oleh : Kaab As-Sidani
Editor in Chief
Shoutussalam Islamic Media
Liberalisme memang tidak akan pernah berhenti menjadikan dunia ini di bawah pengaruh mereka. Terkhusus di Indonesia, dalam masalah kesetaraan gender, memasuki bulan April ini isu yang mereka bawa semakin intens. Hal ini terkait dengan hari Kartini, hari memperingati seorang wanita Jawa yang disebut-sebut oleh kaum feminis sebagai pelopor mereka di Indonesia.
UU Perkawinan menjadi objek yang mereka sasar. Hizbut Tahrir Indonesia di 2011 menyebutkan bahwa RUU Kesetaraan Gender merupakan ujung tombak yang dipersiapkan untuk meliberalisasi kehidupan berkeluarga di Indonesia. Lantas sebenarnya seberapa berbahayakah RUU ini ?
Rancangan Undang-undang Kesetaraan Gender
RUU ini (seperti disebutkan media online Hidayatullah) merupakan rancangan yang dipersiapkan oleh kaum feminis (melalui Kementrian Pemberdayaan Permpuan dan Perlindungan Anak) sejak lama. Entah mengapa RUU ini cukup sepi dari pemberitaan. Padahal RUU ini sudah ada di kementrian tersebut sejak 2010.
Sebenarnya jika membaca draf RUU tersebut akan terasa wajar-wajar saja dan bersifat sangat umum. Bisa dibilang RUU ini sebuah konsep yang ambigu dan mentah. Pernyataan ini diperkuat oleh Ledia Hanifa Amalia, anggota Komisi VIII dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). “RUU ini saya lihat masih mentah ya, sehingga belum dibahas dan belum sampai tahap rapat dengar pendapat, juga masih berbentuk draf,” ujarnya kepada Hidayatullah.
Namun mentah dan ambigunya konsep yang ditawarkn oleh RUU tersebut tidak membuat para alim, dai dan aktivis pejuang Islam diam saja. Konsep ini telah mengundang kecurigaan dari para pakar. Seperti dikutip dari Tempo.co, MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) menyebutkan pada Tabligh Akbar di Menteng (8/04/2012) bahwasanya RUU KG ini adalah produk liberal.
Henri Shalahuddin, dari INSIST menyebutkan :” RUU ini sangat kental dengan ideologi feminisme yang tidak ada hubungannya dengan pembangunan bangsa Indonesia yang bermartabat. Bahkan sebagiannya hanyalah terjemahan dari Convention on the Elimination of all forms of Discrimination Against Women (CEDAW). Misalnya tentang definisi diskriminasi terhadap perempuan.”
Dr Adian Husaini, Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), menganggap RUU KG sangat berbahaya. “Konsep Tuhan yang dipakai dalam RUU KG ini berpijak pada konsep Tuhan versi Iblis, diakui keberadaan-Nya tetapi utusan dan aturan-aturanNya ditolak atau dilawan,” kata Adian.
Meneladani Kartini ?
Abdul Moqsith Gazali dalam judul artikelnya yang terpampang dalam situs Islamlib.com pada tanggal 16 April 2007 menyebutkan dengan lantang seperti ini :”Dari Kartini Sampai Feminis Islam”. Sebuah kata-kata yang cukup mewakili bahwasanya Kartini dianggap oleh para pendukung gagasan feminisme sebagai pelopor mereka di Indonesia. Meskipun dalam judul tersebut dipakai embel-embel Islam, seperti halnya pemakaian embel-embel tersebut bagi “Liberalisme” (JIL).
Apakah benar Kartini merupakan pelopor feminisme Indonesia ? Sepertinya pertanyaan ini perlu dijawab dengan pikiran yang jernih dan objektif.

“Jadi Kartini harus diletakkan sebagai orang awam. Sebagai orang awam, dia akan ketemu apa saja, siapa saja dan dimana saja. Jadi itu posisi Kartini. Jadi jika sempat suatu data menyatakan Kartini ketemu orang-orang teosofi memang sangat wajar. Karena bupati saat itu memang dekat dengan tokoh-tokoh theosofi Belanda. Apalagi dia kan pelajar di Sekolah Belanda dan gurunya juga pasti kan ada yang terlibat Theosofi. Jadi jika ia terpengaruh theosofi itu mungkin. Tapi tidak hanya terpengaruh theosofi, dia juga terpengaruh liberalism dan feminis ekstrimis-nya Stella Zeehandelaar.” Ujar Tiar Anwar Bachtiar (kandidat Doktor Sejarah UI) kepada Eramuslim.com, Rabu 20/04/2011, saat ditemui di kampus UI, Depok.
Dalam kesempatan lain di sebuah tulisannya di situs INSIST, Tiar Anwar Bachtiar juga menyebutkan bahwa Kartini sendiri tidak merasa tertindas atas pernikahan poligaminya. Bahkan beberapa saat setelah pernikahannya Kartini menulis surat kepada J.H. Abendanon dan istrinya yang menunjukkan bahwa pernikahannya, sekalipun pernikahan keempat bagi suaminya, sama sekali baik-baik saja.
“Kawan-kawan yang baik dan budiman. Saya tahu betul-betul, bagaimana surat ini diharap-harapkan, surat saya yang pertama dari rumah saya yang baru. Alhamdulillah, di rumah itu dalam segala hal keadaan saya baik danmenyenangkan; di situ yang seorang dengan dan karena yang lain bahagia…” (Surat-Surat Kartini, hal. 348).
Ciri-ciri Feminis dan Kawan-kawannya
Setelah mengetahui latar belakang sejarah Kartini yang ternyata bahagia dengan kehidupan poligami yang dibenci setengah mati oleh kaum feminis, maka tahap berikutnya adalah mengetahui karakter feminis. Sehingga mereka-mereka yang berhati jernih dan berotak lurus dapat membedakan, manakah yang feminis ? Manakah yang feminim ?
Kartini jelas merupakan sosok wanita Jawa yang sederhana, manut suami, dan tidak macam-macam. Berbeda dengan kaum feminis pada hari ini yang karakternya merupakan sebuah arus kesesatan dalam pandangan budaya ketimuran.

Jika Kartini mengenakan kebaya yang rapi, berdandan ala Jawa, maka para feminis merupakan kumpulan wanita yang menghalalkan hot pants. Jika kulit Kartini hitam manis meskipun jarang keluar rumah, maka kulit para feminis bisa jadi berwarna kuning langsat karena sering ke salon dan tidak lupa keluyuran sampai malam plus tato yang merajahi.

Pemandangan menarik kafilah feminisme bisa disaksikan di demo anti FPI pada hari “Valentine”, 14 Februari 2012. Pesertanya sekitar 50 orang, laki-laki, perempuan dan wadam. Sulit untuk mengatakan bahwa kelompok ini adalah kumpulan orang-orang feminim atau menyukai hal-hal yang feminim. Jauh dari kesan merah jambu, yang ada adalah kesan kehidupan “keras” khas “bawah tanah” di kelab-kelab malam, party-party dan dunia gemerlap. Pria dan wanitanya sama-sama banyak yang merokok dan bertato.
Kembali ke Fitrah
Sesungguhnya para musuh Islam sangat membabi-buta dalam memusuhi nilai-nilai Islami. Bahkan aliran sesat seperti Iran dan rafidhahnya pun mereka masukkan secara membabi buta, seperti komentar budayawan Kaji Karno :” Ghoirul Islam dalam memandang Islam sebagai sasaran, tidak mempedulikan; apakah Islam ‘salafi’, ‘wahabi’, sunny, syi’ah, NU, atau Muhammadiyah. Pokoknya Islam. Memang tidak dipungkiri ada satu atau dua lembaga Islam yang mau dan memang ‘ingin’ dijadikan ‘gedibal’ ghoirul-Islam.”
Pikiran yang ngawur dan sangat tercuci otak oleh generalisasi. Seperti halnya pikiran para feminis yang harus menggeneralisasikan ciri-ciri antara pria dan wanita serta menghilangkan gap antara keduanya. Semua orang yang berpikir jernih tentu mampu memahami kapasitas manusia dengan berbagai macam jenisnya.

Sesungguhnya hanya ranah agama dan ketakwaanlah yang menjadi tolok ukur derajat manusia di sisi Allah, bukan bangsa, jenis kelamin, atau suku. Seperti yang terpatri dalam alunan suci al-Qur’an, surat al-Hujurat, ayat 13 : Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah (QS al-Hujurat [49]:13).[sksd]
Editor in Chief
Shoutussalam Islamic Media
Liberalisme memang tidak akan pernah berhenti menjadikan dunia ini di bawah pengaruh mereka. Terkhusus di Indonesia, dalam masalah kesetaraan gender, memasuki bulan April ini isu yang mereka bawa semakin intens. Hal ini terkait dengan hari Kartini, hari memperingati seorang wanita Jawa yang disebut-sebut oleh kaum feminis sebagai pelopor mereka di Indonesia.
UU Perkawinan menjadi objek yang mereka sasar. Hizbut Tahrir Indonesia di 2011 menyebutkan bahwa RUU Kesetaraan Gender merupakan ujung tombak yang dipersiapkan untuk meliberalisasi kehidupan berkeluarga di Indonesia. Lantas sebenarnya seberapa berbahayakah RUU ini ?
Rancangan Undang-undang Kesetaraan Gender
RUU ini (seperti disebutkan media online Hidayatullah) merupakan rancangan yang dipersiapkan oleh kaum feminis (melalui Kementrian Pemberdayaan Permpuan dan Perlindungan Anak) sejak lama. Entah mengapa RUU ini cukup sepi dari pemberitaan. Padahal RUU ini sudah ada di kementrian tersebut sejak 2010.
Sebenarnya jika membaca draf RUU tersebut akan terasa wajar-wajar saja dan bersifat sangat umum. Bisa dibilang RUU ini sebuah konsep yang ambigu dan mentah. Pernyataan ini diperkuat oleh Ledia Hanifa Amalia, anggota Komisi VIII dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). “RUU ini saya lihat masih mentah ya, sehingga belum dibahas dan belum sampai tahap rapat dengar pendapat, juga masih berbentuk draf,” ujarnya kepada Hidayatullah.
Namun mentah dan ambigunya konsep yang ditawarkn oleh RUU tersebut tidak membuat para alim, dai dan aktivis pejuang Islam diam saja. Konsep ini telah mengundang kecurigaan dari para pakar. Seperti dikutip dari Tempo.co, MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) menyebutkan pada Tabligh Akbar di Menteng (8/04/2012) bahwasanya RUU KG ini adalah produk liberal.
Henri Shalahuddin, dari INSIST menyebutkan :” RUU ini sangat kental dengan ideologi feminisme yang tidak ada hubungannya dengan pembangunan bangsa Indonesia yang bermartabat. Bahkan sebagiannya hanyalah terjemahan dari Convention on the Elimination of all forms of Discrimination Against Women (CEDAW). Misalnya tentang definisi diskriminasi terhadap perempuan.”
Dr Adian Husaini, Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), menganggap RUU KG sangat berbahaya. “Konsep Tuhan yang dipakai dalam RUU KG ini berpijak pada konsep Tuhan versi Iblis, diakui keberadaan-Nya tetapi utusan dan aturan-aturanNya ditolak atau dilawan,” kata Adian.
Meneladani Kartini ?
Abdul Moqsith Gazali dalam judul artikelnya yang terpampang dalam situs Islamlib.com pada tanggal 16 April 2007 menyebutkan dengan lantang seperti ini :”Dari Kartini Sampai Feminis Islam”. Sebuah kata-kata yang cukup mewakili bahwasanya Kartini dianggap oleh para pendukung gagasan feminisme sebagai pelopor mereka di Indonesia. Meskipun dalam judul tersebut dipakai embel-embel Islam, seperti halnya pemakaian embel-embel tersebut bagi “Liberalisme” (JIL).
Apakah benar Kartini merupakan pelopor feminisme Indonesia ? Sepertinya pertanyaan ini perlu dijawab dengan pikiran yang jernih dan objektif.
“Jadi Kartini harus diletakkan sebagai orang awam. Sebagai orang awam, dia akan ketemu apa saja, siapa saja dan dimana saja. Jadi itu posisi Kartini. Jadi jika sempat suatu data menyatakan Kartini ketemu orang-orang teosofi memang sangat wajar. Karena bupati saat itu memang dekat dengan tokoh-tokoh theosofi Belanda. Apalagi dia kan pelajar di Sekolah Belanda dan gurunya juga pasti kan ada yang terlibat Theosofi. Jadi jika ia terpengaruh theosofi itu mungkin. Tapi tidak hanya terpengaruh theosofi, dia juga terpengaruh liberalism dan feminis ekstrimis-nya Stella Zeehandelaar.” Ujar Tiar Anwar Bachtiar (kandidat Doktor Sejarah UI) kepada Eramuslim.com, Rabu 20/04/2011, saat ditemui di kampus UI, Depok.
Dalam kesempatan lain di sebuah tulisannya di situs INSIST, Tiar Anwar Bachtiar juga menyebutkan bahwa Kartini sendiri tidak merasa tertindas atas pernikahan poligaminya. Bahkan beberapa saat setelah pernikahannya Kartini menulis surat kepada J.H. Abendanon dan istrinya yang menunjukkan bahwa pernikahannya, sekalipun pernikahan keempat bagi suaminya, sama sekali baik-baik saja.
“Kawan-kawan yang baik dan budiman. Saya tahu betul-betul, bagaimana surat ini diharap-harapkan, surat saya yang pertama dari rumah saya yang baru. Alhamdulillah, di rumah itu dalam segala hal keadaan saya baik danmenyenangkan; di situ yang seorang dengan dan karena yang lain bahagia…” (Surat-Surat Kartini, hal. 348).
Ciri-ciri Feminis dan Kawan-kawannya
Setelah mengetahui latar belakang sejarah Kartini yang ternyata bahagia dengan kehidupan poligami yang dibenci setengah mati oleh kaum feminis, maka tahap berikutnya adalah mengetahui karakter feminis. Sehingga mereka-mereka yang berhati jernih dan berotak lurus dapat membedakan, manakah yang feminis ? Manakah yang feminim ?
Kartini jelas merupakan sosok wanita Jawa yang sederhana, manut suami, dan tidak macam-macam. Berbeda dengan kaum feminis pada hari ini yang karakternya merupakan sebuah arus kesesatan dalam pandangan budaya ketimuran.
Jika Kartini mengenakan kebaya yang rapi, berdandan ala Jawa, maka para feminis merupakan kumpulan wanita yang menghalalkan hot pants. Jika kulit Kartini hitam manis meskipun jarang keluar rumah, maka kulit para feminis bisa jadi berwarna kuning langsat karena sering ke salon dan tidak lupa keluyuran sampai malam plus tato yang merajahi.
Pemandangan menarik kafilah feminisme bisa disaksikan di demo anti FPI pada hari “Valentine”, 14 Februari 2012. Pesertanya sekitar 50 orang, laki-laki, perempuan dan wadam. Sulit untuk mengatakan bahwa kelompok ini adalah kumpulan orang-orang feminim atau menyukai hal-hal yang feminim. Jauh dari kesan merah jambu, yang ada adalah kesan kehidupan “keras” khas “bawah tanah” di kelab-kelab malam, party-party dan dunia gemerlap. Pria dan wanitanya sama-sama banyak yang merokok dan bertato.
Kembali ke Fitrah
Sesungguhnya para musuh Islam sangat membabi-buta dalam memusuhi nilai-nilai Islami. Bahkan aliran sesat seperti Iran dan rafidhahnya pun mereka masukkan secara membabi buta, seperti komentar budayawan Kaji Karno :” Ghoirul Islam dalam memandang Islam sebagai sasaran, tidak mempedulikan; apakah Islam ‘salafi’, ‘wahabi’, sunny, syi’ah, NU, atau Muhammadiyah. Pokoknya Islam. Memang tidak dipungkiri ada satu atau dua lembaga Islam yang mau dan memang ‘ingin’ dijadikan ‘gedibal’ ghoirul-Islam.”
Pikiran yang ngawur dan sangat tercuci otak oleh generalisasi. Seperti halnya pikiran para feminis yang harus menggeneralisasikan ciri-ciri antara pria dan wanita serta menghilangkan gap antara keduanya. Semua orang yang berpikir jernih tentu mampu memahami kapasitas manusia dengan berbagai macam jenisnya.
Sesungguhnya hanya ranah agama dan ketakwaanlah yang menjadi tolok ukur derajat manusia di sisi Allah, bukan bangsa, jenis kelamin, atau suku. Seperti yang terpatri dalam alunan suci al-Qur’an, surat al-Hujurat, ayat 13 : Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah (QS al-Hujurat [49]:13).[sksd]
