Esai "Warns of Rise of the Far Right in the U.S." (Peringatan terhadap kebangkitan ekstim kanan di AS) yang ditulis Noam Chomsky mengatakan bahwa kelompok sayap kanan memanfaatkan rasa frustrasi itu dan mengembangkan kelompok ultra konservatif seperti Tea Party misalnya. Kaum Latin dan kulit hitam dianiaya, seperti yang dilakukan Jerman terhadap Yahudi.
"Saya tidak pernah melihat yang seperti ini," ujar Chomsky ketika diwawancarai oleh Chris Hedges untuk situs berita Truthdig. Ia menambahkan bahwa suasana hati negara itu menakutkan. Tingkat kemarahan, rasa frustrasi, dan kebencian terhadap institusi tidak terorganisir dalam sikap yang konstruktif, terbelokkan menjadi fantasi yang menghancurkan diri sendiri dalam merujuk ke ekspresi dari sayap kanan populis.
Menurut penelitian Pew Research Center, sentimen anti-pemerintah telah meningkat di dalam masyarakat dan hanya 22% yang percaya pada pemerintah, salah satu titik terendah dalam sejarah. Rakyat Amerika kini kurang positif dan lebih kritis terhadap pemerintah mereka.
Penelitian terbaru dari jajak pendapat kantor berita New York Times/CBS News mengungkapkan bahwa 18% dari warga Amerika mengidentifikasikan diri sebagai pendukung Tea Party, menganggap diri mereka "sangat konservatif" dan sangat pesimistis tentang arah negara dan sangat mengkritik Washington dan, tentu saja, Obama. Sembilan puluh persen lebih dari mereka meyakini bahwa negara itu bergerak ke arah yang salah dan persentase yang sama tidak sependapat dengan presiden dan kebijakan pemerintahannya. Sudah ada 92% responden yang memperkirakan bahwa Obama memimpin negara menuju sosialisme, sebuah opini yang diikuti oleh lebih dari separuh populasi umum.
Terlebih lagi, ekspresi kemarahan golongan kanan tercatat ketika menyebutkan hate crime, meningkatnya kelompok-kelompok radikal sayap kanan, serta laporan tak resmi dari bertambahnya jumlah ancaman mati terhadap presiden. Badan keamanan umum pun telah menaikkan status waspada menjadi "terorisme dalam negeri".
Insiden-insiden dari aksi intimidasi terhadap anggota kongres dan pejabat terpilih lainnya dilaporkan dan beberapa sedang dalam proses penyelidikan. Awal bulan ini, lebih dari 30 gubernur menerima surat dari kelompok ultrakonservatif anti pemerintah yang menuntut pengunduran diri mereka dalam waktu tiga hari (meskipun tidak ada ancaman kekerasan). Otoritas federal telah memperingatkan kepolisian setempat bahwa surat-surat itu dapat mengarah pada perilaku kekerasan. Ada banyak contoh lainnya di negeri itu.
Gelombang kekecewaan terhadap pemerintah dan penguasa menimbulkan kekhawatiran di antara sejumlah politisi yang tidak tahu dampak apa yang mungkin akan diberikan kepada pemilu bulan November mendatang. Namun bagi lainnya persoalan ini lebih mengkhawatirkan.
"Ini sangat mirip dengan Jerman Weimar, paralelnya mengejutkan." Di Amerika juga ada kekecewaan besar terhadap sistem parlementer.
"AS sangat beruntung belum ada figur jujur dan karismatik yang muncul, dan jika itu terjadi maka negara ini akan berada dalam kesulitan nyata rasa frustrasi, kekecewaan, dan kemarahan yang digabungkan dengan ketiadaan respon yang koheren," ujar Noam Chomsky.
Di Jerman, ujarnya, musuh yang diciptakan untuk menjelaskan krisis adalah kaum Yahudi. "Di sini (AS) mereka adalah imigran ilegal dan orang kulit hitam. Kita akan mengatakan bahwa kaum kulit putih adalah minoritas yang teraniaya. Kita akan mengatakan bahwa kita harus menegakkan dan membela kehormatan bangsa. Kekuatan militer akan diagungkan. Dan jika itu terjadi, maka itu akan lebih berbahaya daripada Nazi Jerman. AS adalah negara adikuasa. Saya yakin ini akan terjadi tidak lama lagi," ujarnya. (rin/pd/en) www.suaramedia.com
