-->

Taliban Desak Pakistan Tolak Bantuan Banjir AS

ISLAMABAD (Berita SuaraMedia) – Kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan pada hari Selasa waktu setempat (10/8) mendesak pemerintah menolak bantuan bencana banjir dari Amerika Serikat.

Banjir yang melanda Pakistan merupakan bencana terburuk yang pernah dialami negara tersebut selama 80 tahun.

"Pemerintah (Pakistan) tidak perlu menerima bantuan Amerika. Jika mereka melakukan itu, kami bisa memberikan bantuan 20 juta dolar kepada mereka untuk diberikan kepada para korban banjir," kata Azam Tariq, seorang juru bicara Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) kepada kantor berita AFP via telepon.

Bencana banjir paling parah yang pernah melanda Pakistan tersebut membuat 13,8 juta orang terkena dampak dan menewaskan kira-kira 1.600 orang. Bencana tersebut membuat PBB mempersiapkan bantuan beberapa ratus juta dolar.

"Kami sendiri yang akan membagikan bantuan dengan dipimpin ketua kami Hakimullah Mehsud, langsung ke tengah masyarakat. Tapi, itu hanya terjadi jika pemerintah memastikan bahwa tidak ada anggota kami yang akan ditangkap," kata Tariq.

"Kami mengecam bantuan Amerika dan bantuan asing lainnya, kami juga yakin bahwa hal itu hanya akan membuat Pakistan tunduk pada AS. Perlawanan kami melawan Amerika akan berlanjut," ujarnya.

Washington mengucurkan dana bantuan sebesar $17 juta, termasuk 436.000 daging halal dan 12 jembatan darurat. Gedung Putih mengklaim bahwa helikopter-helikopter AS telah membantu menyelamatkan lebih dari 1.000 nyawa di Pakistan.

Para kritikus mengatakan bahwa pengiriman bantuan kemanusiaan berjalan lambat. Hal itu membuat Presiden Asif Ali Zardari yang sudah tidak populer mendapat tekanan karena justru berkunjung ke Eropa saat negaranya ditimpa musibah.

Tehreek-e-Taliban, yang dituding berada di balik pengeboman yang menewaskan lebih dari 3.750 orang di seluruh penjuru Pakistan dalam tiga tahun, mendapatkan perhatian internasional setelah Amerika Serikat menuding kelompok tersebut mendalangi plot pengeboman gagal di New York bulan Mei lalu.

Jumlah bantuan untuk bencana banjir Pakistan semakin bertambah. AS mendonasikan $55 juta bersama dengan bantuan tenaga.

Banjir yang menghancurkan banyak kawasan di Pakistan itu disebut sebagai bencana alam terburuk yang pernah dialami Pakistan.

Buruknya cuaca menghambat upaya menyalurkan bantuan ke kawasan yang terkena dampak bencana, kata Mark Ward, direktur kantor bantuan luar negeri USAID. Menurut Ward, helikopter yang dipergunakan untuk mengantarkan paket bantuan dan misi penyelamatan sering kali kesulitan tinggal landas.

"Masalah sebenarnya adalah hujan. Tak satu pun dari kami yang mampu melihat jelas dan bisa mengakses tempat yang kami mau."

Pasokan bantuan hanya bisa mencapai banyak kawasan terisolasi dengan menggunakan kendaraan medan berat dan keledai.

Wilayah yang terkena dampak terparah adalah kawasan barat laut, yang menjadi sarang al-Qaeda dan Taliban.

Thomas Johnson, seorang profesor di Naval Postgraduate School di Monterey, California, mengatakan bahwa banyak organisasi amal dari gerakan-gerakan tersebut yang mengambil alih keadaan dan memberikan makanan serta perlindungan bagi warga yang membutuhkan.

"Pemerintah amat lambat memberikan respons, militer (Pakistan) dikritik karena tidak mampu memobilisasi rakyatnya dengan cepat, dan juga di sebagian wilayah yang amat labil. Jadi, kelompok militan mengambil keuntungan dan berusaha mengisi ruang hampa yang belum mampu dipenuhi pemerintah," kata Johnson.

Menurut Johnson, salah satunya adalah Lashkar-e-Taiba, menurutnya kelompok tersebut memiliki banyak jaringan lembaga amal di Pakistan.

"Meski mungkin benar bahwa beberapa kelompok memberikan dukungan, tebakan saya, hal itu dilakukan karena mereka memang sudah berada di sana. Mereka mendapat keuntungan karena dekatnya akses dibanding pihak lain," katanya.

Ia mengklaim kelompok-kelompok tersebut akan menggunakan kesempatan untuk membuat rakyat marah terhadap pemerintah. (dn/sh/np) www.suaramedia.com