“[Menteri Pertahanan AS] Hagel dan [AS Kepala Staf Umum] Dempsey
berjalan di garis lurus… mengungkapkan keprihatinan dan mencoba untuk
menghindari kesan bahwa AS memanipulasi peristiwa di balik layar,”
(Military.com, 3 Juli 2013.)
SELAMA 32 tahun memerintah Mesir, Husni Mubarak tidak sekalipun diganggu Washington. Itu karena Mubarak pun selalu dengan setia mematuhi perintah dari Konsensus Washington sejak awal kepresidenannya. Dan Muhammad Mursi hanya alternatif—bukan pengganti untuk Mubarak di Mesir.
Ada yang selalu disimpan diam-diam antara Ikhwan dan CIA. Badan intelijen Amerika itu bukan rahasia lagi mengagumi Ikhwan ketika menentang Gamal Abdul Nasser.
Secara umum, kondisi sosial Mesir telah dan terus dan terus memburuk secara dramatis sejak runtuhnya Mubarak. Gerakan protes massa terhadap Mursi sebagian besar didorong oleh fakta bahwa era reformasi makro-ekonomi Mubarak yang diberlakukan oleh Washington dan Wall Street terus berlangsung, dan menyebabkan pemiskinan rakyat lebih lanjut.
Jadi masalahnya dimana? Mengapa militer Mesir demikian gagahnya mengkudeta Mursi—ini di abad 21, lho? Media menggambarkan militer sebagai tuas dari gerakan protes rakyat dengan pesan yang jelas; angkatan bersenjata diterima di seluruh kota Mesir, kota-kotanya, dan desa-desanya.
Tapi cobalah lihat lebih dekat. Peran angkatan bersenjata bukanlah untuk melindungi gerakan akar rumput. Menurut globalresearch, justru sebaliknya: tujuannya adalah untuk memanipulasi pemberontakan dan memadamkan perbedaan pendapat atas nama Washington.
Tujuan dari pengambilalihan militer adalah untuk memastikan bahwa kejatuhan pemerintahan Ikhwanul Muslimin tidak menghasilkan transisi politik yang malah akan memperlemah kontrol AS atas negara dan militer Mesir.
Mari kita berandai-andai. Ketika ada perpecahan genting dalam militer, petinggi Mesir akhirnya menerima perintah dari Pentagon. Menteri Pertahanan Jenderal Abdul Fatah Al-Sisi adalah lulusan dari US War College, Carlisle, Pennsylvania.
Jenderal Al Sisi merupakan penghubung permanen melalui telepon dengan Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel sejak awal gerakan protes. Pers mengonfirmasi bahwa ia berkonsultasi dengan Hagel beberapa kali pada hari-hari menjelang kudeta. Sepertinya sangat tidak mungkin al Sisi bertindak tanpa ‘lampu hijau “dari Pentagon.
Sedangkan Jenderal Martin Dempsey, ketua Kepala Staf Gabungan AS, adalah dalam kontak permanen dengan Sedki Sobhi, kepala staf Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) Mesir:
Para pejabat Pentagon menolak untuk memberikan rincian tentang percakapan antara Hagel dan al-Sisi, namun juru bicara Pentagon George Little mengatakan bahwa “para pejabat AS di semua tingkat [militer] telah menyatakan dengan jelas bahwa kami mendukung proses demokrasi di Mesir dan bahwa kami mengharapkan semua ketegangan dapat diselesaikan secara damai dan kekerasan dapat dihindari,” (Military.com)
Mesir adalah penerima terbesar bantuan militer AS setelah Israel. Militer Mesir dikendalikan oleh Pentagon. Dalam kalimat Jenderal Anthony Zinni, mantan Panglima Komando Sentral AS (CENTCOM), Mesir digambarkan sebagai berikut: “Mesir adalah negara yang paling penting di daerah kekuasaan saya karena akses itu memberi saya ke wilayah tersebut.” [sa/islampos/globalresearch/blog.resistnews.web.id]
SELAMA 32 tahun memerintah Mesir, Husni Mubarak tidak sekalipun diganggu Washington. Itu karena Mubarak pun selalu dengan setia mematuhi perintah dari Konsensus Washington sejak awal kepresidenannya. Dan Muhammad Mursi hanya alternatif—bukan pengganti untuk Mubarak di Mesir.
Ada yang selalu disimpan diam-diam antara Ikhwan dan CIA. Badan intelijen Amerika itu bukan rahasia lagi mengagumi Ikhwan ketika menentang Gamal Abdul Nasser.
Secara umum, kondisi sosial Mesir telah dan terus dan terus memburuk secara dramatis sejak runtuhnya Mubarak. Gerakan protes massa terhadap Mursi sebagian besar didorong oleh fakta bahwa era reformasi makro-ekonomi Mubarak yang diberlakukan oleh Washington dan Wall Street terus berlangsung, dan menyebabkan pemiskinan rakyat lebih lanjut.
Jadi masalahnya dimana? Mengapa militer Mesir demikian gagahnya mengkudeta Mursi—ini di abad 21, lho? Media menggambarkan militer sebagai tuas dari gerakan protes rakyat dengan pesan yang jelas; angkatan bersenjata diterima di seluruh kota Mesir, kota-kotanya, dan desa-desanya.
Tapi cobalah lihat lebih dekat. Peran angkatan bersenjata bukanlah untuk melindungi gerakan akar rumput. Menurut globalresearch, justru sebaliknya: tujuannya adalah untuk memanipulasi pemberontakan dan memadamkan perbedaan pendapat atas nama Washington.
Tujuan dari pengambilalihan militer adalah untuk memastikan bahwa kejatuhan pemerintahan Ikhwanul Muslimin tidak menghasilkan transisi politik yang malah akan memperlemah kontrol AS atas negara dan militer Mesir.
Mari kita berandai-andai. Ketika ada perpecahan genting dalam militer, petinggi Mesir akhirnya menerima perintah dari Pentagon. Menteri Pertahanan Jenderal Abdul Fatah Al-Sisi adalah lulusan dari US War College, Carlisle, Pennsylvania.
Jenderal Al Sisi merupakan penghubung permanen melalui telepon dengan Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel sejak awal gerakan protes. Pers mengonfirmasi bahwa ia berkonsultasi dengan Hagel beberapa kali pada hari-hari menjelang kudeta. Sepertinya sangat tidak mungkin al Sisi bertindak tanpa ‘lampu hijau “dari Pentagon.
Sedangkan Jenderal Martin Dempsey, ketua Kepala Staf Gabungan AS, adalah dalam kontak permanen dengan Sedki Sobhi, kepala staf Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) Mesir:
Para pejabat Pentagon menolak untuk memberikan rincian tentang percakapan antara Hagel dan al-Sisi, namun juru bicara Pentagon George Little mengatakan bahwa “para pejabat AS di semua tingkat [militer] telah menyatakan dengan jelas bahwa kami mendukung proses demokrasi di Mesir dan bahwa kami mengharapkan semua ketegangan dapat diselesaikan secara damai dan kekerasan dapat dihindari,” (Military.com)
Mesir adalah penerima terbesar bantuan militer AS setelah Israel. Militer Mesir dikendalikan oleh Pentagon. Dalam kalimat Jenderal Anthony Zinni, mantan Panglima Komando Sentral AS (CENTCOM), Mesir digambarkan sebagai berikut: “Mesir adalah negara yang paling penting di daerah kekuasaan saya karena akses itu memberi saya ke wilayah tersebut.” [sa/islampos/globalresearch/blog.resistnews.web.id]

