+ResistNews Blog - Mata wanita berumur 73 tahun itu nampak berkaca-kaca. Kesedihan yang mendalam akibat penderitaan hidup dikepung oleh tentara rezim Nushairiyyah selama setahun ini amat menyakitkan baginya.
Curhatan penderitaannya terekam dalam sebuah video yang diunggah di Internet pada Rabu (25/12/2013), oleh akun “Bashar Assad Crime Archive” yang khusus untuk menyimpan data-data video kekejaman Bashar Assad terhadap rakyatnya.
“Kami tinggal di sebuah kehidupan dimana tak ada seorangpun yang mampu menanggungnya. Kami tinggal dalam sebuah kehidupan yang amat sulit, tanpa bisa tidur, tanpa ada persediaan makanan, tanpa air minum bersih, tanpa uang,” kata sang Nenek.
Ia menggambarkan kehidupan sehari-hari di tempat tinggalnya yang terletak di Damaskus Selatan. Sebanyak 1,5 juta penduduk sipil disana hidup dalam keadaan di blokade oleh tentara rezim selama lebih dari satu tahun lamanya.
Mereka diisolasi secara total dari kehidupan luar. Tak ada akses makanan , obat-obatan, tenaga medis, dan kebutuhan pokok lain yang bisa masuk kesana.
Sang Nenek yang tengah berdiri sambil di bantu oleh alat untuk berjalan karena kakinya patah itu lantas meneruskan kisah derita hidupnya.
“Aku berumur 73 tahun, dan tahun ini adalah saat-saat paling berat dalam hidupku. Aku memiliki penyakit hipertensi dan tak memiliki obat-obatan. Aku sangat menderita.. Tiroidku juga bermasalah, dan aku tak bisa menemukan persediaan obat karena tentara Rezim mengepung tempat tinggalku..” kata Nenek.
“Tidak ada obat-obatan, tidak ada air minum, kami tidak bisa tidur nyenyak, tak ada alat penghangat di cuaca yang amat dingin ini. Pengepungan membuat semua kehidupan kami serba sulit..,” imbuhnya sambil menahan isak tangis.
Sang Nenek dengan tegar, menutup perkataannya seraya mengatakan bahwa yang mereka miliki hanyalah Allah. Namun ia tak bisa menyembunyikan rasa lelah atas derita yang ia emban.
“Semoga Allah menolong kami, pengepungan ini membunuh kami semua. Kami mencari apapun seadanya yang bisa kami makan. Yang kami miliki hanya Allah, kami lelah, kami lelah, kami lelah…” air mata Nenek akhirnya menghambur keluar. [arkan/shotussalam.com/ +ResistNews Blog ]