-->

Tsunami Sapu Warga Yang Tengah Memancing Herankan Pakar Gempa

PADANG (Berita SuaraMedia) - Tujuh orang meninggal dunia dan seratusan lainnya dikhawatirkan hilang akibat gelombang pasang di Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, yang terjadi setelah gempa 7,2 skala richter mengguncang daerah itu, Senin malam.

Tujuh yang tewas tersapu gelombang itu adalah warga Desa Muntai yang ketika gelombang datang mereka tengah memancing di pinggir Pantai Pagai Selatan, kata Kepala Penanggulangan Bencana Wilayah Pagai Selatan Joskamatir, Selasa siang.

Dihubungi lewat telepon seluler dari Kota Padang, Joskamatir menyatakan, 33 warga lain yang juga tengah memancing sampai sekarang belum diketahui nasibnya.

Bukan hanya itu, sekitar seratusan warga lainnya di Desa Muntai Baru-Baru dan Desa Malokopak juga belum diketahui keberadaannya.

"Pihak keluarga kini masih mencari anggota keluarganya yang saat bencana datang mereka terpisah-pisah," kata Joskamatir.

Sementara itu, Pakar Gempa dari Universitas Andalas, Dr Badrul Mustapa Kemal mengatakan, gempa berkekuatan 7,2 skala Richter yang mengguncang Sumatera Barat, Senin pukul 21.42:20 WIB telah memicu tsunami setinggi dua meter di pulau Mentawai.

"Tsunami setinggi dua meter yang terjadi itu antara lain ditandai dengan ada perahu nelayan yang tersangkut di darat. Informasi tersebut berasal dari pemantau Relawan Australia, Counterpart (mitra) Sucopindo," kata Badrul di Padang, Selasa.

Awalnya BMKG menyatakan gempat itu berpotensi tsunami, namun  25 menit kemudian lembaga ini merilis gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Sementara itu, guncangan gempa berlokasi pada 3.61 lintang selatan (SL)-99.93 Bujur Timur (BT) pada pusat 78 km barat daya Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumbar. Dan 174 km Barat Daya Mukomuko-Bengkulu, 817 km Barat Laut Jakarta.

Menurut Badrul, jika tsunami yang terjadi akibat gempa yang bersumber dekat palung laut di Samudera Hindia itu besar, maka tentu akan sampai ke Padang.

Badrul berharap gempa 7,2 SR itu adalah gempa utama dan bukan gempa pendahuluan.

"Jika gempa 7,2 SR merupakan gempa pendahuluan, kemungkinan tentu akan guncangannya akan terjadi lebih besar lagi," katanya.

Dia meminta masyarakat tidak terlalu takut dan tidak perlu libur bekerja atau sekolah.

Badrul menjelaskan, posisi blok gempa  Senin malam itu berada sama dengan gempa yang terjadi pada 12 September 2007 di Pagai, Kepulauan Mentawai dengan guncangan 8,4 SR.

"Berkemungkinan gempa 7,2 SR pada Senin malam itu adalah energi gempa yang tersisa pada gempa 12 September 2007 itu," katanya

Sedangkan gempa berkekuatan 7,9 SR pada 30 September 2009 posisi bloknya lain lagi.

Badrul membagi posisi gempa di Sumbar pada dua blok yaitu sekitar Pulau Siberut dan Pulau Pagai.

Gempa 30 September 2010 berlokasi di Pulau Siberut, sedangkan 25 Oktober 2010 (=12 September 2007) di blok Pulau Pagai.

Badrul mengatakan, pakar LIPI telah memperkirakan gempa Sumbar akan terjadi lagi akan tetapi tidak bisa diprediksi berpotensi tsunami, namun tetap tergantung lokasinya.

"Katakan saja energi gempa itu masih ada dan terjadi di Pulau siberut, jika tidak ada tsunami tetapi Siberutnya hancur," katanya.

Dia mengatakan sejumlah kejadian gempa di Sumbar itu telah membuat heran kalangan pakar gempa di Indonesia. (fn/a2nt) www.suaramedia.com