Penulis dan ilmuwan 69 tahun tersebut menyatakan "perasaan jijiknya yang mendalam' ketika ia melihat para wanita mengenakan pakaian kontroversial tersebut.
Namun ia berhenti sejenak meminta kepada Inggris untuk mengikuti Perancis dalam melarang burqa, bersikeras bahwa legislasi semacam itu tidak akan berada di tradisi kebebasan liberal Inggris.
Komentar-komentarnya menyebabkan kemarahan di antara kelompok Muslim yang menuduhnya menjadi 'dungu' dan 'Islamophobik'.
Profesor Dawkins membuat komentar-komentar tersebut dalam sebuah wawancara dengan Radio Times membahas dokumenternya yang akan datang tentang bahayanya sekolah-sekolah keagamaan.
Tadi malam ia berdiri dengan ucapannya dan mengatakan kepada kantor berita Daily Mail : "Saya benar-benar merasa jijik yang mendalam pada burqa karena bagi saya burqa adalah sebuah simbol dari penindasan para wanita."
Namun ia mengakui bahwa ia berkeberatan untuk mendukung pelarangan barang pakaian apapun.
Ia mengatakan: "Sebagai seorang liberal saya akan merasa ragu-ragu untuk mengajukan sebuah selimut pelarangan atas gaya berpakaian apapun karena implikasi untuk kebebasan individu dan kebebasan memilih."
Bulan lalu, pemerintah Perancis memilih untuk melarang burqa dari tempat-tempat publik, yang seperti sebuah jubah yang menutupi seluruh badan, dan niqab, sebuah potong bahan pakaian yang menutupi wajah, sementara Belgia dan Spanyol mengatur pemilihan suara yang serupa.
Namun Menteri Imigrasi Damian Green secara efektif mengesampingkan permohonan tersebut dari Inggris, berpendapat bahwa sebuah pelarangan akan menjadi 'agak tidak Inggris' dan berjalan berlawanan dengan kebiasaan dari 'masyarakat toleran dan secara mutual menghormati'.
Bagaimanapun juga, 67 persen dari para pemilih Inggris ingin kerudung seluruh wajah tersebut dilarang.
Seyyed Ferjani dari Asosiasi Muslim Inggris, mengatakan komentar-komentar profesor Dawkins: "Saya pikir komentar-komentar semacam itu dungu dan Islamophobik.
"Hal semacam ini telah berada pada kebangkitannya untuk beberapa waktu. Inggris adalah sebuah masyarakat yang beraneka ragam dan bebas."
"Ini adalah sebuah pilihan wanita jika ia memilih untuk mengenakan burqa, niqab atau tidak. Mengapa ini menjadi masalah bagi pria tersebut atas apa yang dkenakan wanita tersebut?
"Kita harus memberikan dorongan menghormati dan memahami satu sama lain."
Profesor Dawkin membuat komentar-komentarnya telebih dahulu atas dokumenternya berpendapat untuk penghapusan sekolah agama.
Di Sekolah Agama Menace, pada More4 minggu depan, universitas Oxford bilologis evolusioner mengatakan bahwa sekolah-sekolah keagamaan mendorong adanya pemisahan sosial.
Ia menanyakan mengapa uang rakyat harus dihabiskan melabeli anak-anak atas dasar 'sesuatu yang sewenang-wenang seperti agama'.
Investigasinya untuk dokumenternya menyisakan keterkejutan. Di salah satu sekolah Muslim di Leicester tidak satupun dari murid mempercayai evolusi.
Ia mengatakan: "Jalan satu-satunya adalah bukan 'apa bukti-buktinya?'" namun "'apa yang dikatakan Al-Qur'an?'"
Ini bukanlah pertama kalinya Profesor Dawkins, yang adalah penulis dari buku-buku seperti The Selfish Gene and The God Delusion, telah memicu kritik atas pandangan-pandangannya pada Islam.
Pada tahun 2008, ia mengatakan: "Hampir tidak mungkin untuk mengatakan apapun terhadap Islam di negara ini karena Anda dituduh menjadi rasis dan Islamophobik." (ppt/dm) www.suaramedia.com
