-->

Tanggapi Petisi Umat, ISIS Minta Fatwa Sikapi Kelompok Anti Syariat Islam



+ResistNews Blog - Rilis Mubadarotul Ummah (Petisi Umat) yang digagas oleh Syaikh Abdullah Al-Muhaisini mendapat tanggapan dari ISIS (Islamic State of Iraq and Sham). Kelompok pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi itu menyatakan agar diselesaikannya fatwa mensikapi kelompok sekuler yang menghadang penegakan syariat Islam di Suriah.

“Kami meminta penggagas petisi ini untuk berkomitmen dalam dua hal,” kata ISIS dalam pernyatannya pada Senin (27/1/2014), sebagaimana dirilis Mu’assasah Al-I’tisham dalam akun twiternya. “Pertama, penjelasan menurut syar’I mensikapi manhaj-manhaj yang menentang penegakan syariat Islam di bumi Syam, seperti demokrasi, sekuler dan juga kelompok yang mendukungnya.” “Termasuk mereka yang mendeklarasikan (Suriah sebagai) negara yang tidak berhukum syariat Allah.”

“Kedua, penjelasan menurut syar’I terkait sikap terhadap Pemerintah di sekitar Syam, seperti Yordania, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab dan Turki.” Termasuk juga kelompok-kelompok yang bekerja untuk intelijen Amerika dan Prancis. “Pemerintah dan dinas intelijen ini membantu melancarkan proyek jahat di negeri Syam,” lanjutnya.

Bagi ISIS, jika landasan syar’I terhadap dua hal di atas telah ditetapkan dan diumumkan, maka prosedur hukum selanjutnya akan terlaksana dengan mudah—atas ijin Allah. “Kami menilai penjelasan sikap tersebut wajib diketahui dalam masa-masa rawan yang dihadapi oleh kelompok jihad yang bertempur di jalan Allah,” lanjutnya.

Dalam penjelasan tersebut ISIS juga menolak anggapan bahwa pertikaian yang terjadi selama ini adalah pertikaian sesama kelompok mujahidin. Tetapi, konflik yang terjadi selama ini, bagi ISIS, adalah perseteruan antara kelompok pendukung syariat Islam dengan faksi-faksi yang menolaknya. “Apakah mereka pantas disebut mujahid di jalan Allah dan pertempuran melawan mereka adalah pertempuran fitnah?”

Rilis tersebut diakhiri dengan penegasan sikap ISIS yang akan memerangi kelompok manapun yang menyerang mereka. Namun, “Kami juga menegaskan akan menahan diri dari mereka yang mengangkat senjata memerangi kami, meskipun dosa mereka terhadap kami sangat besar. Ini semua demi menjaga darah dan melaksanakan seruan pemimpin kami (Abu Bakar Al-Baghdadi) yang diserukannya pada pidatonya baru-baru ini, sehingga semua konsentrasi hanya untuk memerangi musuh penjahat Nushairi.”

Tampaknya, bagi ISIS kedua hal di atas adalah sumber masalah yang selama ini menyelimuti faksi-faksi mujahidin. Selama itu belum jelas, akan tetap terjadi kesalahpahaman, di mana penyerangan terhadap kelompok anti syariat dianggap sebagai penyerangan terhadap faksi mujahidin. Apalagi, di celah inilah Barat dan kelompok anti Al-Qaidah gencar memainkan propaganda memburukkan citra mereka.

Namun, sikap ISIS yang akan focus menghadapi rezim Asad dan menahan diri dari kelompok lain—selama tidak diserang—merupakan pilihan bijak, yang diharapkan akan memperkecil api perselisihan dan kesalahpahaman di antara sesama faksi penegak syariat Islam di bumi Syam. [kiblat.net/ +ResistNews Blog ]