+ResistNews Blog - Sekelompok peneliti AS yang baru kembali dari Myanmar mengatakan bahwa Muslim Rohingya tengah menghadapi krisis kemanusiaan terburuk dan terancam genosida.
Peneliti dari Center for the Prevention of Genocide mengunjungi Myanmar, Maret 2015, untuk menyelidiki kondisi Muslim Rohingya dan ancaman yang dihadapi.
Mereka menuliskan dan merilis laporan hasil kunjungan baru-baru ini. Menurut mereka, Muslim Rohingya kerap menjadi topik pidato kebencian para politisi dan pejabat, dan menderita akibat pembatasan bergerak.
“Kami meninggalkan Myanmar dengan perasaan sangat prihatin,” tulis peneliti itu.
“Begitu banyak prasyarat untuk genosida terhadap Muslim Rohignya. Myanmar punya sejarah genosida. Kebencian dan ketakutan terhadap minoritas Rohingya telah meresap ke dalam darah.”
Muslim Rohingya, masih menurut laporan peneliti, dipastikan akan menjadi sasaran kekejaman massa dan genosida sekali lagi.
Ada satu cara menghindari kemungkinan ini, yaitu mendesak pemerintah Myanmar mengadopsi berbagai langkah. Salah satunya, mengakhiri kebijakan diskriminatif terhadap Muslim Rohingya.
Peneliti juga mendesak masyarakat internasional mendirikan kantor Komisi Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia di Myanmar, dan mempersiapkan sanksi untuk penyandang dana dan penyelenggara anti-Rohingya dan kekerasan terhadap Muslim. (inilah/lasdipo/ +ResistNews Blog )
