+ResistNews Blog - Tingginya tensi hubungan Indonesia-Australia dinilai akan membuat negeri kanguru itu akan mulai melembek, termasuk kemungkinan menghentikan kegiatan penyadapannya di Indonesia.
Hanya saja, Pemerintah didesak untuk tak mempercayai begitu saja terhadap Australia.
"Sebagai Satpam penjaga kepentingan Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Pasifik, kegiatan Australia menyadap Indonesia tak akan pernah berhenti," kata Bambang Soesatyo, Anggota Komisi III DPR RI, di Jakarta, Kamis (21/11).
Menurutnya, sejarah sudah membuktikan dan juga bukan rahasia lagi bahwa AS dan negara-negara sekutunya tak pernah berhenti memata-matai baik teman sendiri maupun negara lain yang berseberangan dengan AS. "Cukup mengacu pada dokumen Wikileaks untuk memahami perilaku AS tentang soal ini," kata dia.
Maka, seperti halnya AS yang sudah pasti berhenti sementara menyadap para pemimpin Eropa, Australia pun akan menghentikan aktivitas penyadapan di Indonesia untuk beberapa waktu ke depan. Nantinya, kata Bambang, ketika keadaan sudah tenang, penyadapan akan dilakukan lagi.
"Tentu saja dengan peralatan dan teknologi yang lebih canggih," imbuhnya.
Dalam kasus penyadapan di Indonesia, ada titik temu antara kepentingan AS dan kepentingan Australia sendiri. Dengan cetak biru politik White Australia Policy, Australia selalu curiga pada sejumlah negara di Asia, khususnya Indonesia.
Sedangkan AS yang trauma dengan terorisme, juga menaruh curiga pada Indonesia, terutama setelah peristiwa Bom Bali dan rangkaian serangan teroris di dalam negeri beberapa tahun lalu.
Karena kepentingan strategis itulah pada waktunya nanti, menurut dia, AS akan tetap meminta Australia untuk melanjutkan penyadapan di Indonesia. Australia pun pasti akan tunduk pada kepentingan AS karena dua kepentingan strategis.
Pertama, selain membagi informasi tentang Indonesia kepada AS, Australia juga berkepentingan mengetahui potensi ancaman yang mungkin datang dari Indonesia. Kedua, Australia akan menuruti apa pun kemauan AS, dan juga Inggris, agar mereka tidak menyandang negara ras putih buangan.
"Karena itu, pemerintah RI jangan pernah sekali-kali percaya Australia bakal menjadi tetangga yang baik dan jujur," ujar Politisi Partai Golkar itu. [suaranews/ +ResistNews Blog ]
Hanya saja, Pemerintah didesak untuk tak mempercayai begitu saja terhadap Australia.
"Sebagai Satpam penjaga kepentingan Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Pasifik, kegiatan Australia menyadap Indonesia tak akan pernah berhenti," kata Bambang Soesatyo, Anggota Komisi III DPR RI, di Jakarta, Kamis (21/11).
Menurutnya, sejarah sudah membuktikan dan juga bukan rahasia lagi bahwa AS dan negara-negara sekutunya tak pernah berhenti memata-matai baik teman sendiri maupun negara lain yang berseberangan dengan AS. "Cukup mengacu pada dokumen Wikileaks untuk memahami perilaku AS tentang soal ini," kata dia.
Maka, seperti halnya AS yang sudah pasti berhenti sementara menyadap para pemimpin Eropa, Australia pun akan menghentikan aktivitas penyadapan di Indonesia untuk beberapa waktu ke depan. Nantinya, kata Bambang, ketika keadaan sudah tenang, penyadapan akan dilakukan lagi.
"Tentu saja dengan peralatan dan teknologi yang lebih canggih," imbuhnya.
Dalam kasus penyadapan di Indonesia, ada titik temu antara kepentingan AS dan kepentingan Australia sendiri. Dengan cetak biru politik White Australia Policy, Australia selalu curiga pada sejumlah negara di Asia, khususnya Indonesia.
Sedangkan AS yang trauma dengan terorisme, juga menaruh curiga pada Indonesia, terutama setelah peristiwa Bom Bali dan rangkaian serangan teroris di dalam negeri beberapa tahun lalu.
Karena kepentingan strategis itulah pada waktunya nanti, menurut dia, AS akan tetap meminta Australia untuk melanjutkan penyadapan di Indonesia. Australia pun pasti akan tunduk pada kepentingan AS karena dua kepentingan strategis.
Pertama, selain membagi informasi tentang Indonesia kepada AS, Australia juga berkepentingan mengetahui potensi ancaman yang mungkin datang dari Indonesia. Kedua, Australia akan menuruti apa pun kemauan AS, dan juga Inggris, agar mereka tidak menyandang negara ras putih buangan.
"Karena itu, pemerintah RI jangan pernah sekali-kali percaya Australia bakal menjadi tetangga yang baik dan jujur," ujar Politisi Partai Golkar itu. [suaranews/ +ResistNews Blog ]
