-->

Skandal Seks Sesama Jenis, Ketua Parlemen Australia Mundur


Peter Slipper (Telegraph)
ResistNews - Skandal seks sesama jenis menerpa ketua parlemen Australia Peter Slipper. Gara-gara skandal tersebut, pria berumur 62 tahun itu menyatakan mundur dari jabatannya sembari menunggu persidangan kasusnya.

Slipper yang telah menikah itu, dituntut oleh seorang mantan stafnya, James Ashby atas tuduhan pelecehan seksual. Asbhy, seorang pria berumur 33 tahun itu mengaku dirinya kerap menerima pesan singkat tidak senonoh, pendekatan-pendekatan seks tak diinginkan dan komentar-komentar mesum dari Slipper antara Januari dan Maret tahun ini.

Slipper saat ini juga sedang menjalani penyelidikan kepolisian atas tuduhan penyalahgunaan anggaran subsidi layanan taksi. Slipper telah membantah semua tuduhan tersebut namun akan tetap menjalani proses hukum. Pada Minggu, 22 April waktu setempat, Slipper pun mengumumkan pengunduran dirinya sementara penyelidikan kasus ini berlangsung.

"Tuduhan itu termasuk tindakan kriminal dan bisa dikenai hukum sipil. Karena itu, sebaiknya saya mundur dari jabatan ketua parlemen hingga persoalan hukum ini selesai," tutur Slipper seperti dilansir News.com.au, Senin (23/4/2012).

"Tuduhan itu tidak benar. Setelah semua penyelidikan selesai dan kebenaran terungkap, saya akan kembali bertugas sebagai ketua parlemen. Saya sangat menghormati pihak-pihak yang terlibat dalam masalah ini dan sangat berharap agar ini cepat selesai," tegasnya.

Dalam dokumen persidangan yang dirilis hari ini, Ashby menuduh Slipper "menggunakan posisinya untuk mengejar hubungan seks dengan pegawai pria muda".

Ashby yang terang-terangan mengaku sebagai gay, menuding pemerintah tahu bahwa pada tahun 2003, Slipper melakukan hubungan seks dengan seorang staf prianya yang lebih muda. Ashby menuding pemerintah gagal mengambil tindakan efektif dan bertanggung jawab untuk mencegah Slipper menggunakan kekuasaannya untuk melakukan hubungan seks dengan para staf pria.

Ashby mengajukan tuntutan hukum berdasarkan undang-undang kesetaraan kerja. Dalam tuntutannya, Ashby menuntut kompensasi dan adanya perintah bagi Slipper untuk menjalani konseling dan pelatihan tentang hukum antidiskriminasi. (ita/nrl/dtk)