-->

Marak Penyadapan, Ini 5 Tips Iim Baasyir Agar Aktifis Islam Tak Mudah Bocor

+ResistNews Blog - Aksi penyadapan merupakan salah satu aktifitas pengumpulan informasi yang dilakukan intelijen untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya data pihak lawan. Data yang telah dikumpulkan ini, nantinya akan diolah untuk dilakukan penilaian dan analisa lebih lanjut untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan intelijen user (pengguna intelijen) baik berupa negara, perusahaan, ataupun individu.

Dalam dunia aktifis dan pergerakan Islam, khususnya di Indonesia. Kegiatan intelijen seperti penyadapan, penyusupan, penggalangan, pembusukan dan sebagainya pernah dialami oleh berbagai gerakan Islam dari masa ke masa.

Ustadz Abdurrahim Baasyir, salah seorang putra bungsu dari tokoh jihad di Indonesia berbagi tips kepada Kiblatnet bagaimana caranya agar aktifis Islam terhindar dari penyadapan dan operasi intelijen yang dilakukan oleh pihak musuh-musuh Islam.

Yang pertama, ia menekankan agar para aktifis muslim hati-hati dalam berbicara, sebab menjaga lisan merupakan salah satu ajaran islam. ”Ketika ada informasi apapun, tidak boleh disebarkan begitu saja,” ujarnya. ”Cukuplah disebut pendusta orang yang menyampaikan apa yang didengarnya,” sabda Rasulullah Saw (atau sebagaimana yang Baginda Rasul saw ucapkan) dalam salah satu haditsnya.

Kedua, Bermawas diri dalam menyampaikan pesan yang dianggap penting melalui alat-alat telekomunikasi. ”Ketika kita ingin menyampaikan apapun menggunakan alat komunikasi ya kita harus hati-hati. Gunakan kata-kata yang pas dan jangan pernah merasa dirinya tidak pernah dipantau oleh musuh. Kita memposisikan diri bahwa kita selalu disadap oleh mereka. Nah, kalo sudah seperti itu kan berarti dia menjaga dirinya,” ujar salah satu pengasuh Ponpes Ngruki ini.

Ketiga, secara umum, Iim menegaskan bahwa aktifis Islam juga sedikit banyak harus mengetahui delik-delik dalam aturan yang diterapkan oleh pemerintah. ”Kita juga harus tahu aturan yang ada pada pemerintah, jadi tahu batas-batasnya hingga melanggar hukum atau tidak. Ada cara upaya yang kita bisa tempuh dengan tujuan yang sama dan dengan hasil yang sama tapi tidak perlu melanggar batasan hukum pemerintah itu sendiri,” lanjutnya.

Keempat, Setelah menjaga diri dan lisan, seyogyanya para aktifis mampu menahan dirinya dari hawa nafsu untuk mengetahui suatu informasi yang sejatinya informasi tidak dibutuhkan oleh dirinya. ”Jika tidak perlu tahu dengan suatu urusan maka gak perlu tahu. Karena, satu informasi itu suatu musibah, ketika kita tidak bisa menjaganya.”

Yang terakhir, Kuncinya adalah kesabaran. Proses perjuangan memerlukan waktu yang cukup untuk berdiri mapan. Fenomena aktifis saat ini ialah mereka tak mampu bersabar. Banyak para aktifis yang ingin mendapatkan perubahan secara fundamental dalam waktu yang instan. Menurut Iim Baasyir, ”Banyak didapati para aktifis itu tergesa-gesa, mereka ingin cepet dan ga sabar melihat perubahan kondisi. Nah, akhirnya yang model-model begini ini disenengi oleh musuh/thoghut, kemudian mereka menyiapkan dengan jebakan-jebakan tertentu, lalu digorenglah isu itu.”

Terbukti, sejumlah besar kasus-kasus tuduhan terorisme yang dikenakan pada aktifis muslim, banyak yang disebabkan oleh hal-hal yang disebutkan oleh putra Ustadz Abu Bakar Baasyir di atas. Semoga kita bisa mengambil manfaat. [kiblat.net/ +ResistNews Blog ]