| Tentara Amerika berfoto dengan mayat di Afghanistan (www.latimes.com) |
"Presiden Obama telah memerintahkan agar dilakukan
penyelidikan menyeluruh atas beredarnya sejumlah foto yang memuat gambar
pasukan AS, tengah berpose di antara mayat anggota Taliban" kata Juru
Bicara Gedung Putih Jay Carney seperti dikutip Reuters dan Xinhua, Kamis
19 April 2012.." Setelah penyelidikan dilakukan, mereka yang terbukti
terlibat dalam insiden tersebut akan mendapatkan hukuman,"
Menurut Carney, gedung putih sangat menyesalkan keputusan redaksi koran Los Angeles Times yang merilis foto-foto tersebut. Apalagi foto-foto itu dinilai bisa memicu meluasnya sikap anti-Amerika serta membahayakan keberadaan pasukan tempur AS di Afghanistan.
Sebelumnya, di Brussels, Menteri Pertahanan AS Leon Panetta telah lebih dulu meminta maaf atas perilaku tidak pantas yang dipertontonkan oleh pasukannya itu. "Mewakili pemerintah Amerika Serikat, saya meminta maaf. Tindakan para serdadu itu tidak dapat diterima. Apa yang mereka lakukan bukanlah nilai Amerika dan tidak mewakili keseluruhan pasukan Amerika di Afganistan," kata Panetta dalam konferensi pers di sela pertemuan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussels.
Pentagon pun langsung menggelar penyelidikan atas insiden ini. "Setiap orang yang bertanggung jawab atas insiden keji ini akan diseret ke depan hukum berdasarkan sistem pengadilan militer Amerika," tutur juru bicara Pentagon, George Little, berjanji. Sebab, Konvensi Jenewa memastikan bagian tubuh korban dalam perang harus dihormati.
Beredarnya foto pasukan AS yang berpose di antara potongan-potongan tubuh para pemberontak Afghanistan ini menambah daftar panjang skandal yang melibatkan pasukan AS di Afghanistan. Sebelumnya, pasukan Negeri Paman Sam itu juga sempat terlibat dalam skandal pembakaran kitab suci Alquran yang memicu kemarahan rakyat Afghanistan.Dua foto serdadu Amerika Serikat yang berpose dengan bagian tubuh mayat pemberontak Taliban di harian Los Angeles Times, Rabu lalu, menuai kecaman banyak pihak.
Kutukan pun datang dari kelompok Taliban. "Selama 11 tahun Amerika menginvasi Afganistan, mereka berulang kali menunjukkan tindakan tak berperikemanusiaan. Hal yang tidak dapat diterima siapa pun di dunia ini," kata pernyataan resmi Taliban Rabu 18 April 2012..
Tapi Panetta juga menyalahkan harian Los Angeles Times yang melansir foto insiden yang terjadi dua tahun lalu itu. "Tindakan surat kabar itu dapat memicu aksi balasan oleh kelompok pemberontak lainnya dan menimbulkan kekerasan baru yang dapat mengancam keselamatan pasukan AS di Afganistan," ujarnya. (tempo.co)
Menurut Carney, gedung putih sangat menyesalkan keputusan redaksi koran Los Angeles Times yang merilis foto-foto tersebut. Apalagi foto-foto itu dinilai bisa memicu meluasnya sikap anti-Amerika serta membahayakan keberadaan pasukan tempur AS di Afghanistan.
Sebelumnya, di Brussels, Menteri Pertahanan AS Leon Panetta telah lebih dulu meminta maaf atas perilaku tidak pantas yang dipertontonkan oleh pasukannya itu. "Mewakili pemerintah Amerika Serikat, saya meminta maaf. Tindakan para serdadu itu tidak dapat diterima. Apa yang mereka lakukan bukanlah nilai Amerika dan tidak mewakili keseluruhan pasukan Amerika di Afganistan," kata Panetta dalam konferensi pers di sela pertemuan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussels.
Pentagon pun langsung menggelar penyelidikan atas insiden ini. "Setiap orang yang bertanggung jawab atas insiden keji ini akan diseret ke depan hukum berdasarkan sistem pengadilan militer Amerika," tutur juru bicara Pentagon, George Little, berjanji. Sebab, Konvensi Jenewa memastikan bagian tubuh korban dalam perang harus dihormati.
Beredarnya foto pasukan AS yang berpose di antara potongan-potongan tubuh para pemberontak Afghanistan ini menambah daftar panjang skandal yang melibatkan pasukan AS di Afghanistan. Sebelumnya, pasukan Negeri Paman Sam itu juga sempat terlibat dalam skandal pembakaran kitab suci Alquran yang memicu kemarahan rakyat Afghanistan.Dua foto serdadu Amerika Serikat yang berpose dengan bagian tubuh mayat pemberontak Taliban di harian Los Angeles Times, Rabu lalu, menuai kecaman banyak pihak.
Kutukan pun datang dari kelompok Taliban. "Selama 11 tahun Amerika menginvasi Afganistan, mereka berulang kali menunjukkan tindakan tak berperikemanusiaan. Hal yang tidak dapat diterima siapa pun di dunia ini," kata pernyataan resmi Taliban Rabu 18 April 2012..
Tapi Panetta juga menyalahkan harian Los Angeles Times yang melansir foto insiden yang terjadi dua tahun lalu itu. "Tindakan surat kabar itu dapat memicu aksi balasan oleh kelompok pemberontak lainnya dan menimbulkan kekerasan baru yang dapat mengancam keselamatan pasukan AS di Afganistan," ujarnya. (tempo.co)
