+ResistNews Blog - Perusahaan riset global Kadance International-Indonesia, melihat potensi kelas menengah akan lebih banyak terjerat utang. Hal ini lantaran gaya hidup masyarakat Indonesia yang semakin tinggi.
Managing Director Kadence Indonesia Vivek Thomas mengatakan, kelompok ini susah lepas dari jerat utang. Justru sebaliknya, akan ada potensi jumlahnya semakin besar di masa mendatang.
"Hal ini baanyak generasi produktif Indonesia tak lagi suka menabung. Berbeda dari generasi sebelumnya yang sangat disiplin menyisihkan pendapatan bulanan," ungkap Vivek di Hotel Four Season, Jakarta, Rabu (20/11/2013).
Menurutnya, saat ini tren gaya hidup lebih konsumtif dengan melihat ada gadget/handphone langsung dibeli dari pendapatannya untuk menunjukkan gaya hidup."Prediksi saya dua tahun ke depan yang bangkrut akan lebih banyak. Di generasi ini ada tekanan untuk terus belanja," jelasnya.
Berdasarkan hasil riset, 28 persen masyarakat Indonesia berada pada kategori broke, kelompok yang pengeluarannya lebih besar daripada pendapatan, sehingga mengalami defisit sekira 35 persen.
Rata-rata pendapatan kelompok ini sebesar Rp4,3 juta per bulan, sementara pengeluarnya mencapai Rp5,8 juta. Dengan demikian, akan terjadi defisit sebesar Rp 1,5 juta.
"Tipe broke memiliki kecenderungan ingin menaikkan status menjadi upper class. Ini membuat mereka meminjam uang dan memiliki utang agar bisa membeli barang yang dapat menaikkan status sosial mereka," ungkap dia. (okezone/ +ResistNews Blog )
Managing Director Kadence Indonesia Vivek Thomas mengatakan, kelompok ini susah lepas dari jerat utang. Justru sebaliknya, akan ada potensi jumlahnya semakin besar di masa mendatang.
"Hal ini baanyak generasi produktif Indonesia tak lagi suka menabung. Berbeda dari generasi sebelumnya yang sangat disiplin menyisihkan pendapatan bulanan," ungkap Vivek di Hotel Four Season, Jakarta, Rabu (20/11/2013).
Menurutnya, saat ini tren gaya hidup lebih konsumtif dengan melihat ada gadget/handphone langsung dibeli dari pendapatannya untuk menunjukkan gaya hidup."Prediksi saya dua tahun ke depan yang bangkrut akan lebih banyak. Di generasi ini ada tekanan untuk terus belanja," jelasnya.
Berdasarkan hasil riset, 28 persen masyarakat Indonesia berada pada kategori broke, kelompok yang pengeluarannya lebih besar daripada pendapatan, sehingga mengalami defisit sekira 35 persen.
Rata-rata pendapatan kelompok ini sebesar Rp4,3 juta per bulan, sementara pengeluarnya mencapai Rp5,8 juta. Dengan demikian, akan terjadi defisit sebesar Rp 1,5 juta.
"Tipe broke memiliki kecenderungan ingin menaikkan status menjadi upper class. Ini membuat mereka meminjam uang dan memiliki utang agar bisa membeli barang yang dapat menaikkan status sosial mereka," ungkap dia. (okezone/ +ResistNews Blog )
