ResistNews - Jumlah Pelajar dan Mahasiswa Indonesia yang
menuntut ilmu di China tiap tahunnya terus meningkat. Saat ini jumlahnya
telah mencapai 10.957, mereka tidak hanya belajar bahasa Mandarin saja
tetapi juga berbagai bidang studi untuk memperoleh gelar sarjana atau
pascasarjana.
Menurut Informasi Kementrian Pendidikan China, jumlah mahasiswa
Indonesia di China pada 2011 lalu menempati peringkat tujuh di bawah
mahasiswa Rusia yang menempati peringkat enam. Namun, masih lebih banyak
dibandingkan mahasiswa dari Perancis ataupun Jerman yang berada di
bawah 10 besar terbanyak di China. Sedangkan peringkat satu sampai tiga
terbanyak di China masih dipegang oleh mahasiswa dari Korea Selatan,
Amerika Serikat dan Jepang yang justru dari Negara maju.
“Minat mahasiswa Indonesia, serta mahasiswa asing dari negara lainnya untuk belajar ke China makin besar setiap tahunnya. Hal ini bisa dipahami, karena selain biaya terjangkau, mutu pendidikan, fasiltas laboratorium dan kampus, kemajuan dan perkembangan pesat China juga makin banyaknya program studi gelar yang menggunakan bahasa pengantar Inggris ,”ungkap Ir.Samuel Wiyono MBA, dari
Beijing Language & Culture Institute (BLCI) ketika ditemui di kantornya di bilangan Mangga Dua Square, Jakarta, kemarin.
BLCI sebagai Lembaga Pendidikan Bahasa Mandarin yang membantu pelajar Indonesia belajar di China sejak tahun 2004, kembali menggelar Pameran Pendidikan China ke-14 (14th China Education Fair) di tiga kota sekaligus, yakni pada 21-22 April di Mangga Dua Square, Jakarta, 25-26 April di Hotel Fave Denpasar Bali dan 28-29 April di Hotel Tunjungan, Surabaya. “Demi kemudahan para siswa nantinya, kami dari BLCI juga akan mengantar para siswa sampai di asrama di China,”jelasnya.
Pameran Pendidikan ini merupakan yang terbesar dan terlengkap, karena rencananya diikuti 24 perguruan tinggi dan sekolah dari 16 kota besar di China, termasuk dari Beijing, Shanghai dan Guangzhou serta beberapa kota besar China yang menyandang gelar sebagai “Kota Pelajar”.
Dalam pameran pendidikan yang dilengkapi dengan sejumlah penterjemah bahasa bagi pengunjung ini menyajikan berbagai ragam pendidikan, mulai dari belajar bahasa Mandarin saja, studi tour, sekolah Menengah (SMP/SMU), Foundation, Diploma, Gelar Sarjana S1 ataupun Pascasarjana S2, baik yang menggunakan pengantar bahasa Mandarin maupun Inggris.
Selain gelar Sarjana dan Pascasarjana dari universitas pemerintah China, sejumlah perguruan tinggi menawarkan gelar universitas dari Australia, Inggris, atau Amerika Serikat, baik seluruhnya ditempuh di China atau beberapa tahun terakhir di Amerika, Inggris, Australia ataupun Kanada. Bahkan, beberapa perguruan tinggi menawarkan program sertifikasi professional Akutansi ACCA (Australia) ataupun CGA (Kanada), yang seluruh perkuliahannya dilaksanakan di China
Diantara perguruan tinggi tersebut tidak hanya menerima lulusan SMU saja untuk jenjang gelar Sarjana, tetapi juga menerima siswa SMU kelas 2 ataupun O level dalam kelas foundation. Sedangkan bagi lulusan SMU, IB Diploma, A level atau mahasiswa transfer yang memenuhi syarat dapat langsung ke tahun ke 2 jenjang gelar Sarjana di beberapa perguruan tinggi yang hadir dalam pameran tersebut.
Ia menjelaskan hampir seluruh program studi (prodi) gelar Sarjana S1 ataupun Pascasarjana, yang mendukung industri unggulan China ditawarkan dengan menggunakan pengantar bahasa Inggris, disamping mengunakan pengantar Mandarin. Prodi berbahasa Inggris tersebut antara lain: bisnis, keuangan, akuntansi, kedokteran dan berbagai bidang teknik, mulai dari arsitektur hingga teknik pembuatan pesawat terbang dan luar angkasa. Bahkan beberapa diantaranya menawarkan kesempatan magang atau kerja praktek seperti pada prodi perhotelan atau teknik di perusahaan terkenal .
Dengan banyaknya prodi yang menggunakan bahasa Inggris, mahasiswa asing yang belum dapat berbahasa Mandarin tetap dapat langsung kuliah ke jenjang gelar, tanpa harus belajar bahasa Mandarin dahulu, jadi waktu kuliahnya lebih singkat. Apalagi bila perguruan tinggi yang bersangkutan juga memberikan pelajaran bahasa Mandarin dalam kurikulumnya atau ekstra kurikuler, sehingga diharapkan lulusannya mampu menguasaI dua bahasa asing sekaligus, Mandarin dan Inggris.
Mengenai uang kuliah di Negara Panda itu, Samuel menjelaskan uang kuliah bervariasi mulai dari Rp 18 jutaan/tahun sampai Rp 45 jutaan per tahun di perguruan tinggis milik Pemerintah China yang berstandar internasional. Sedangkan perguruan tinggi yang memberikan gelar dari universitas Inggris, Australia atau Amerika, uang kuliahnya lebih tinggi, tetapi tetap biaya totalnya lebih murah kuliah dibandingkan langsung di negara bersangkutan.
“Total biaya kuliah itu tetap jauh lebih rendah dibandingkan langsung dan seluruhnya kuliah di Inggris, Australia,Kanada atau Amerika. Apalagi bila mengingat manfaat dapat menguasai 2 bahasa asing yakni bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sekaligus walaupun mendapatkan ijasah dari Inggris, Australia ataupun Amerika,”jelasnya.
Hal yang sangat menarik dari pameran pendidikan ini adalah adanya penawaran beragam beasiswa bagi pelajar Indonesia. Baik itu beasiswa yang hanya untuk belajar bahasa Mandarin saja ataupun jenjang gelar Sarjana hingga Pascasarjana. Beasiswa tersebut meliputi beasiswa asrama, beasiswa provinsi, beasiswa langsung (bursary) ataupun beasiswa lainnya jika mendaftar pada saat pameran untuk perguruan tinggi tertentu.
“Dengan banyaknya tawaran beasiswa, maka diharapkan pelajar Indonesia mendapat banyak kesempatan dan pilihan untuk bisa menuntut lebih tinggi di China,”ujar Samuel [trib]
“Minat mahasiswa Indonesia, serta mahasiswa asing dari negara lainnya untuk belajar ke China makin besar setiap tahunnya. Hal ini bisa dipahami, karena selain biaya terjangkau, mutu pendidikan, fasiltas laboratorium dan kampus, kemajuan dan perkembangan pesat China juga makin banyaknya program studi gelar yang menggunakan bahasa pengantar Inggris ,”ungkap Ir.Samuel Wiyono MBA, dari
Beijing Language & Culture Institute (BLCI) ketika ditemui di kantornya di bilangan Mangga Dua Square, Jakarta, kemarin.
BLCI sebagai Lembaga Pendidikan Bahasa Mandarin yang membantu pelajar Indonesia belajar di China sejak tahun 2004, kembali menggelar Pameran Pendidikan China ke-14 (14th China Education Fair) di tiga kota sekaligus, yakni pada 21-22 April di Mangga Dua Square, Jakarta, 25-26 April di Hotel Fave Denpasar Bali dan 28-29 April di Hotel Tunjungan, Surabaya. “Demi kemudahan para siswa nantinya, kami dari BLCI juga akan mengantar para siswa sampai di asrama di China,”jelasnya.
Pameran Pendidikan ini merupakan yang terbesar dan terlengkap, karena rencananya diikuti 24 perguruan tinggi dan sekolah dari 16 kota besar di China, termasuk dari Beijing, Shanghai dan Guangzhou serta beberapa kota besar China yang menyandang gelar sebagai “Kota Pelajar”.
Dalam pameran pendidikan yang dilengkapi dengan sejumlah penterjemah bahasa bagi pengunjung ini menyajikan berbagai ragam pendidikan, mulai dari belajar bahasa Mandarin saja, studi tour, sekolah Menengah (SMP/SMU), Foundation, Diploma, Gelar Sarjana S1 ataupun Pascasarjana S2, baik yang menggunakan pengantar bahasa Mandarin maupun Inggris.
Selain gelar Sarjana dan Pascasarjana dari universitas pemerintah China, sejumlah perguruan tinggi menawarkan gelar universitas dari Australia, Inggris, atau Amerika Serikat, baik seluruhnya ditempuh di China atau beberapa tahun terakhir di Amerika, Inggris, Australia ataupun Kanada. Bahkan, beberapa perguruan tinggi menawarkan program sertifikasi professional Akutansi ACCA (Australia) ataupun CGA (Kanada), yang seluruh perkuliahannya dilaksanakan di China
Diantara perguruan tinggi tersebut tidak hanya menerima lulusan SMU saja untuk jenjang gelar Sarjana, tetapi juga menerima siswa SMU kelas 2 ataupun O level dalam kelas foundation. Sedangkan bagi lulusan SMU, IB Diploma, A level atau mahasiswa transfer yang memenuhi syarat dapat langsung ke tahun ke 2 jenjang gelar Sarjana di beberapa perguruan tinggi yang hadir dalam pameran tersebut.
Ia menjelaskan hampir seluruh program studi (prodi) gelar Sarjana S1 ataupun Pascasarjana, yang mendukung industri unggulan China ditawarkan dengan menggunakan pengantar bahasa Inggris, disamping mengunakan pengantar Mandarin. Prodi berbahasa Inggris tersebut antara lain: bisnis, keuangan, akuntansi, kedokteran dan berbagai bidang teknik, mulai dari arsitektur hingga teknik pembuatan pesawat terbang dan luar angkasa. Bahkan beberapa diantaranya menawarkan kesempatan magang atau kerja praktek seperti pada prodi perhotelan atau teknik di perusahaan terkenal .
Dengan banyaknya prodi yang menggunakan bahasa Inggris, mahasiswa asing yang belum dapat berbahasa Mandarin tetap dapat langsung kuliah ke jenjang gelar, tanpa harus belajar bahasa Mandarin dahulu, jadi waktu kuliahnya lebih singkat. Apalagi bila perguruan tinggi yang bersangkutan juga memberikan pelajaran bahasa Mandarin dalam kurikulumnya atau ekstra kurikuler, sehingga diharapkan lulusannya mampu menguasaI dua bahasa asing sekaligus, Mandarin dan Inggris.
Mengenai uang kuliah di Negara Panda itu, Samuel menjelaskan uang kuliah bervariasi mulai dari Rp 18 jutaan/tahun sampai Rp 45 jutaan per tahun di perguruan tinggis milik Pemerintah China yang berstandar internasional. Sedangkan perguruan tinggi yang memberikan gelar dari universitas Inggris, Australia atau Amerika, uang kuliahnya lebih tinggi, tetapi tetap biaya totalnya lebih murah kuliah dibandingkan langsung di negara bersangkutan.
“Total biaya kuliah itu tetap jauh lebih rendah dibandingkan langsung dan seluruhnya kuliah di Inggris, Australia,Kanada atau Amerika. Apalagi bila mengingat manfaat dapat menguasai 2 bahasa asing yakni bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sekaligus walaupun mendapatkan ijasah dari Inggris, Australia ataupun Amerika,”jelasnya.
Hal yang sangat menarik dari pameran pendidikan ini adalah adanya penawaran beragam beasiswa bagi pelajar Indonesia. Baik itu beasiswa yang hanya untuk belajar bahasa Mandarin saja ataupun jenjang gelar Sarjana hingga Pascasarjana. Beasiswa tersebut meliputi beasiswa asrama, beasiswa provinsi, beasiswa langsung (bursary) ataupun beasiswa lainnya jika mendaftar pada saat pameran untuk perguruan tinggi tertentu.
“Dengan banyaknya tawaran beasiswa, maka diharapkan pelajar Indonesia mendapat banyak kesempatan dan pilihan untuk bisa menuntut lebih tinggi di China,”ujar Samuel [trib]
