Surat
kabar The New York Times mengatakan bahwa “banyak yang percaya bahwa
dukungan Rusia ke Suriah berasal dari keinginan Moskow untuk terus
menjual senjata kepada rezim Presiden Bashar al-Assad, atau berusaha
untuk mempertahankan fasilitas angkatan lautnya di pelabuhan Tartus,
namun ini hanya spekulasi dangkal dan menyesatkan. Sedang alasan
sebenarnya di balik perlawanan Rusia terhadap tindakan internasional
apapun pada Assad adalah ketakutnya akan penyebaran ekstremisme Islam.”
*** *** ***
Sesungguhnya
maksud dari ekstremisme, sebagaimana yang ditafsirkan oleh para
pemimpin kebijakan Barat dalam beberapa kesempatan, sebenarnya adalah
untuk para aktivis Islam yang tengah berjuang melanjutkan kekuasaan
Islam dan penerapan syariah, serta menuntut penghapusan pengaruh Barat
di negeri negeri kaum Muslim, dan menuntut pembebasan dari segala bentuk
penjajahan kaum kafir Barat; juga berjuang untuk mencabut entitas
Yahudi, tidak menerima keberadaannya, dan menganggapnya sebagai entitas
kanker ganas yang harus dilenyapkannya. Bahkan, Barat benar-benar
menganggap konsep perjuangan untuk penegakan Khilafah sebagai puncak
dari ekstremisme, dan sebagai kepala piramidanya.
Meskipun
negara-negara imperialis telah menghabiskan sejumlah besar kekayaan
untuk menghadang seruan Islam transformatif, menempatkan berbagai
rintangan di depannya agar seruan kepada Islam ini lenyap, bahkan
sampai-sampai mereka membangun aliansi dengan beberapa kelompok modern
di arena Islam yang disebut (kelompok Muslim moderat), dan memberi
mereka seluas-luasnya jalam berpartisipasi politik, serta akses ke
kubah-kubah parlemen dan istana para penguasa, dengan harapan terjadi
perubahan konsep Islam terkait pemerintahan, juga penyesatan politik dan
pemikiran umat Islam, namun negara-negara ini benar-benar telah gagal
dan semakin terlihat jelas boroknya. Justru hasilnya adalah kebalikan
dari apa yang mereka harapkan, dimana Islam transformatif telah
benar-benar matang dan berkembang hingga dakwahnya mencapai seluruh
penjuru bumi.
Barat
benar-benar berusaha untuk memerangi konsep Jihad di jalan Allah, dan
menganggapnya sebagai ajaran terorisme, sebagaimana yang mereka
klaimkan. Dan itulah sifat yang diberikan kepada orang-orang yang
melakukan aktivitas berupa jihad fisik dalam membela negerinya,
kehormatannya dan kesuciannya. Sementara, ketika mereka tidak menemukan
sifat tersebut, maka sifat itu digunakan pada mereka yang beraktivitas
untuk melanjutkan cara hidup Islam dengan melakukan aktivitas politik
dan pemikiran. Kemudian mereka membuat istilah baru yang disebarkan di
tengah-tengah masyarakat melalui media-media massa dan sarana-sarana
lainnya. Sementara sifat (sebutan) ekstremisme adalah sifat yang
berhasil mereka ciptakan. Selanjutnya mereka menggunakan sifat itu,
menyebarkannya dan mengumumkan perang dengannya. Semua itu tidak lain
adalah perang yang sangat telanjang indikasinya, yang asasnya adalah
perang melawan Islam, dan semua yang dihasilkan dari ide-ide politik
yang menyerukan persatuan dan kesatuan kaum Muslim, dan kemerdekaan dari
penindasan imperialisme Barat.
Ketika
negara-negara Barat, Rusia dan Cina, serta para penguasa bonekanya di
kawasan Timur Tengah melihat perkembangan situasi di Syam, dan terlihat
jelas perjuangan pembebasan oleh kelompok revolusi Syam, yang berjuang
untuk pembebasan dari rezim, pilar-pilarnya, pemikirannya, dan
ketergantungannya, kemudian mengganti rezim Bashar yang terkutuk dengan
sistem Islam yang agung. Hal ini terlihat jelas pada kelompok revolusi
Syam yang memiliki ikatan kuat dengan Islam, bahkan menjadikan Islam
sebagai kepemimpinan pemikiran (qiyâdah fikriyah) bagi revolusi mereka
yang diberkati. Dan ketika kaum kafir melihat hal itu begitu menonjol,
maka mereka gemetar ketakutan akan kembalinya Islam yang agung untuk
memimpin dunia kembali seperti sebelumnya. Untuk itu, mereka melakukan
konspirasi demi konspirasi, yang tujuannya adalah memalingkan revolusi
ini dari jalan Islam, dan berusaha mengaborsinya, kemudian menariknya
pada kekuatan politik Barat.
Oleh
karena itu, ketakutan Rusia sejalan dengan ketakutan Amerika sang
penjagal dunia, yang terus-menerus memberi kesempatan waktu pada Bashar
untuk membantai rakyatnya sendiri, dan seperti itu juga halnya, dengan
ketakutan Cina, Eropa dan para penguasa boneka di kawasan Timur Tengah,
semuanya takut terhadap Islam yang agung, sebab mereka adalah para
penjahat perang yang melakukan pembunuh dan penjarah kekayaan. Sementara
Islam dengan cahaya yang agung akan membakar mereka dan mengeluarkan rakyat mereka dari perbudakan euro dan dolar, menuju penyembahan hanya kepada satu Tuhan Yang Mahakuasa, Allah SWT.
Keberhasilan
sesungguhnya bagi revolusi Syam, tidak akan pernah terwujudkan kecuali
dengan tegaknya Khilafah Rasyidah ala Minhaji Nubuwah kedua di Syam,
yaitu di rumah Islam sendiri. Bahkan keberhasilan ini tidak hanya akan
menggoncangkan kawasan Timur Tengah saja, melainkan akan menggoncangkan
dunia dan situasi internasional, serta aturan hubungan yang ada di
antara negara-negara besar dan pengaruhnya, dan akan mengubah meja di
kepala mereka. Sehingga keberhasilan itu senilai dengan darah murni nan
suci yang ditumpahkan di tanah Syam yang diberkati. Sungguh, hanya
dengan ini saja, keberhasilan revolusi Syam akan terwujudkan.
Ya
Allah, tolonglah Syam, dan tolonglah warga Syam, serta jadikanlah
kemenangan mereka sebagai wujud janji-Mu, dengan memberikan keteguhan
dan kemenangan, serta mengembalikan kekuasaan Islam di Syam [Abu Basil –
Baital Maqdis].
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 2/8/2012.