Menurut Ketua Umum Apindo Sofjan wanandi, kenaikan TDL yang diajukan untuk golongan industri dan bisnis sekitar 10% dapat dipastikan menggangu kinerja perusahaan dan akan berimbas pada penurunan daya saing produknya.
"Yang pasti TDL kalau jadi naik 10%, harga barang minimal akan naik juga 5-10%. Jika naik sebesar itu apakah masyarakat akan mampu membeli? Apakah dengan harga yang naik sebesar itu mampu bersaing dengan banjirnya produk impor, saya rasa sulit kita," kata Sofjan, di Kantor Apindo, Jakarta, Rabu (14/3/2013).
Menurut Sofjan, keinginan pemerintah tersebut sangat kontra produktif terhadap kinerja industri manufaktur nasional saat ini. Bahkan sama sekali tidak mendukung industrinya yang sedang dalam tahap pengembangan usahanya dan peningkatan daya saing produknya.
"Pasalnya dengan TDL naik, artinya ada kenaikan pembayaran tagihan listrik. Dan ini akan sangat menjadi beban bagi perusahaan manakala perhitungan pembayaran dalam jangka waktu 1 tahun, yaitu bisa mencapai antara Rp 47 juta-Rp 7,5 miliar per perusahaan. Dan ini akan menggangu cash-flow perusahaan, karena selain harus menambah modal kerja untuk energi, juga harus menambah modal kerja bahan baku," papar Sofjan.
Sofjan mengharapkan, jika pemerintah mau naikkan TDL harusnya berpedoman pada kondisi perusahaan yang saat ini masih melakukan penyesuaian terhadap pencabutan capping listrik.
"Perusahaan membayar taginan listrik yang lama 18% secara berangsur hingga lunas sampai dengan Desember 2012. Dan penyesuaian yang dilakukan oleh perusahaan adalah untuk menghindari terjadinya penutupan usaha dan rasionalisasi pekerjaannya," jelasnya.
"Oleh sebab itu rencana kenaikan TDL sebaiknya tidak dilaksanakan pada tahun 2012 ini," tandas sofjan.
Pemerintah memang berencana menaikkan harga BBM subsidi Rp 1.500 pada April 2012, kemudian TDL juga naik bertahap 10% mulai Mei 2012. (detik.com)
