-->

Muslim AS Dikejutkan "Kasus Basi" Diskriminasi Pesawat

Atif Irfan (ki) bersama sang istri Sobia Ijaz. Mereka termasuk dalam beberapa Muslim yang percakapannya di dalam sebuah pesawat telah disalahartikan dan berujung pada pengusiran mereka. (Foto: Washington Post)

Atif Irfan (ki) bersama sang istri Sobia Ijaz. Mereka termasuk dalam beberapa Muslim yang percakapannya di dalam sebuah pesawat telah disalahartikan dan berujung pada pengusiran mereka. (Foto: Washington Post)

ResistNews – Sembilan penumpang Muslim Amerika dari daerah Washington menuntut AirTran Airways di pengadilan federal pada Rabu (17/11) waktu setempat, menuduh bahwa jalur penerbangan tersebut mendiskriminasikan mereka dengan mengeluarkan mereka dari sebuah penerbangan keluar pada 1 Januari 2009 di Bandara Nasional Reagan dan menolak memesankan ulang untuk mereka.

Dalam tuntutan hukum tersebut, yang diajukan di Pengadilan Distrik AS di Distrik Columbia, pihak penuntut, Kashif Irfan dan istrinya, Inayet Sahin, mengatakan bahwa mereka dan tujuh orang lainnya didiskriminasi ketika mereka dipindahkan dari sebuah penerbangan AirTran menuju Orlando, Florida setelah para penumpang mengatakan bahwa mereke mendengarnya membuat ucapan-ucapan yang tidak layak.

Setelah ditanyai dan diperjelas oleh FBI, pihak penuntut mengatakan bahwa AirTran menolak untuk memesankan ulang mereka ke dalam sebuah penerbangan.

Walupun mereka tidak akan berkomentar atas proses pengadilan yang tertunda, AirTran mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa jalur penerbangan tersebut "menolak pertanggungan jawab dan menanti-nantikan pembelaan diri sendiri di pengadilan.

"Kami terkejut menerima keluhan yang sudah hampir dua tahun setelah insiden tersebut terjadi."

Pihak penuntut akan mengusahakan sebuah pertimbangan yang menerangkan hak, kewajiban dan tugas-tugas pihak AirTran dalam insiden tersebut; bantuan putusan pengadilan, kompensasi dan hukuman kerugian terhadap jalur penerbangan tersebut dan perusahaan induknya, AirTran Holdings.

"Kami ingin mengirim sebuah pesan yang jelas bahwa diskriminasi tidak akan ditoleransi dan memastikan bahwa yang lainnya tidak akan harus menanggung perlakuan tidak adil dan memalukan tersebut," kata Michael Kirkpatrick, seorang pengacara dengan Public Citizen dan pendamping pengacara penuntut, saudara laki-laki Kashif Irfan dari Alexandria dan Atif Irfan dari Rockville; keluarga mereka; dan seorang teman, Abdul Razak Aziz dari Distrik.

"Ketika hari libur Thanksgiving mendekat, kami berharap bahwa jalur penerbangan akan lebih sensitif ketika Muslim Amerika melakukan perjalanan untuk menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman-teman," Kashif Irfan mengatakan.

Tuntutan hukum tersebut menuduh bahwa dua gadis remaja duduk di dekatnya mengira sebuah komentar  yang tidak berbahaya oleh kelompok tersebut tentang keselamatan pada bagian belakang pesawat sebagai sebuah ancaman.

Tuntutan tersebut mengklaim bahwa AirTran menolak untuk memesan ulangkan kelompok tersebut bahkan setelah para penyelidik FBI membolehkan mereka untuk melakukan perjalanan.

Dalam sebuah pernyataan, AirTran mengatakan bahwa keselamatan adalah misi utamanya dan bahwa pihaknya "menolak pertanggungan jawab dan menantikan pembelaan diri sendiri di pengadilan."

Jalur penerbangan tersebut menambahkan bahwa pada saat itu sebuah anggota masyarakatlah yang memicu kejadian tersebut, dan bahwa Dinas Keamanan Transportasi (Transportation Security Administration – TSA) dan kepolisian Otoritas Bandara Metropolitan Washington juga terlibat.

AirTran meminta maaf pada saat itu dan menawarkan kelompok tersebut sebuah pengembalian uang untuk penggantian tiket mereka dan mengembalikan tiket pesawat tersebut. (ppt/wp/kbo)www.suaramedia.com