Ilustrasi (Helmi/dok)
ResistNews - Israel
kini diambang krisis energi setelah EGAS, perusahaan gas nasional Mesir
menghentikan kontrak ekspor gasnya. Pembatalan itu mendapatkan
tentangan dari berbagai kalangan di Israel.
Menteri Keuangan
Israel, Yuval Steinitz menyatakan 'keprihatinan mendalam' terkait
pembatalan pasokan gas Mesir ke Israel. Ia menyebut, berhentinya pasokan
gas Mesir ke Israel bakal menyebabkan kekurangan energi serius di
seluruh negeri Israel.
EGAS dalam
pernyataannya, mengatakan kesepakatan itu dicabut pada Kamis (19/04)
lalu oleh perusahaan East Mediterranean Gas Co (EMG) yang selama ini
mengekspor gas ke Israel. “Hal tersebut dilakukan setelah perusahaan
gagal memenuhi ketentuan yang tercantum dalam kontrak,” ujar chairman
perusahaan itu Mohamed Sheib.
Sabotase terus
menerus terjadi terhadap pipa lintas perbatasan yang menyalurkan gas ke
Israel sejak tumbangnya rejim Hosni Mubarak pada Februari 2011. “Ini
adalah preseden berbahaya yang mengurangi semangat perjanjian
perdamaian," kata Steiniz.
Tak hanya Steiniz,
pemimpin oposisi Shaul Mofaz juga menentang pembatalan tersebut. "Ini
adalah peringkat rendah baru dalam hubungan antara kedua negara dan
jelas melanggar perjanjian damai," kata Mofaz kepada harian The
Jerusalem Post.
Para pejabat Israel
memperingatkan pembatalan kesepakatan gas bisa menyebabkan kekurangan
energi musim panas ini, meskipun Menteri Energi dan Air Uzi Landau
mengatakan, "Israel bekerja untuk memperkuat kebebasan dalam kaitan
kebutuhan energinya," sebut dia.
Untuk diketahui,
kesepakatan ekspor gas pada 2005 mewajibkan Mesir memasok gas ke Israel.
Kewajiban itu ada dalam salah satu pasal utama dari perjanjian
perdamaian pada 1979 silam yang disponsori kedua pihak. Sejalan dengan
kesepakatan ekspor 2,5 miliar dolar (Rp22,5 triliun), Israel akan
menerima sekitar 40 persen dari pasokan gas Mesir dengan harga sangat
murah.
Di dalam negeri Mesir, penyediaan gas ke Israel terus menjadi perdebatan. Sejak reformasi terjadi di Mesir, pandangan masyarakat kini berubah dan justru melihat Israel sebagai
musuh. Segala bentuk kerja sama dengan Israel kini mendapat
penentangan. Menurut hasil jajak pendapat yang dilakukan 3 Oktober 2011
lalu, 73 persen rakyat Mesir menentang perjanjian ekspor gas tersebut.
Mesir telah menjadi
sekutu terkuat Israel di Timur Tengah selama pemerintahan panjang 30
tahun, Hosni Mubarak. Hingga akhirnya Ia digulingkan oleh revolusi pada
Februari 2011 lalu. Angin berubah, reformasi yang sekarang berjalan di
negara itu justru menjadi anti Israel. (ss/rin/kap)
