ResistNews - Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengumbar kebohongan dalam kampanye
pilpres Prancis 22 April mendatang. Sarkozy mengatakan, dia mengunjungi
pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima setelah Jepang dihantam gempa
dan tsunami 11 maret tahun lalu. Namun, itu bohong belaka.
Pernyataan itu diucapkan Sarkozy di hadapan 5.000 pendukungnya di Normady, Prancis. Kini, Sarkozy dicap telah melakukan pembohongan publik dan mempermalukan dirinya sendiri di muka umum.
“Tidak seperti Francois Hollande, saya melihat sendiri kerusakan yang diakibatkan oleh gelombang setinggi 42 meter itu,” ujarnya. Francois Hollande adalah saingan Sarkozy dalam pilpres mendatang.
Sayang, fakta berkata lain. Setelah melakukan pemeriksaan, bukti menunjukkan bahwa Sarkozy tidak pernah mengunjungi Jepang seperti apa yang dia akui. Langsung saja, rival politiknya menanggapi sinis kebohongannya tersebut.
“Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Prancis ada pemimpin yang berbohong mengenai kunjungannya ke suatu negara,” sindir Hollande.
Masih tidak jelas maksud Sarkozy membuat pernyataan bohong tersebut. Beberapa mengatakan bahwa Sarkozy sengaja membuat dirinya menjadi bahan kecaman rival politik guna mendapatkan simpati pemilih.
Insiden memalukan ini bukan yang pertama. Sarkozy pernah mengklaim berada di Berlin pada saat dirobohkannya Tembok Berlin yang menandai berakhirnya Perang Dingin. “Malam semakin larut di tengah antusiasme. Reuni rakyat Jerman yang menandai berakhirnya Perang Dingin dan menjadi awal kebebasan besar di Eropa,” tulis Sarkozy di facebooknya.
Namun sebuah catatan belakangan mengungkapkan, pada saat itu Sarkozy yang menjabat sebagai Walikota Neuilly justru tengah menghadiri peringatan kematian Jenderal de Gaulle di Prancis.
Entah terpengaruh pernyataan Sarkozy atau tidak, namun hasil jajak pendapat mengindikasikan Hollande akan mengungguli Sarkozy.
Hal lain yang memojokkan Sarkozy adalah dia diduga mendapatkan dana kampanye dengan cara ilegal. Beberapa bulan menjelang Pemilu Presiden 2007 lalu, Sarkozy dikabarkan melakukan pertemuan rahasia dengan seorang miliuner pemilik perusahaan kosmetik L’Oreal, Andre Bettencourt.
Sebuah catatan harian yang dibuat janda Andre Bettencourt, Liliane Bettencourt, menyebutkan bahwa Sarkozy mengunjungi rumah pasangan itu di Neuilly-sur-Seine, kawasan elite yang terletak di pinggiran Paris pada 24 Februari 2007.
Selain itu bukti lain berupa kesaksian bekas supir Bettencourt juga menyebutkan, Sarkozy merencanakan pertemuan dengan bekas majikannya itu untuk meminta sejumlah uang. Tidak hanya itu bahkan salah seorang sahabat keluarga Bettencourt, Francois-Marie Banier, mengutip pengakuan Andre Bettencourt yang membenarkan kabar ini.
Pernyataan Banier ini dinilai mengarah pada barang bukti berupa dokumen yang menunjukkan Sarkozy menerima sekitar Rp 9,7 miliar dari Bettencourt. Setengah dari uang itu dikabarkan diserahkan kepada Sarkozy dalam bentuk tunai setelah ditarik dari sebuah rekening bank di Swiss. [rmol]
Pernyataan itu diucapkan Sarkozy di hadapan 5.000 pendukungnya di Normady, Prancis. Kini, Sarkozy dicap telah melakukan pembohongan publik dan mempermalukan dirinya sendiri di muka umum.
“Tidak seperti Francois Hollande, saya melihat sendiri kerusakan yang diakibatkan oleh gelombang setinggi 42 meter itu,” ujarnya. Francois Hollande adalah saingan Sarkozy dalam pilpres mendatang.
Sayang, fakta berkata lain. Setelah melakukan pemeriksaan, bukti menunjukkan bahwa Sarkozy tidak pernah mengunjungi Jepang seperti apa yang dia akui. Langsung saja, rival politiknya menanggapi sinis kebohongannya tersebut.
“Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Prancis ada pemimpin yang berbohong mengenai kunjungannya ke suatu negara,” sindir Hollande.
Masih tidak jelas maksud Sarkozy membuat pernyataan bohong tersebut. Beberapa mengatakan bahwa Sarkozy sengaja membuat dirinya menjadi bahan kecaman rival politik guna mendapatkan simpati pemilih.
Insiden memalukan ini bukan yang pertama. Sarkozy pernah mengklaim berada di Berlin pada saat dirobohkannya Tembok Berlin yang menandai berakhirnya Perang Dingin. “Malam semakin larut di tengah antusiasme. Reuni rakyat Jerman yang menandai berakhirnya Perang Dingin dan menjadi awal kebebasan besar di Eropa,” tulis Sarkozy di facebooknya.
Namun sebuah catatan belakangan mengungkapkan, pada saat itu Sarkozy yang menjabat sebagai Walikota Neuilly justru tengah menghadiri peringatan kematian Jenderal de Gaulle di Prancis.
Entah terpengaruh pernyataan Sarkozy atau tidak, namun hasil jajak pendapat mengindikasikan Hollande akan mengungguli Sarkozy.
Hal lain yang memojokkan Sarkozy adalah dia diduga mendapatkan dana kampanye dengan cara ilegal. Beberapa bulan menjelang Pemilu Presiden 2007 lalu, Sarkozy dikabarkan melakukan pertemuan rahasia dengan seorang miliuner pemilik perusahaan kosmetik L’Oreal, Andre Bettencourt.
Sebuah catatan harian yang dibuat janda Andre Bettencourt, Liliane Bettencourt, menyebutkan bahwa Sarkozy mengunjungi rumah pasangan itu di Neuilly-sur-Seine, kawasan elite yang terletak di pinggiran Paris pada 24 Februari 2007.
Selain itu bukti lain berupa kesaksian bekas supir Bettencourt juga menyebutkan, Sarkozy merencanakan pertemuan dengan bekas majikannya itu untuk meminta sejumlah uang. Tidak hanya itu bahkan salah seorang sahabat keluarga Bettencourt, Francois-Marie Banier, mengutip pengakuan Andre Bettencourt yang membenarkan kabar ini.
Pernyataan Banier ini dinilai mengarah pada barang bukti berupa dokumen yang menunjukkan Sarkozy menerima sekitar Rp 9,7 miliar dari Bettencourt. Setengah dari uang itu dikabarkan diserahkan kepada Sarkozy dalam bentuk tunai setelah ditarik dari sebuah rekening bank di Swiss. [rmol]

