-->

Pandangan Alumnus Afghanistan & Dosen Pasca Sarjana UMS: Jihad Poso dalam Pespektif Akademis



+ResistNews Blog - Sangat sedikit cendekiawan muslim yang jujur dengan ilmunya dan berani dalam berbicara maupun bersikap terkait permasalahan jihad.

Namun, berbeda dengan pengamat gerakan Islam, Dr. H. Amir Mahmud S.Sos, M.Ag. Ia justru berani berbicara jihad, bahkan melihat jihad Poso yang memanas di Indonesia belakangan ini dari sudut pandang akademis.

Aksi Jihad seperti di Poso merupakan hal yang wajar terjadi. Hal itu disampaikan Dr. Amir Mahmud saat menjadi salah satu pembicara bedah buku “Strategi Dua Lengan” di Jakarta.



Menurutnya, jihad Poso merupakan refleksi eksistensi jihad kaum Muslimin secara geografis political.

“Saya katakan bahwa Poso ini adalah cerminan, refleksi dari keberadaan jihad kaum Muslimin secara pendekatan geografis political. Poso ini adalah refleksi suara jihad yang tidak ada bedanya dengan negeri-negeri lain,” kata Alumnus Akademi Militer Afghanistan tahun 1985 yang kini menjadi dosen pasca sarjana UNS dan UMS dalam bedah buku Strategi Dua Lengan, di masjid Al-Muhajirin, Jalan Semeru Raya, Grogrol, Jakarta Barat, Ahad (29/12/2013).

Namun, Amir Mahmud menilai refleksi jihad umat Islam itu diberikan stigma negatif untuk menakut-nakuti yakni sebagai aksi terorisme.

“Persoalannya di negeri ini jihad Poso dibuat sangat menakutkan, karena apa? Palu yang digunakan oleh aparat, penguasa yang ada adalah terorisme. Stigma terorisme ini adalah sebagai sesuatu yang sangat menghantui, mahluk yang sangat menakutkan bagi mereka yang menyuarakan jihad,” ungkap pria yang menempuh Jenjang Pendidikan S3 (Doktor) Islamic Studies di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Ia menambahkan, contoh lain refleksi jihad yang serupa dengan Poso dan kini tumbuh membesar adalah jihad umat Islam di Moro dan Mindanao, Filipina.

“Saya sudah bertanya kepada beberapa aktifis dan akademisi ternyata mereka sepakat bahwa hal itu sesuatu yang biasa, sebab di negera-negara tirani mana pun ada peristiwa seperti itu. Kalau kita mau melihat secara global, di Asia Tengara saja seperti Filipina, di sana ada Moro, begitu pula Mindanao,” tutur dosen yang pernah mengajar di sebuah Universitas di Malaysia itu. [shoutussalam.com/ +ResistNews Blog ]