-->

Mudik…!


oleh: Hendra Madjid

Di Negara lain, tidak pernah ada istilah mudik atau pulang kampung menjelang hari raya idul fitri tiba. Setidaknya sebatas pengetahuan yang kami miliki, mungkin tradisi ini juga ada di Negara lain, tapi tidak serutin dan sepadat di Indonesia. Pulang ke kampung halaman, bertemu orang tua, sanak famili, teman-taman lama dan tak lupa membagikan “amplop” berisi uang sebagai bukti keberhasilannya di negeri perantauan.

Hal ini tentu tak lepas dari kondisi sosil masyarakat kita yang mengadu nasibnya ke kota besar. Karena di kampung mereka lapangan pekerjaan dan usaha lebih terbatas dibandingkan dengan kota. “Apalah menariknya, jika hanya bertani dan bertani?” Begitu kira-kira ungkapan dari urbanisator (pelaku urbanisasi) mengungkap alas an mereka “hijrah” ke kota besar. Selain ibukota provinsi, Jakarta adalah satu destinasi paling menarik perhatian urbanisator. Dengan atau tanpa kepastian pekerjaan yang didapatkan, mereka tetap berangkat untuk mencari membuka pundi-pundi rizki di negeri orang.

Selain itu, ada juga beberapa suku di Indonesia yang secara kultur “mewajibkan” para lelaki di kampungnya untuk merantau ke kota besar untuk mengembangkan dirinya. Sebut saja banyaknya warung masakan padang yang tersebar di mana-mana sebagai sebuah bukti bahwa suku Minang memiliki tradisi rantau yang sangat lekat. Dan saat lebaranlah saat yang paling tepat untuk kembali pulang “kandang”.

Berbagai masalah hadir di dalam masa mudik itu. mulai dari masalah lalu lintas, masalah percaloan, masalah harga tiket yang melonjak tajam, kerawanan kriminalitas dan lain-lain. Tapi, seolah masalah itu tidak pernah bisa menghalangi niat para pemudik untuk kembali ke kampung halamannya. “jika tidak pulang, kita tak bisa bermaafan” begitu mungkin salah satu alasan melakukan aktifitas mudik. Padahal, kecanggihan teknologi saat ini sangat memungkinkan untuk bisa bersilaturrahim dengan keluarga. Mulai dari telepon, pesan singkat, bahkan video call yang bisa membuat kita saling bertatap muka dengan orang yang kita telepon. Walau pada akhirnya, rasa haru, keakraban dan kedekatan tidak bisa dirasakan tanpa pertemuan secara langsung. Ada berkah yang mungkin hilang saat kita tidak pulang.

****

Mudik ke akhirat

“Di mana kampung sejati kita? Bukan… bukan kampung halaman tempat lahir kita…” seorang ustadz retoris bertanya sekaligus menjawab kepada jamaah tempat dia berceramah. “sesungguhnya sebelum kita lahir, kita telah berada di alam ruh, kampung akhirat. Saat kita mati, kitapun akan kembali lagi ke kampung itu. Ke kampung akhirat…” kadang saya merinding sendiri mendengar ceramah semacam ini. Tapi, jika dipikir-pikir ceramah-ceramah model ini harus sering diampaikan ke tengah-tengah umat. Karena kondisi saat ini seolah telah membuat umat lupa dengan tempat asalnya.

“jika kita pulang kampung, banyaaaak sekali barang yang kita bawa. Tak cukup hanya pakaian dan oleh-oleh, tabungan yang dikumpulkan selama setahunpun ikut dibawa serta. Untuk kemudian dibagi-bagi kepada sanak saudara di kampung halaman. Menjadi bukti, bahwa kita telah berhasil di negeri perantauan… lalu, bekal seperti apa yang kita bawa ke kampung akhirat nanti?” si ustadz kali ini nada bicaranya mulai meninggi. Dan houding serta mimik mukanya seolah sangat menekankan kalimat ini. “kita tidak membawa oleh-oleh, tidak membawa pakaian, tidak pula membawa kendaraan, apalagi deposito kita di bank…. Tidak! Sekali lagi tidak! Justru yang kita bawa hanyalah amal perbuatan kita selama berada di dunia, tempat kita merantau. Jika amalan kita baik, maka bahagialah kita saat mudik. Jika ternyata amalan kita jelek, maka pantaslah jika di dalam kubur kita terhimpit. Saudaraku, bukanlah terlarang kita mengejar dunia… tetapi, jadilahlah ia sebagai cara untuk kita beramal sebaik dan sebanyaknya untuk mendapatkan mudik yang berkah…”

Deposito akhirat

Kalau dalam hadits yang sering juga kita dengar, bahwa ada amalan tertentu yang pahalanya akan tetap mengalir meski hayat tak lagi di kandung badan. Dia adalah ilmu yang manfaat, shadaqah jariyah dan do’a anak-anak yang shalih. Menurut saya, rata-rata usia manusia tak lebih dari 70 tahun di dunia ini. Maka dengan usia sesingkat itu, mengupakan amal yang terus mengalir melebihi usia kita adalah salah satu cara menutupi kekurangan bekal kita di kampung akhirat. Saya menyebutnya amal kontinyu. Semacam deposito akhirat yang terus bisa kita manfaatkan meskipun kita tidak “nabung” lagi.

Teman saya Abay Abu Hamzah, yang juga seorang ustadz, sering sekali berujar. “sebagian besar manusia itu mati hanya meninggalkan tiga baris sejarah hidupnya. Namanya, fulan bin fulan; tanggal lahirnya dan tanggal matinya. Selain itu, tidak ada. Tapi, bagi orang-orang yang serius mencatat sejarah dirinya di dunia ini haruslah beramal memberi manfaat dan melakukan perubahan terhadap sekitarnya. Jika tidak, sejarah kita hanya akan berakhir pada tiga baris tadi”. Saya sepakat dengan beliau. Karena kita harus sadar, bahwa sebagian besar kita saat ini hanya berupaya untuk memenuhi kebutuhan pribadi saya. Tanpa mementingkan amal social yang ternyata memiliki dimensi lebih kuat dan berlaku lebih tua dari usia kita. Dan amal kontinyu yang saya ungkap di atas berkaitan erat dengan ini.

Sebagai contoh, ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang tidak terbatas pada diri sendiri saja. Melainkan ilmu itu dibagi melalui diskusi, ceramah, tulisan di Koran, buku, blog, status, tweet dan lain-lain. Sepanjang orang merasakan, mengamalkan lalu menyampaikan ilmu itu kepada orang lain, pahalanya akan terus mengalir tiada henti. Saya bisa bayangkan betapa berlimpahnya pahala para da’I, ulama dan penulis di masa lalu.

Lalu shadaqah Jariyah, ini juga amal social. Meski motivasi utamanya adalah untuk amal kontinyu kita di akhirat, tapi dimensinya masih berada pada dimensi social. Berapa banyak orang yang terbantu dengan adanya jembatan yang kita buat dan biayai pembuatannya. Atau berapa banyak orang yang nyaman beribadah di masjid yang ada peran kita dalam mendirikannya. Termasuk dengan banyaknya santri yang memahami agama di pesantren atau madrasah yang kita bangun. Karena dimensinya sangat luas, tentu mereka yang melakukan shadaqah jariyah mendulang berlimpah pahala.

Sama dengan investasi amal kita berupa anak-anak yang shalih. Pelajaran dan pendidikan kita saat mereka dalam bimbingan kita, membuat mereka mau mendoakan kita setiap dia shalat. Dan kabar baiknya, doa itu diijabah oleh Allah. Intinya sih, tiga amal kontinyu ini adalah deposito yang sangat-sangat menjanjikan. Tinggal dipilih dan di pikirkan amal mana yang kira-kira bisa kita kerjakan. Semua bisa kita kerjakan secara bersamaan. Di akhirat kita mendapatkan hasilnya berupa pahala, di dunia sejarah akan mencatat kita sebagai manusia yang memberi manfaat kepada lingkungan sekitar kita.

Saatnya mudik…

“jika mudik ke kampung akhirat, harus mati dulu dong?”. Iya bos, benar sekali. Kematian adalah gerbang tol menuju kampung kita. Jika tidak mati, kita tidak bisa pulang. Tapi, sebagian besar orang banyak pula yang takut menghadapi kematian. Kenapa mesti takut? Toh kita semua pastiakan mati. Setuju atau tidak setuju, kita tetap mati. Ya khan?. Kalaulah kita harus hidup selamanya, gak enak juga. Bayangin, kalau semua orang mati tapi kita masih hidup. Ya tidak seru, tidak asik dan sepi. Justru, kematian itu sebenarnyai fitrah untuk semua manusia. Dan kematian harus dihadapi dengan optimisme yang besar. Tentu kita tidak boleh melupakan amal ibadah kita di dunia. Agar nanti di akhirat kita tidak pulang dengan tangan kosong.

Pembahasan ini memang sudah terlalu telat jika dibandingkan dengan masa mudik yang telah habis. Tapi, jika mengaitkannya dengan mudik sejati kita ke kampung akhirat, tema ini tidak pernah habis. Karena semua kita pasti mudik. Kita memang tidak boleh merasa aman dengan amal ibadah kita. Walau begitu, rasa optimis untuk mendapatkan kebaikan di akhirat nanti tidak boleh luntur. Maka kita harus siap dong untuk mudik ke kampung akhirat…