-->

Mashadi : Saya Sudah Tidak Berharap Lagi Dengan Demokrasi

+ResistNews Blog - Seminar Pelatihan Militer dalam perspektif Islam yang diselenggarakan oleh Tsaurah Instute di gedung Sucofindo, Jl. Pasar Minggu Kav.34 Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2013) berjalan dengan lancar.
 Seminar yang dihadiri sekitar 20 tokoh dan 40 aktivis Islam di Jakarta itu menghadirkan nara sumber Dr. Amir Mahmud, Dosen UMS Surakarta, seorang pengamat pergerakan yang pernah melakukan i’dad dan jihad di Afghanistan; Koordinator TPM Ahmad Michdan, dan Anggota Majelis Syariat JAT ustadz Fuad al Hazimi.
Salah satu tokoh yang menghadiri acara tersebut adalah Ustadz Said Sungkar, beliau menyampaikan pesan Syeikh Abdullah Azzam saat beliau berada di Afghanistan, “Untuk Mujahidin Indonesia, sekiranya telah pulang ke negaranya, janganlah melupakan Jihad. Jihad Afghan dibiayai oleh umat, seandainya kalian pulang ke Indonesia namun melupakan Jihad, Demi Allah saya akan tuntut kalian di Padang Mahsyar
Koordinator TPM Ahmad Michdan memberikan penjelasan mengenai pelatihan militer dalam perspektif hukum di negeri ini, beliau menjelaskan, “ hari ini i’dad dianggap kegiatan terorisme, padahal perintah i’dad ada dalam al-Qur’an, diantaranya QS Al-Hajj ayat 39. Dan negara ini merdeka karena Jihad. Kegiatan Islam dalam rangka menghimpun kekuatan seharusnya bukan dikatagorikan sebagai tindakan terorisme.
Mashadi, selaku Editor in Chief voa-islam memberikan testimoninya mengenai harapan dalam Demokrasi, ”saya sudah tidak berharap lagi masuk dalam parlemen, bagi saya Demokrasi sudah tidak bisa diharapkan.”
Acara ini berdecak haru ketika menyinggung Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, pesan beliau disampaikan didalam seminar tersebut, “jangan fikirkan saya, fikirkanlah umat Islam dan tegaknya agama ini.”
Rekomendasi Seminar
Di akhir Seminar dibuat rekomendasi yang ditandatangani para nara sumber dan para tokoh yang hadir lalu diikuti seluruh peserta seminar.  Rekomendasi  hasil seminar selengkapnya adalah sebagai berikut:
1. Islam menghendaki umatnya agar memiliki ketangguhan, kedisiplinan, kemandirian dan kekuatan sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Alloh dari pada mukmin yang lemah.
2. Dalam istilah modern disebut wajib militer untuk mempertahankan kewibawaan negara dari rongrongan pihak asing, ada sekitar 40 negara di dunia yang memberlakukan wajib militer termasuk di dalamnya Malaysia, Iran dan Israel.
3. Dalam istilah Islam disebut syariat jihad, dimana syariat  jihad diperintahkan untuk menjaga agama, jiwa, keturunan, akal dan harta agar tidak dirampas oleh orang-orang yang dzalim dan dalam rangka menghapus kedzaliman mewujudkan keadilan.
4. Syariat jihad wajib dilaksanakan oleh setiap muslim sebagaimana syariat-syariat yang lain seperti sholat, shaum dan haji. Karena itu melaksanakan syariat jihad merupakan hak asasi setiap muslim untuk menjalankan syariatnya sebagaimana juga dijamin oleh negara.
5. Kesempurnaan pelaksanaan syariat jihad bagi setiap muslim tidak bisa dilepaskan dengan pelatihan militer atau i’dad, sebagimana tidak bisa dipisahkan antara bersuci dengan sholat.
6. Tindakan represif aparat Densus 88/BNPT terhadap umat Islam yang sedang menjalankan i’dad dengan tuduhan terorisme merupakan bentuk kriminalisasi dan pelecehan terhadap syariat serta pelanggaran terhadap hak asasi setiap muslim untuk menjalankan syariat-Nya.
7. Tuduhan terorisme terhadap umat islam yang sedang menjalankan syariat i‘dad telah direkayasa sedemikian untuk mendapatkan justifikasi pemenjaraan dan bahkan pembunuhan bagi pelakunya, maka kami menyatakan bahwa aparat Densus 88/BNPT wajib bertanggungjawab atas pelanggaran terhadap hak asasi umat islam yang telah dijamin oleh negara.
[al-mustaqbal.net/ +ResistNews Blog ]