Perdana
Menteri Inggris David Cameron menyampaikan rasa salutnya atas proses
demokrasi Indonesia ketika menyampaikan pidatonya di Universitas
Al-Azhar, Jakarta, Kamis [12/04] pagi. Kesuksesan pembangunan politik
dan ekonomi Indonesia, menurut Cameron, menjadi bukti nyata bagi
negara-negara di seluruh dunia bahwa perubahan menuju arah lebih baik
dapat terjadi. Cameron sebanyak enam kali mengucapkan “Indonesia mampu
memimpin dunia”
Apa
yang dinyatakan Cameron jauh dari kenyataan. Pertumbuhan ekonomi
sebesar 6,5 persen, produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp 8.100
triliun dan ekonomi Indonesia nomor 14 besar dunia itu sering diklaim
sebagai keberhasilan ekonomi. Namun pertumbuhan ini tidak dibarengi dengan pemerataan. Lebih dari 80 % migas Indonesia dikuasai segelintir perusahaan asing. Muncul pula segelintir orang kaya baru yang menguasai ekonomi Indonesia.
Segelintir
orangpun menguasai Indonesia. Majalah Forbes misalnya pada November
2011 merilis 40 daftar orang terkaya di Indonesia dengan akumulasi
kekayaan US$ 85,1 miliar. Angka tersebut naik 16% dari tahun sebelumnya.
Dengan kata lain, nilai kekayaan mereka setara dengan 11 persen total
PDB Indonesia yang tahun ini diperkirakan mencapai US$752 miliar.
Hebatnya, tiga orang terkaya dari daftar tersebut tersebut memiliki
total kekayaan US$32,5 miliar.
Pasalnya
pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB)
atau Gross Domestic Product (GDP) berupa produksi barang dan jasa yang
dihasilkan di dalam suatu wilayah pada periode tertentu. Yang dihitung
adalah total rata-rata, PDB sendiri tidak menggambarkan dimana kekayaan
itu berada. Pada kenyataannya kekayaan di Indonesia menumpuk pada
segelintir orang.
Tidaklah
mengherankan kalau angka kemiskinan di negeri ini masih sangat tinggi.
Menurut BPS penduduk miskin Indonesia tahun 2011, dengan pengeluaran
kurang dari 230 ribu, mencapai 30 juta jiwa. Jumlah itu membengkak jika
menggunakan standar kemiskinan internasional yakni kurang dari US$2
perhari. Menurut laporan Bank Dunia, pada tahun 2009, sebanyak 50,7%
atau lebih dari separuh dari penduduk negeri ini masih dalam kategori
miskin.
Pernyataan
jubir HTI Ismail Yusanto menjawab apakah benar Indonesia merupakan
model demokrasi terbaik sangat tepat. Menurutnya, kalau keberhasilan itu
sekedar dilihat ada pemilu, ada kekuasaan dari satu orang kepada orang
lain, melalui mekanisme tertentu, iya. Tetapi kalau keberhasilan itu
adalah–-meminjam istilah orang-orang itu— keberhasilan substansial
bagaimana pergiliran kekuasaan itu kemudian melahirkan kehidupan
masyarakat yang lebih baik, tunggu dulu.
Terbukti
dari angka kemiskinan punya kecenderungan menaik, angka korupsi yang
juga menaik, kemudian juga konflik sosial di tengah-tengah masyarakat
yang juga cenderung menaik.Sosial disorder cenderung menaik, kemudian
ketidak percayaan kepada hukum cenderung menaik, oleh karena berbagai
skandal di dalam penegakan hukum tidak percaya kepada polisi, tidak
percaya kepada hakim, peradilan dan lain segala macam.
Apa
yang dikatakan Cameron adalah omong kosong belaka. Apalagi dengan
pernyataan Indonesia akan memimpin dunia. Bagaimana negara gagal yang
penuh persoalan seperti Indonesia dikatakan akan memimpin dunia. Kita
tegaskan sampai kapanpun Indonesia tidak akan pernah bangkit selama
masih menggunakan demokrasi.
Demokrasi
justru menjadi pangkal keterpurukan Indonesia. Sistem demokrasi yang
menyerahkan kedaulatan membuat hukum pada segelintir orang atas nama
suara terbanyak menjadi legitimasi kebijakan-kebijakan kapitalis yang
justru mencekik rakyat.
Dengan mengkaitkan naik turunnya harga BBM berdasarkan harga minyak internasional , DPR justru melegitimasi liberalisasi
migas dari hulu sampai hilir yang sesungguhnya adalah milik rakyat .
Bukankah semua kebijakan liberal yang menjadi jalan perampokan terhadap
kekayaan alam Indonesia dilegitimasi oleh UU yang merupakan produk
demokrasi. UU Migas, UU Kelistrikan, UU SDA dan uu yang sejenis justru bermunculan saat Indonesia semakin demokratis.
Sistem demokrasi juga melahirkan
negara korporasi , dimana kebijakan lebih memihak kepada pemilik modal
yang telah memberikan modal politik, dibanding rakyat. Kalau untuk
rakyat pemerintah demikian ‘pelitnya’ , namun untuk pengusaha penguasa
kapitalis demikian baik hati. Saat pemerintah begitu sewot mengurangi
subsidi untuk rakyat dengan alasan APBN bisa bangkrut , pemerintah
mengucurkan dana sekitar Rp 1,3 triliun pada APBNP 2012 untuk menangani
dampak sosial kemasyarakatan penanganan Lapindo.
Tidak
hanya itu, demokrasi juga menghancurkan sistem sosial masyarakat kita
yang masih memiliki akar Islam yang kuat. Tampak dari bermunculan UU dan
RUU yang liberal dan mengokohkan penghancuran tatanan sosial
masyarakat. Kalau RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) berhasil
gol, ajaran-ajaran luhur Islam yang berasal dari Al Qur’an
dan as Sunnah akan dikriminalkan. Karena dinggap merupakan bentuk
diskriminasi gender . Seperti hukum-hukum Islam yang terkait dengan
waris, ketaatan kepada suami, dan perwalian.
Dengan pradigma kesetaraan gender ini akan memudahkan wanita melakukan aborsi dengan alasan hak kesehatan produksi ,
membolehkan perempuan menikahkan dirinya sendiri. Termasuk melegitimasi
perkawinan sesama jenis dengan alasan kesetaraan gender . Sungguh
mengerikan.
Fungsi utama ibu berdasarkan Islam yang luhur dan penting sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga)
pun akan dianggap merupakan kejahatan. Tidak puas meliberalkan
Indonesia secara politik, dan ekonomi, saat ini mereka pun akan
menghancurkan benteng pertahanan terakhir umat Islam, yaitu keluarga
!Apakah kita diam ?
Perlu
dicatat, kemajuan ekonomi Barat bukanlah karena sistem demokrasi. Akan
tetapi karena sistem ekonomi Kapitalis-liberal yang jahat. Mereka
merampok kekayaan alam negara lain atas nama perdagangan bebas dan
privatisasi , menjerat suatu negara dengan mekanisme hutang luar negeri,
mengontrol keuangan dunia dengan rezim mata uang dolar. IMF dan World
Bank menjadi badan preman ekonomi Barat yang menghancurkan ekonomi sebuah negara.
Untuk
itu Barat menggunakan kekuatan militernya untuk menundukkan negara lain
seperti yang mereka lakukan di Irak dan Afghanistan. Penguasaan
ekonomi dunia semakin mulus lewat penguasa-penguasa diktator di negeri
Islam yang mereka dukung habis-habisan selama masih mengabdi. Barat
menjadi pendukung setia diktator Suharto di Indonesia, Husni Mubarak di
Mesir, Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, rezim kerajaan tribal di Saudi,
Bahrain dan Kuwait.
Untuk
bangkit dengan kebangkitan yang sejati,umat Islam termasuk Indonesia
tidak memiliki pilihan lain, kecuali kembali menjadikan Islam sebagai
asas mengatur seluruh kehidupan termasuk bernegara. Dengan kembali
mewujudkan Khilafah Islam yang akan menerapkan syariah Islam. Syariah
dari Allah SWT yang menjamin kesejahteraan, keamanan dan keadilan untuk
dunia ! (Farid Wadjdi)

