Seorang juru bicara NATO mengatakan helikopter tersebut jatuh pada malam hari di provinsi Zabul, sebelah tenggara Afghanistan, dan tidak ada rincian lebih lanjut yang diketahui terkait insiden tersebut, yang masih berada dalam penyelidikan.
Juru bicara pemerintah provinsi Zabul, Mohhamed Jahn Rasuliyar, awalnya mengatakan bahwa helikopter tersebut tampaknya ditembak jatuh, namun kemudian ia meralat ucapan itu dan mengatakan bahwa penyebab jatuhnya helikopter tersebut adalah "kesalahan teknis".
Dia mengatakan, lokasi jatuhnya helikopter terletak 7 mil (11 kilometer) dari ibu kota provinsi Zabul, Qalat, lebih jauh dari yang awalnya dilaporkan. Dia menambahkan bahwa menurut laporan, ada empat orang awak helikopter yang tewas, ia tidak mengetahui jenis helikopter yang jatuh.
Qari Yusuf Ahmedi, seorang juru bicara gerakan Taliban, yang aktif di wilayah tersebut, mengatakan bahwa Taliban telah menembak jatuh helikopter tersebut pada tengah malam.
Kantor berita Barat, AFP, mengatakan bahwa klaim Taliban tersebut tidak dapat dikonfirmasikan secara independen, dan Taliban memiliki sejarah klaim palsu dan dibesar-besarkan untuk mengusir pasukan asing dari Afghanistan.
Helikopter umumnya sering dipergunakan oleh NATO dan Afghanistan untuk mengirimkan pasokan terhadap para prajurit yang tersebar di desa bergunung-gunung yang tidak banyak memiliki jalan.
Kantor berita AFP menyebutkan, jumlah pasukan asing yang jatuh tidak banyak, meski ditembaki Taliban dan menghadapi kondisi sulit. AFP menambahkan, sebagian besar kecelakaan diakibatkan oleh masalah pemeliharaan atau faktor-faktor lain, seperti debu.
Karena tidak memiliki banyak bazooka dan senjata anti pesawat lainnya, Taliban amat bergantung pada senjata mesin dan peluncur roket untuk menghadapi helikopter saat berada dalam keadaan rentan, yakni saat melakukan pendaratan dan mengudara.
Salah satu kehilangan nyawa terberat yang dialami pasukan sekutu terjadi pada tanggal 28 Juni 2005, ketika ada 16 orang prajurit AS yang tewas saat menumpangi helikopter Chinook MH-47 pengangkut pasukan khusus yang ditembak jatuh oleh gerilyawan.
Karena kewalahan menghadapi Taliban, bulan Maret lalu pemimpin misi PBB di Afghanistan menyerukan agar diambil solusi politik untuk berurusan dengan Taliban. Ia mengatakan bahwa sudah waktunya ditemukan solusi politik dengan Taliban untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan yang telah berlangsung selama lebih dari delapan tahun tersebut.
Dalam sebuah konferensi pers dalam kapasitasnya sebagai perwakilan PBB untuk Afghanistan, Kai Eide pada tanggal 4 Maret lalu mengatakan bahwa sudah waktunya bagi mereka untuk berbicara dengan Taliban.
Eide berharap bahwa pertemuan dengan Taliban akan berujung pada konsensus nasional untuk menciptakan perdamaian.
Eide juga mengatakan bahwa dirinya akan terus mendorong dilakukannya reformasi elektoral menyusul dekrit Hamid Karzai yang memberikan kekuasaan kepada pemerintah Afghanistan untuk menunjuk anggota Komisi Keluhan Pemilu yang dulunya independen.
Eide merupakan salah satu pejabat internasional yang mengetahui tentang rencana pembebasan salah satu petinggi Taliban secara rahasia oleh Presiden Hamid Karzai pada akhir tahun lalu.
Akbar Agha divonis 16 tahun penjara atas tuduhan penculikan tiga orang staf PBB di ibu kota Afghanistan, Kabul, pada tahun 2004.
Kepada kantor berita BBC, seorang rekan Agha mengatakan bahwa Agha mendapatkan grasi dari Presiden Hamid Karzai. Namun, juru bicara presiden mengatakan bahwa sang presiden tidak ingat pernah melakukan itu.
Para staf PBB tersebut tercatat sebagai orang-orang asing pertama yang pernah diculik di Kabul.
Satu orang di antaranya adalah wanita asal Irlandia Utara, dua orang lainnya berjenis kelamin pria dan berasal dari Kosovo dan Filipina.
Mereka dibebaskan setelah hampir satu bulan disandera.
Akbar Agha menggunakan penculikan tersebut untuk meluncurkan kelompok pecahan Talban, Jaish-ul-Muslimin atau Laskar Muslim. (dn/nd/sm) www.suaramedia.com
