ResistNews - Juru
Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto menyampaikan bahwa
penolakan pembangunan Kedutaan Besar Amerika yang merupakan ke tiga
terbesar di dunia setelah di Baghdad dan Pakistan bukan sekedar
kekhawatiran yang berdasarkan asumsi.
Menurutnya
berdasarkan pengalaman dari Kedubes AS di Bagdad dan Islamabad,
ternyata Kedubes AS jelas berfungsi sebagai pangkalan militer dengan
bukti adanya pasukan dan persenjataan berat di tempat tersebut.
“Berdasarkan
pengalaman yang ada di Kedutaan Besar Amerika di Baghdad maupun di
Islamabad itu kedutaan yang sedikit lebih besar dari komplek kedutaan
Amerika di Jakarta yang akan dibangun ini. Dan di sana itu memang
nyata-nyata menjadi semacam pangkalan militer, karena di sana itu ada
sistem keamanan sendiri, di sana ada pasukan, ada juga pesawat,
persenjataan berat,” paparnya.
Lebih
parah lagi, Ismail Yusanto mengungkapkan bahwa pihak Pabean Pakistan
pernah membongkar adanya penyelundupan persenjataan berat yang
dikirimkan melalui fasilitas diplomatik Amerika Serikat ke Kedutaan
Besarnya di Islamabad.
“Mereka
memasukkan persenjataan berat melalui fasilitas diplomatik, itu sempat
ketahuan oleh pabean Pakistan yang mendapati sejumlah petikemas yang
ternyata setelah dibuka berisi peralatan militer yang ketika dilacak
ternyata menggunakan fasilitas diplomatik yang akan dikirim ke Kedutaan
Besar Amerika di Islamabad, itu fakta,” ungkapnya.
Atas
dasar itu ia menyatakan akan banyak kerugian bagi Indonesia dengan
eksistensi AS di negeri ini. Sebab ketika AS membangun Kedutaan Besarnya
dengan begitu megah, maka secara otomatis menunjukkan besarnya
aktivitas dan kepentingan AS di negara tersebut. [voa-islam]

