Para petugas Komisi Anti-Diskriminasi Daerah Utara telah meluncurkan sebuah penyelidikan, kantor berita NT News melaporkan.
Bertindak sebagai komisaris, Lisa Coffey menolak untuk membahas kasus tersebut – atau bahkan mengiyakan bahwa sebuah keluhan telah diajukan.
Namun dipercaya bahwa seorang dokter meminta wanita muda tersebut untuk melepaskan jilbabnya selama wawancara untuk sebuah pekerjaan administrasi di Rumah Sakit Royal Darwin.
Ia menolak – dan mengajukan keluhan resmi.
Dokter tersebut dipercaya memilih seorang pengacara untuk mewakilinya.
Mendiskriminasi seseorang karena agamanya, hukumnya adalah ilegal.
Namun apakah bersikeras memaksa seorang wanita Muslim melepas jilbabnya adalah bersifat diskriminasi belum diujikan di Northern Territory.
Presiden Masyarakat Islam NT Adil Jamil mengatakan bahwa kurang dari 2 persen wanita di daerah itu memakai jilbab.
Ia mengatakan bahwa hal ini dianggap "menyinggung" untuk meminta seorang wanita melepas jilbab mereka.
"Ini melanggar kepercayaan agamanya," ia mengatakan.
"Ini dapat dengan serius menyakiti batin mereka sendiri.
"Di bawah pandangan Islam, seorang wanita tidak dapat membuka jilbab mereka kepada pria lain kecuali suaminya dan saudara-saudara lelaki."
Jamil mengatakan bahwa terdapat sekitar 2.000 Muslim di NT dari 23 negara.
Tiga perempat dari mereka adalah peninggalan Pakistan, Bangladesh dan Indonesia.
Jamil mengatakan bahwa sedikit dari wanita Territory yang mengenakan jilbab.
"Mereka melihat hal ini sebagai memaksakan kepercayaan keagamaan dan kepuasan batin," ia mengatakan.
Di belahan benua lainnya, AS, insiden serupa juga terjadi ketika seorang mahasiswi Muslim ditolak kerja di gerai makanan cepat saji McDonalds di Crooks Road.
Nasihah Barlaskar mengatakan bahwa ia melakukan wawancara kerja pada tanggal 27 Maret dan terkejut ketika seorang supervisor wanita kulit putih bertanya apakah maksudnya mengenakan "benda itu" di tempat kerja, merujuk pada jilbab yang dipakainya.
Direktur operasional McDonalds wilayah Michigan, Joan Rachelson, mengatakan bahwa rantai restoran itu memiliki kebijakan ketat yang melarang segala bentuk diskriminasi atau pelecehan dalam mempekerjakan, memberhentikan, atau aspek pekerjaan lainnya.
Barlaskar mengatakan bahwa ia membutuhkan pekerjaan itu untuk membiayai kuliah dan untuk membantu keluarga karena ayahnya kehilangan pekerjaan sebagai supir taksi pada musim gugur lalu. Namun Barlaskar mengetahui bahwa ia tidak mendapatkan pekerjaan itu ketika ia menelepon sang supervisor tiga hari kemudian.
"Ia mengatakan bahwa ia memutuskan untuk menerima orang lain tapi saya rasa saya telah didiskriminasi karena jilbab ini," ujar Barlaskar.
"Kami mendesak McDonalds untuk mengambil tindakan cepat menyesuaikan kebijakan ketenagakerjaannya dengan pedoman hukum yang telah lama ada tentang akomodasi relijius di tempat kerja," ujar Dawud Walid, direktur eksekutif CAIR-Michigan. (ppt/hs/sm) www.suaramedia.com
