Clinton mengatakan para teroris tersebut memang masih merupakan minoritas dalam masyarakat, namun perangkat komunikasi mereka semakin berkembang, memungkinkan mereka untuk berkoordinasi dan menjalin komunikasi dalam waktu singkat.
"Yang paling meresahkan kami adalah kemungkinan mereka menemukan materi-materi berbahaya di Internet. Misalnya, cara-cara merakit bom dan bahan peledak lainnya," kata Clinton sebagaimana dikutip oleh kantor berita CNN.
Sang mantan presiden juga memperingatkan mengenai meningkatnya gelombang ekstremisme dalam masyarakat Amerika dan semakin bertambahnya pengaruh dari kelompok bersenjata lokal. Menurutnya, atmosfer di AS saat ini mirip dengan yang terjadi pada 19 April 1995, ketika seorang teroris AS meledakkan bangunan pemerintah di Oklahoma dan menewaskan 168 orang.
Ledakan Oklahoma tersebut dilakukan oleh warga negara Amerika, Timothy James McVeigh, pada tahun 1995. McVeigh dihukum mati aparat AS pada tahun 2001, dan peristiwa Oklahoma tersebut dianggap sebagai salah satu serangan teroris terkejam sepanjang sejarah AS hingga peristiwa September 2001.
McVeigh meletakkan bahan peledak di dalam sebuah truk dan menggunakannya untuk meledakkan gedung, sebagian besar gedung itu hancur. Sebagian warga AS kala itu yakin bahwa serangan itu dilakukan kelompok Islam, namun, belakangan diketahui bahwa pelakunya adalah warga kristen AS sendiri.
Clinton, yang menjabat presiden AS saat pengeboman terjadi, mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan puncak dari operasi teroris yang dilakukan kelompok-kelompok ekstremis sejak awal dekade kesembilan abad lalu.
Dalam konteks terkait, Clinton mengatakan bahwa situasi dan kondisi politik ekonomi saat ini mirip dengan apa yang terjadi waktu itu. "Saat itu ada banyak stasiun radio radikal, tapi saat ini ada jutaan situs internet yang menawarkan gagasan semacam itu."
Dia menambahkan, "Saat ini ada banyak organisasi, dan pemikiran mereka bisa menyebar luas. Perbedaan politik di AS mungkin adalah permulaan perang sipil."
Dalam peringatan 15 tahun serangan teroris Oklahoma tersebut, Clinton memperingatkan bahwa kebangkitan kelompok-kelompok anti pemerintahan seperti Tea Party dapat melahirkan bahaya-bahaya yang serupa.
Timothy McVeigh sudah dieksekusi mati, namun rekaman suaranya akan kembali diperdengarkan dalam peringatan peristiwa tersebut.
Sebuah jaringan televisi kabel AS menyiarkan wawancara dengan McVeigh saat ia menunggu pelaksanaan hukuman mati.
"Saya akan bilang bahwa saya menyesalkan kerusakan berat yang terjadi dan ketidaktahuan saya bahwa ada banyak warga dalam bangunan (pemerintah) pada saat itu, seperti keamanan sosial dan FICA," kata McVeigh dalam rekaman itu. "Tapi, apakah saya merasa menyesal? Jawabannya tidak."
Peringatan tersebut memicu perdebatan mengenai sentimen anti pemerintahan yang merebak di AS saat ini.
Bill Clinton khawatir jika kelompok-kelompok pemrotes yang marah seperti Tea Party, yang semakin banyak, akan memberikan pengaruh yang serupa.
"Ada banyak hal yang telah dikatakan, mereka menciptakan suasana yang rentan akan kekerasan, karena mereka sudah kehilangan arah, sama seperti Timothy McVeigh, dan kemungkinan akan mengambil tindakan," katanya.
"Kita seharusnya menggelar banyak debat politik."
"Tidak ada orang yang selalu benar. Tapi, kita juga harus bertanggung jawab atas konsekuensi yang mungkin timbul dari ucapan kita."
Setelah menyampaikan kekhawatiran dua hari yang lalu, mantan presiden AS tersebut menjadi sasaran kritik kubu konservatif, termasuk pemandu acara talk show Rush Limbaugh.
"(Dengan) komentar ini, Anda baru saja meletakkan fondasi kekerasan di negara ini," kata Limbaugh. "Jika terjadi kekerasan setelah ini, maka semuanya adalah kesalahan Anda, Pak Clinton."
Kelompok-kelompok anti pemerintahan dan pro penggunaan senjata melakukan arak-arakan di Washington pada 19 April karena tanggal itu juga merupakan peringatan awal Perang Kemerdekaan Amerika.
"Kami hanya ingin mengingatkan para pejabat bahwa amandemen kedua merupakan hal yang penting bagi kami, dan kami tidak bersedia merelakan hak kami untuk tetap menyimpan senjata," kata Skip Coryell, pendiri Second Amandment March.
"Kami bahkan ingin mendapatkan kembali sebagian hak yang telah mereka (pemerintah) rampas."
Menurut Coryell, kemarahan mereka tidak akan berujung pada aksi kekerasan seperti yang terjadi pada dekade 1990-an.
Para pengunjuk rasa Tea Party membantah bahwa mereka memicu kekerasan, mereka juga menegaskan bahwa ada ketidaksepahaman mengenai kekuatan pergerakan.
Namun perwakilan Partai Republik, John McCain, memberikan perkiraan ketika ditanya mengenai temperamen para pemilih.
"Ada kemarahan dan rasa frustrasi di luar sana, dan tingkat (kemarahan dan frustrasi) itu belum pernah saya saksikan sebelumnya," ujar McCain.
"Jika orang-orang yang bekerja di sini (pemerintah) mengabaikan hal itu, maka mereka melakukan kesalahan serius." (dn/im/abc) www.suaramedia.com
