Pertempuran di kediaman spiritual Taliban merupakan ujian penting bagi strategi militer Presiden Obama di Afghanistan, termasuk sejauh mana AS dapat mengandalkan dukungan dari para pemimpin pemerintah dan militer Afghanistan, serta apakah kemungkinan meningkatnya korban sipil dalam pertempuran sengit akan mempengaruhi strategi yang amat bergantung pada upaya mendapatkaan dukungan masyarakat Afghanistan.
Serangan tersebut akan menyusul serangan pertama yang dilakukan di Marjah. Serangan tersebut mengharuskan pasukan AS dan Afghanistan untuk menelusuri medan pertempuran yang tidak hanya lebih besar dari Marjah, namun juga lebih rumit dalam bidang militer, politik dan budaya.
Dua bulan setelah serangan Marjah, para peejabat Afghanistan menyadari bahwa Taliban mampu mengambil kembali momentum di kawasan tersebut, termasuk menindak warga setempat yang berkomplot dengan pemerintah pusat dan Amerika. "Kami masih menunggu dan melihat hasil akhir di Marjah," kata Shaida Abdali, deputi penasihat keamanan nasional Afghanistan. "Jika Anda merencanakan operasi di Kandahar, maka Anda harus menunjukkan keberhasilan di Marjah. Harus ada sesuatu yang ditunjukkan. Tapi, saat ini tidak ada contoh bagus yang bisa ditunjukkan di sana."
Pertempuran Kandahar menjadi serangan menentukan – membangun atau menghancurkan – dalam perang yang telah berlangsung delapan setengah tahun tersebut. Yang menjadi pertanyaan, apakah pasukan militer dapat mengatasi budaya yang dibangun atas dasar ketidakpercayaan terhadap asing, termasuk pasukan asing atau bahkan suku tetangga.
Lebih dari selusin pejabat militer dan pemerintahan senior yang terlibat langsung dalam operasi Kandahar setuju untuk membahas skema serangan tersebut dengan syarat bahwa tidak ada yang tahu mereka membahas operasi yang tertunda. Tapi, secara umum, militer di bawah komando Jenderal Stanley McChrystal, komandan senior AS dan sekutu, bersedia membahas operasi tersebut sebelumnya untuk mencoba menakuti gerakan perlawanan dan meyakinkan populasi setempat bahwa pemerintah mereka dan sekutu terus berupaya meningkatkan keamanan.
Bukannya sebagai pukulan cepat yang menjadi pembuka serangan Marjah, operasi di Kandahar dirancang sebagai tindakan militer yang meningkat perlahan. Itulah mengapa pembukaan serangan tersebut dilakukan secara diam-diam oleh pasukan operasi khusus.
"Sejumlah besar pemimpin perlawanan yang berbasis di Kandahar dan sekitarnya telah ditangkap atau dibunuh," kata seorang pejabat militer senior AS yang terlibat langsung dalam perencanaan serangan Kandahar. Namun, dia mengakui bahwa pertempuran di Kandahar masih berlangsung sengit.
Para komandan senior AS dan sekutu mengatakan bahwa tujuan serangan tersebut adalah memperkecil kehadiran Amerika di kota Kandahar, dan upaya tersebut dilimpahkan pada militer dan polisi Afghanistan.
Meningkatnya pengeboman dan serangan terhadap para kontraktor asing, pemimpin keagamaan, dan para pejabat pemerintahan merupakan bukti bahwa Taliban berupaya mengirimkan pesan kepada para pemimpin suku Afghanistan agar tidak bekerja sama dengan Amerika.
Para pejabat AS dan NATO tidak bersedia berbicara di depan umm mengenai salah satu tantangan terbesar yang mereka hadapi, yakni dampak dari kehadiran Ahmed Wali Karzai, adik presiden Afghanistan dan kepala dewan provinsi Kandahar, yang diduga berhubungan dengan para pengedar obat terlarang. Sejumlah pejabat Barat mengatakan bahwa korupsi dan buruknya pemerintahan membuat warga setempat lebih menerima kehadiran Taliban.
Dan meski para pejabat sekutu mengatakan bahwa mereka akan amat bergantung pada pasukan Afghanistan agar mengambil kendali pengamanan kota, taktik yang sama sejauh ini tidak terlalu berhasil di Marjah, di mana para personel Korps Marinir mengatakan bahwa pada akhirnya merekalah yang mendapat "jatah" pertempuran berat.
Untuk membentuk kesepakatan dengan pasukan sekutu sebelum pertempuran, pasukan umum memulai operasi milter di luar Kandahar, di beberapa distrik provinsi yang melingkari kota tersebut. Para pejabat AS dan sekutu memprediksikan adanya pertempuran sengit di kawasan tersebut. Mereka mengatakan bahwa Kandahar "terinfeksi" gerakan perlawanan, namun tidak sebanyak di Marjah.
Rencana tersebut mengulang serbuan di Irak, saat pasukan tambahan AS dikirimkan untuk menyerang gerakan perlawanan yang beroperasi di kantong-kantong di ibu kota Irak, merencanakan serangan, menanam bom pinggir jalan dan melaksanakan serangan.
Kesamaan lain dengan Irak adalah rencana untuk merayu para pemimpin suku setempat di dalam dan di sekitar Kandahar, mirip dengan upaya prajurit dan Marinir di Provinsi Anbar dalam membujuk sheikh-sheikh Sunni di Irak untuk melakukan perlawanan terhadpa gerilyawan.
AS dan sekutunya dalam pemerintah Afghanstan akan mencoba menyatukan para pemimpin suku di dalam dan di sekitar Kandahar agar menyerahkan para anggota Taliban dan Al-Qaeda. Sementara di Irak, strategi tersebut termasuk insentif keuangan (baca: suap) dalam wujud dana bantuan perkembangan ekonomi untuk para pemimpin setempat yang bersedia mendukung upaya pemerintahan.
Seiring dengan meningkatnya upaya militer, pusat upaya politik dalam serangan tersebut adalah sejumlah syura. Tujuan syura, kata Mark Sedwill, pejabat sipil senior NATO di Afghanistan, pertama adalah mendapatkan dukungan untuk melaksanakan operasi keamanan, dan yang kedua, mengidentifikasi keperluan masyarakat dalam bidang keamanan, pemerintahan dan perkembangan.
Langkah selanjutnya setelah operasi keamanan dan syura adalah mengirimkan para staf pemerintahan Afghanistan dan penasihat Barat, yang – secara teori – akan berusaha menghadirkan layanan dan sumber daya pemerintahan ke berbaga distrik. Hal ini mungkin menjadi penghalang yang paling sulit, karena para pejabat Barat sendiri banyak meragukan kemampuan pemerintahan Afghanistan.
Banyak warga sipil yang takut dengan tindakan militer. Banyak warga memandang konvoi militer Afghanistan dan NATO sama bahayanya dengan bom pinggir jalan Taliban.
"Bukannya mendekatkan masyarakat kepada pemerintah, semakin banyak pertempuran akan semakin menjauhkan rakyat dari pemerintah dan membuat mereka semakin membenci warga asing," kata Haji Mukhtar, seorang anggota Dewan Provinsi Kandahar.
Di beberapa bagian Kandahar, serangan akan dimulai dalam beberapa minggu ke depan, terlihat dari penempatan puluhan peleton dan pos jaga AS dan sekutu yang dibangun dalam beberapa minggu terakhir. Para pejabat militer memperingatkan bahwa pengamanan kota tersebut akan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Para komandan militer mengatakan bahwa tujuan mereka adalah menunjukkan hasil nyata pada akhir musim panas atau awal musim gugur mendatang, sebelum bulan suci Ramadhan dan pemilihan anggota parlemen nasional.
Meski mereka mengatakan bahwa mereka akan "membatasi" jatuhnya korban sipil, peningkatan operasi militer akan membuat lebih banyak penduduk terperangkap baku tembak. Pertempuran tersebut berisiko meningkatkan jumlah korban sipil. Jatuhnya korban sipil baru-baru ini menggerus kepercayaan masyarakat terhadap operasi NATO. (dn/nt) www.suaramedia.com
