-->

Antara Seember Air dan Seember Batu

Oleh: Hendra Madjid

Seorang dosen, kita sebut saja namanya Budiman membawa sebuah ember seng kosong. Selain itu dia juga membawa sekantong pasir, sekantong batu, sekantong kerikil dan beberapa botol air. Jelas Budiman sedang tidak melakukan praktek fisika, kimia atau biologi. Karena Budiman adalah sarjana social, jadi kuliah yang diberikan kepada mahasiswanya tidak pernah menyentuh pelajaran eksak sedikitpun. Beberapa mahasiswa yang telah menunggu sebelum kelas dimulai tampak penasaran.
Tanpa banyak bicara, Budiman lalu memasukkan beberapa bongkah batu ke dalam ember. Seluruh batu Nampak sesak meliputi bibir ember. Budiman lalu bertanya, “saudara-saudara, apakah ember ini telah penuh?” Koor, semua mahasiswanya menjawab “Penuh”. Sedetik berselang, dosen berkacamata tebal itu kemudian memasukkan sekantong krikil sehingga setiap ruang kosong di antara batu-batu tadi terisi oleh kerikil. Masih Nampak penuh. Budiman mengulangi pertanyaannya “anda sudah yakin ember ini telah penuh?” kini sebagian mahasiswanya mulai ragu, antara penuh dan tidak.
Sejurus kemudian budiman memasukkan sebagian pasir. Lalu bertanya lagi kepada mahasiswanya. Hampir seluruhnya menjawab “penuh” saat Budiman mengulangi pertanyaannya. Saat Budiman menyiramkan air hingga ember itu limpuar, Dosen ini baru mendapati seluruh mahasiswanya yakin bahwa ember itu telah benar-benar penuh.
Waktu adalah prioritas
Cerita di atas sebenarnya berlanjut dengan penjelasan Budiman tentang pentingnya memiliki prioritas dalam kehidupan. Mengatur hal-hal besar sebagai prioritas kehidupan kita, lalu semakin kecil berarti semakin berkurang tingkat kepentingan sebuah aktivitas dalam hidup. Ember sendiri bermakna seluruh hidup kita dan batu, kerikil, pasir dan air adalah aktivitas kegiatan dan isi hidup kita. Dan mengertilah kita, bahwa seandainya kita mengisi ember itu dengan air terlebih dahulu hingga penuh, maka kita tidak akan pernah bisa memasukkan batu, kerikil bahkan pasir. Karena ember telah dipenuhi dengan air.
Banyak sekali orang yang kebingungan, bagaimana caranya mengatur waktu. Agar hidup kita jadi lebih disiplin, lebih produktif, lebih sukses dan tertata rapi. Jawabannya singkat, aturlah prioritas dalam hidup kita.
Bahwa Al Quranpun telah menuntun kita agar hidup kita beruntung, maka kita harus meninggalkan yang remeh dan tidak berguna. Allah berfirman:
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, (TQS Al Mu’minun 1-3)
Bertanyalah kemudian penulis tentang kebiasaan tidur selama 8 (delapan) jam sehari. Apakah itu tidak terlalu banyak dan membuang-buang waktu? Bukankah 8 jam adalah sepertiga hari (sehari 24 jam). Dan jika setiap kita tidur sepertiga hari, maka dari 60 tahun rata-rata usia manusia, kita telah menggunakan setidaknya 20 tahun hidup kita hanya untuk tidur.
Hal ini tentu bukan berarti kita harus meninggalkan tidur agar seluruh hidup kita lebih produktif dan lebih sukses. Tidur tetap diperlukan setidaknya dua jam sehari. Belum lagi jika kita menghitung, berapa banyak sih waktu yang kita alokasikan untuk keluarga? Untuk beribadah? Untuk bersosialisasi dengan masyarakat? Semua tergantung kita, dan diukur dari prioritas kita dalam hidup.
Menyelaraskan prioritas dengan visi hidup
Tentu saja, seorang yang memiliki visi akan mendapatkan hidup yang lebih terarah dan lebih bermakna. Hal ini pulalah yang membuat Muhammad Al Fatih, Collumbus, Bill Gates, Mark Zurckenberg, Stephen Spillberg, Steve Jobs, Chairul Tanjung, Jacob Oetama dan sederet nama besar lainnya mendapatkan kesuksesannya. Mereka memiliki prioritas hidup yang selaras dengan visinya. Apalah jadinya, jika Bill Gates yang memiliki visi agar seluruh rumah memiliki komputer desktop tidak selaras dengan prioritas hidupnya. Boleh jadi kita tidak akan pernah mengenal namanya. Bill Gates mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pekerjaannya dan mimpi-mimpinya.
Sama seperti Muhammad Al Fatih yang telah sedari kecil memilki visi menaklukkan Konstantinopel kemudian mewujudkannya. Motivasi dari hadits nabi tentang penaklukan Konstantinopel dan Roma terus dibacakan setiap hari oleh gurunya. Sehingga seluruh waktunya di habiskan untuk belajar tentang strategi perang, geografi, bahasa, motivasi dan penguatan spiritualitasnya kepada Allah. Dan sejarahpun mencatat pada abad ke 15 (tahun 1453), Al Fatih yang saat itu berada di usia awal 20-an mampu menjadi sebaik-baik pemimpin dengan menaklukkan Konstantinopel.
Tidak ada waktu terbuang untuk hal yang sia-sia. Dan diisi dengan aktivitas dan perkara-perkara yang membuat kita mewujudkan mimpi kita. Boleh jadi, beberapa tahun ke depan kita akan memiliki orang-orang yang tangguh dalam dunia usaha dan bidang ekonomi, faqih sebagai ulama serta pemimpin yang bekerja efektif dan berisi. Kita juga akan senang, saat memiliki janji dan ditepati. Saat memulai acara sesuai jadwal, menuntaskan pekerjaan sesuai dateline dan meraih mimpi sesuai visi.
Indonesiapun, sebenarnya bisa menjadi lebih baik. Jika para pemimpin yang mengatur negeri ini memiliki visi sekaligus prioritas dalam membangun Negara. Walau perlu dicatat, tokoh-tokoh besar yang penulis sebut di atas selain memilki visi dan prioritas dalam hidup juga menjadikan menjadikan keyakinan sebagai pondasi awalnya sebelum mewujudkan mimpinya. Lalu mengisi negaranya dengan batu-batu besar, kerikil, pasir dan terakhir dengan air.
Boleh jadi, PR-PR besar Negara kita bukanlah bagaimana memajukan sepak bola ke Piala Dunia atau mengembalikan kejayaan bulu tangkis di ajang olimpiade atau Piala Thomas. Tapi sesuatu yang lebih besar lagi. Mungkin masalah profesionalisme dan kejujuran para pejabat Negara, mungkin masalah penegakkan hokum yang tidak pandang bulu. Atau, melakukan revolusi terhadap sistem dan visi Negara ini?
Semua tergantung pada kita, bangsa Indonesia. Akan menghabiskan waktu untuk hal sepele dan menjadi Negara gagalkah? Atau mengumpulkan prioritas-prioritas utama yang sesuai visi Negara dan menjadi Negara maju? Kita bisa lihat nanti. Apakah kita mengisi Negara ini dengan seember air, atau seember batu. Wallahua’lam.