Menurut Anggota Komite Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), Qoyum Tjandranegara, ini namanya 'mau untung tapi buntung'. Orang malah banyak mempermasalahkan soal turunnya produksi minyak Indonesia,
"Tapi hampir tidak ada orang mempermasalahkan gas bumi yang diekspor hampir mencapai 800.000 barel setara minyak per hari dengan harga hanya 55% dari hari bahan bakar minyak (BBM)," ungkap Qoyum dalam makalahnya berjudul 'Ekspor Gas Bumi & Lifting Minyak Dengan Gas Bumi Berakibat Negara Kehilangan Devisa' yang dikutip, Senin (23/4/2012).
Diungkapkan Qoyum, ekspor gas bumi mencapai 800 ribu barel setara minyak per hari itu dalam setahun membuat negara merugi sekitar Rp 183 triliun.
"Tapi buktinya tidak ada yang menggugat kondisi tersebut. Kenapa bisa Rp 183 triliun? Dari mana angka itu? Saya tidak asal ngomong!" tegas Qoyum.
Dijelaskannya, contoh nyata produksi gas bumi pada 2011 adalah 8.430 mmscfd (million standard cubic feet per day) setara dengan BBM 1,5 juta barel/hari. Sebanyak 53% diekspor atau setara dengan BBM 795.000 barel/hari.
"Dengan demikian dalam 1 tahun negara kehilangan devisa sebesar 795.000 barel x 365 hari x 45% (harga 1 liter BBM) x 1,4 x US$ 111/barel x Rp 9.000/US$ = Rp 183 triliun," ungkap Qoyum.
Qoyum bilang setiap 1 liter setara BBM Gas Bumi diekspor, sebagai gantinya dibutuhkan 1 liter BBM impor.
"Jadi harga gas bumi 55% harga 1 liter BBM sehingga untuk membeli 1 liter BBM, negara ini kehilangan devisa sebesar 45% harga 1 liter BBM. Di samping gas bumi lebih murah, juga lebih bersih lingkungan dan lebih efisien 10-30%," jelasnya.
"Toh melihat keadaan seperti itu di depan mata, tidak ada yang mempermasalahkannya sama sekali, ekspor gas bumi terus terjadi," tandasnya. (rrd/dnl/dtk)
