-->

Akibat Jilbab, Murid Inggris Dilarang Kunjungi Masjid

LONDON (Berita SuaraMedia) – Seorang ibu melarang putrinya masuk sekolah setelah menolak untuk memberikan ijin bagi sang putri mengikuti sebuah kunjungan ke Masjid Liverpool.

Michelle Davies, dari Bodiam Court, Ellesmere Port, menyatakan bahwa dia tidak punya pilihan selain menyuruh anaknya yang berusia 14 tahun, Amy Owen, untuk tetap di berada di rumah setelah kepala sekolah SMA Katolik Ellesmere Port, Peter Lee, mendorong pelajar itu untuk berpartisipasi.

Davies mengatakan, "Saya keberatan Amy disuruh berpakaian seperti gadis Muslim." Surat dari sekolah memberikan aturan berpakaian untuk kunjungan itu, termasuk rok panjang, legging, dan jilbab.

"Dia dibesarkan secara Katolik. Amy bukan Muslim dan tidak seharusnya diminta berpakaian seperti seorang Muslim."

Davies menyerahkan surat yang memaparkan alasan mengapa anaknya tidak akan mengikuti kunjungan itu dan sekolah bertanya apakah itu karena masalah pembayaran.

"Saya meminta mereka untuk tidak meremehkan saya. Ongkos busnya cuma tiga pound."

Meskipun meminta agar komunikasi lebih lanjut tentang rencana kunjungan kelas sembilan, yang merupakan bagian dari kelas pendidikan agama, dilakukan hanya antara dirinya dan Kepsek Lee, Davies kecewa mendengar bahwa Amy dikeluarkan dari kelas dan diberitahu bahwa kunjungan ke Masjid itu adalah "wajib".

Davies, yang mengenal beberapa orangtua lain yang telah menolak memberikan ijin, juga menerima surat dari Kepsek Lee, mendesak lebih jauh agar Amy ikut serta.

Ia mengatakan, "Di akhir surat, dengan digaris bawah, disebutkan, 'Saya harus mewajibkan anak Anda untuk berpartisipasi dalam kunjungan ini'."

"Ini adalah pelanggaran terhadap hak-hak asasi Amy."

Dalam sebuah pernyataan tertulis, Lee menolak untuk berkomentar atas sifat wajib dari kunjungan itu, namun mengatakan, "Untuk menyesuaikan dengan praktik baik yang diterima dan status sebagai sekolah humaniora kami memberikan kepada para murid sebuah pengalaman untuk mengunjungi sebuah Masjid dan kesempatan untuk berbicara dan bertanya kepada perwakilan dari komunitas yang dilayaninya."

"Saya tidak masalah dengan dia mendapat pendidikan di segala bidang agama, tapi dia bukan Muslim dan tidak seharusnya berpakaian seperti seorang Muslim," ujar Davies.

"Saya bisa menjamin bahwa jika ada 10 gadis Muslim datang ke sekolah kami, sekolah akan mengikuti apa yang mereka inginkan, karena itu adalah agama mereka, keyakinan mereka, gaya berbusana mereka."

Berkebalikan dengan apa yang terjadi di Amerika, dua pelajar Muslim dan guru mereka di Inggris diminta untuk melepaskan cadar sebelum dapat berkunjung ke sebuah sekolah Katolik. Sang guru menolak permintaan itu.

Kedua pelajar dan guru mereka itu berasal dari sebuah sekolah Muslim di Great Harwood dan berencana akan mengunjungi Sekolah St Mary di Blackburn, Lancashire, pada bulan Juni tahun 2009.

Juru bicara St Mary mengatakan permintaan itu dibuat karena cadar bertentangan dengan kebijakan sekolah.

Kedua murid bersedia untuk melepas namun guru mereka tidak.

Sang guru dibawa ke sebuah kantor di St Mary dan diberitahu bahwa dia tidak akan diijinkan masuk ke lahan sekolah.

Abdul Quereshi dari Dewan Masjid Lancashire mengomentari larangan itu. "Saya kira St Mary memiliki reputasi yang bagus. Ini membuat saya sangat kecewa."

"Informasi yang saya peroleh adalah bahwa ini merupakan tindakan dari satu individu dan sekarang akan menjadi sebuah persoalan yang besar."

"Pemakaian cadar adalah untuk melindungi keluarga Muslim dan menghindari godaan di depan pria-pria Muslim." (rin/emp/ct) www.suaramedia.com