemerintah Palestinad tersebut sebagai sebuah pengkhianatan.

Para pejabt dewan pembebasan Palestina memuji warga Palestina berkewarganegaraan Israel yang dihalangi aksesnya terhadap masjid tersebut, khususnya Sheikh Raed Salah.

Lebih lanjut lagi, Bakar mengatakan bahwa peristiwa terbaru tersebut, khususnya pembukaan sinagog Hurva yang terletak tidak jauh dari kompleks Masjid Al-Aqsa, dan masalah tersebut harus diangkat dalam KTT Liga Arab mendatang.

"Pemerintah Israel kembali mengeluarkan pembelaan diri terhadap dunia Arab dan Muslim, serta melanjutkan ekspansi pemukiman (Yahudi ilegal) di Yerusalem dan Tepi Barat," kata Bahar.

Sebelumnya, anggota biro politik Hamas, Ezzet Al-Resheq, mengatakan bahwa pembangunan yang dilakukan Israel terhadap reruntuhan sinagog di dekat Masjid Al Aqsa, Yerusalem terjajah, sebagai sebuah pernyataan perang, karena hal itu mengancam langsung situs suci umat Islam tersebut.

Dia menambahkan, sinagog tersebut dijadikan landasan untuk melakukan Yahudisasi Yerusalem, dalam sebuah pernyataan pers yang dirilis pada hari Senin, ia memperingatkan otoritas penjajah Israel (IOA) terhadap akibat yang harus ditanggung atas tindakan agresif Zionis terhadap Yerusalem dan Masjid Al Aqsa.

Resheq membenarkan bahwa Masjid Al Aqsa adalah garis pembatas, dan upaya apapun yang dilakukan IOA untuk melintasi garis tersebut akan memicu amarah umat Islam.

Pemimpin Hamas tersebut mendesak rakyat Palestina di Tepi Barat, Yerusalem dan tanah terjajah pada tahun 1948 untuk bangkit dan mempertahankan Masjid Al Aqsa, serta mendeklarasikan hari Selasa sebagai hari kemarahan untuk membela situs suci tersebut. (dn/pi/mn/sm) www.suaramedia.com