+ResistNews Blog – Kebebasan yang kebablasan yang diusung oleh majalah Charlie Hebdo kini mulai mengundang amarah umat Islam di dunia.
Tidak hanya penolakan di Negeri Timur tengah namun hal ini juga dinyatakan oleh sebagian orang dalam negeri yang pernah memiliki pengaruh di Indonesia.
Pusat Studi Islam Al Azhar di Kairo, Mesir menyebut aksi ini sebagai bentuk pelecehan bagi kaum muslimin dan tidak sesuai dengan prinsip kebebasan dan toleransi.
“Kartun baru Charlie Hebdo akan membangkitkan kebencian, dan hal ini tidak sejalan dengan konsep toleransi, prinsip hidup berdampingan dengan damai dan penuh penghormatan,” ungkap studi Islam Al Azhar, seperti dilansir Channel News Asia. Rabu (14/1/2015).
Sebelumnya, Lembaga Fatwa di Mesir, Darul Ifta telah terlebih dahulu angkat bicara terkait pelecehan Nabi oleh redaksi Charlie Hebdo. Mereka mengecam keras dan menyebut tindakan tersebut sebagai aksi provokasi kepada umat Muslim di seluruh dunia.
Kecaman demi kecaman juga di berikan oleh masyarakat atau pemerintah di Turki, Palestina, Arab Saudi, Afghanistan, Iran dan Negara lain kepada majalah yang benar-benar ingin menyulut konflik di Eropa itu.
Sementara itu, dari Indonesia sikap serupa ditunjukan oleh mantan presiden Indonesia, Susilo Bambang Yuhdoyono (SBY). Dalam kicauannya di Twitter, SBY menyebut pembuatan karikatur Nabi Muhammad sebagai bentuk kebebasan yang kebablasan. SBY juga mengecam keras langkah Charlie Hebdo yang keterlaluan itu.
“Membuat gambar Nabi Muhammad, apalagi karikatur, bagi umat Islam sangat ditabukan. Ini juga berlaku bagi umat Islam sendiri,” tulis SBY. “Membuat karikatur Nabi Muhammad bukan hanya membikin marah kaum yang ekstrim dan radikal, tetapi juga umat Islam secara keseluruhan,” imbuhnya.
Semua ini terjadi karena adanya perbedaan arti kebebasan berpendapat di dunia Barat dan Timur. Ketimpangan arti dan penghinaan terhadap kaum muslimin menjadi suatu hal yang bebas sementara hal itu tidak berlaku di agama lain.
Negara-negara di Barat mengartikan kata kebebasan itu adalah mutlak dan tidak mengenal batas, sedangkan di Negara-negara Timur kebebasan masih mengenal kata batasan.
Namun, satu hal yang disayangkan, hingga saat ini pemerintah Jokowi belum juga berkomentar terkait penghinaan kepada umat Islam itu. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, harusnya Indonesia menjadi salah satu yang terdepan dalam mengecam hal ini bukan justru disibukkan dengan urusan dalam negeri yang semakin rumit dan tak mengenal kata ‘habis’. [lasdipo/ +ResistNews Blog ]
