-->

Masih Adakah Orang Kaya Liberal?

Masih Adakah Orang Kaya Liberal?Bahkan kaum progresif dan humanis sekuler yang atheis atau agnostik atau yang tidak memiliki agama sekalipun, mereka semua percaya dan bersama-sama berusaha membantu mereka yang kurang beruntung. Dan semua sepakat, yang demikian itu adalah tindakan baik dan terpuji.

Kemana aliran kekayaan mereka, dimana muara penimbunan pernak pernik harta benda mereka, dimana orang-orang kaya liberal menghabiskan secara bebas berjuta-juta, bahkan bertrilyun-trilyun uang yang katanya untuk membantu orang miskin, memberi makan anak-anak yatim, menciptakan lapangan kerja bagi pengangguran, dan menciptakan program-program sosial untuk mengangkat martabat masyarakat tertindas?

Jika engkau bertanya kepada orang banyak tentangnya, mereka pasti akan mengatakan, bahwa makhluk seperti itu tidak ada. Bahkan sebagian akan bilang, makhluk yang engkau cari itu tidak akan pernah ada.

Dalam buku Galistan, penyair Iran Saadi pernah menulis;

Kaum liberal tidak punya uang.
Kaum kaya tidak punya kemurahan hati.


Namun, Saadi, tahu bahwa ada pengecualian ketika melukiskan kondisi demikian, dan terbukti banyak fakta yang menyebutkan tentang ini dalam bukunya dibagian lain.

Ya, kita masih bisa menyaksikan ada beberapa orang kaya yang murah hati. Mereka menyumbang, beramal dan bekerja untuk mengangkat derajat masyarakat tertindas.

Tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang rendah hati dan orang saleh yang senantiasa menyembunyikan aktivitas dan tindakan mulia mereka. Mereka tidak ingin memvulgarkan adegan-adegan perbuatan baik mereka dihadapan hiruk pikuk hidup yang mencekam. Mereka adalah orang yang rendah hati dan murah hati.

Jika kita ingin mengangkat derajat kehidupan masyarakat tertindas, kita tidak harus menunggu komando dari orang kaya, atau menanti sampai sejumlah besar orang kaya berduyun-duyun bermurah hati dan berbagi kekayaan mereka.

Kelas menengah, kelas pekerja, dan bahkan orang-orang miskin tertindas sekalipun, harus mulai bekerja sama untuk membangun ekonomi lokal bahkan ekonomi dunia secara bersama-sama. Dan, sekali lagi, kita tidak harus menunggu komando dan uluran tangan kemurahan hati orang-orang kaya untuk mendermakan kekayaan mereka. Kita semua bisa!.

Sayangnya, banyak diantara masyarakat kelas menengah yang justru tidak ingin membantu orang miskin lainnya.

Satu hari, seorang aktivis politik pernah berkata, "Banyak orang kelas menengah memberitahu kepada saya, ‘saya akan membantu orang miskin kalau saya sudah kaya’. Sayangnya, kebanyakan dari mereka, mengejar uang untuk hidup mereka sendiri dan mereka tidak pernah menjadi kaya, dan karena itu, mereka tidak akan pernah membantu orang miskin."

Jadi apa akar masalahnya?

Satu akar masalah yang tidak pernah dipungkiri adalah sebuah realitas, bahwa kebanyakan orang, tidak berempati kepada sesamanya. Mereka serakah dan egois.

Si kaya yang memiliki dunia tidak dan kurang peduli dengan nasib si miskin yang tidak memiliki dunia!.

Dalam Islam, ada konsep yang disebut jihad an-nafs, yang secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai "perjuangan melawan diri sendiri" atau "perjuangan melawan keinginan diri yang lebih rendah."

Dalam jihad an-nafs, umat Islam dituntut berusaha untuk menjadi hamba Allah tanpa pamrih dan menjadi pembantu altruistik bagi mereka yang tertindas.

Dan Islam bukan agama yang hanya berbicara tentang altruisme.

Konsep berbagi kekayaan kepada sesama adalah konsep universal dan ada dalam berbagai budaya bangsa di dunia, bahkan walaupun hanya sedikit orang yang mempraktekkan apa yang mereka khotbahkan sehari-hari.

Memang, semua agama-agama dunia memerintahkan pengikutnya untuk, bermurah hati dan memberikan sedekah kepada yang membutuhkan.

Dan dalam Islam pun demikian.

Dalam Islam, pendapatan seorang muslim harus didapat dengan cara halal, yang berarti bahwa semua pendapatan harus diperoleh melalui cara jujur, melalui pekerjaan yang sah menurut hukum Islam, dan sebagian dari pendapatan yang diperoleh secara jujur, harus disisihkan sebagiannya untuk mereka yang membutuhkan untuk memurnikan hartanya.

Agama-agama lain pun memiliki ajaran yang sama.

Bahkan kaum progresif dan humanis sekuler yang atheis atau agnostik atau yang tidak memiliki agama sekalipun, mereka semua percaya dan bersama-sama berusaha membantu mereka yang kurang beruntung. Dan semua sepakat, yang demikian itu adalah tindakan baik dan terpuji.

Sekarang, semua kelompok-kelompok ini bersama-sama bertanggungjawab atas sedikitnya 90 persen populasi dunia. Jadi mengapa begitu sedikit orang yang membantu orang miskin?

Jawabannya memang tidak terlalu sulit untuk dipastikan.

Kebanyakan orang tidak percaya dengan apa yang mereka percayai. Dan setiap orang yang percaya dan yakin dengan kepercayaanya, harus mendorong dirinya dan orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang riil, nyata dan harus berhenti menjadi seorang munafik terus menerus.

Namun, memberikan segepok uang atau sejumlah materi bukanlah satu-satunya tindakan murah hati.

Kata-kata yang menyejukkan, sikap baik, atau berempati juga bisa menjadi tindakan amal yang baik dan terpuji, dan murah hati.

Nabi Muhammad saw dan keluarganya yang suci pernah mengatakan, bahkan "seutas senyum adalah amal".

Salah seorang pencari kebenaran pernah berkata, "Jika orang liberal tidak punya uang, dan orang punya uang tapi tidak murah hati, maka saya tidak ingin pernah memiliki banyak uang." Mungkin dia berada di jalan yang benar.

Tapi sekali lagi, milikilah sejumlah uang yang wajar, atau bahkan milikilah banyak uang jika memungkinkan, tapi, berbagi kebaikan dan bermurah hatilah kepada orang miskin dan kepada sesamanya.

Akhirnya, apa pun yang mungkin akan terjadi dan kita jalani, kita semua harus bekerja keras untuk mempertahankan kemurahan hati dan kemanusiaan kita.  [Islam Times/On] Redaksi Islam Times