Para saksi mata memberitahu kantor berita Press TV bahwa pasukan Amerika meluncurkan dua serangan udara ke provinsi Nangarhar pada Kamis (5/8) pagi waktu setempat.
Salah satu dari serangan itu menewaskan dan melukai setidaknya 30 orang. Serangan lainnya, yang mengenai sebuah prosesi pemakaman di tempat terpisah, membunuh 13 warga sipil termasuk dua orang anak.
Insiden pada hari Kamis waktu setempat (5/8) itu terjadi setelah serangan udara AS yang lain membunuh setidaknya 52 warga sipil, termasuk beberapa wanita dan anak-anak, di kota Sangin, provinsi Helmand, bulan lalu.
Pasukan pimpinan AS di Afghanistan secara reguler melancarkan serangan terhadap tempat-tempat yang diduga menjadi lokasi persembunyian militan, tapi serangan itu biasanya berakibat pada korban sipil karena intelijen yang buruk atau kesalahan dalam operasi.
Dalam sebuah pernyataan, Komandan Pasukan AS dan NATO di Afghanistan, Jenderal David Petraeus menekankan bahwa melindungi rakyat Afghan tetap menjadi prioritas utama dalam perang yang sudah berlangsung selama sembilan tahun itu.
"Perintahnya secara tegas menempatkan kehadiran warga sipil di puncak setiap keputusan yang melibatkan penggunaan kekuatan dan memastikan bahwa beberapa daerah yang mungkin bisa menimbulkan mispersepsi telah diklarifikasi," bunyi pernyataan dari Jenderal Petraeus.
Petraeus menggantikan Jenderal Stanley McChrystal yang dipaksa oleh Presiden Barack Obama untuk mengundurkan diri setelah mengkritik para pejabat Gedung Putih dalam sebuah wawancara dengan majalah Rolling Stone.
"Kita harus melanjutkan upaya kita untuk mengurangi jatuhnya korban sipil hingga ke titik minimum," ujar Petraeus.
Jenderal Petraeus telah mengeluarkan sejumlah peraturan baru yang diharapkan bisa mengurangi jumlah korban jiwa di Afghanistan.
Terlepas dari janji itu, jumlah korban sipil masih terus meningkat.
Hilangnya nyawa warga sipil dalam operasi pasukan asing telah menimbulkan kontroversi dalam perang Afghan.
Warga sipil terus menjadi korban utama dalam kekerasan di Afghanistan, terutama di provinsi selatan dan timur negara tersebut.
AS dan NATO sengaja mengecilkan jumlah korban sipil.
Keberadaan asing di Afghanistan sejauh ini gagal mengeliminasi militansi dan mendatangkan kedamaian serta stabilitas ke negara itu.
Jumlah korban sipil di Afghanistan mengalami peningkatan drastis di bulan Juli sebanyak 270 jiwa dan 560 lainnya luka-luka dalam serangan teroris.
Menyebutkan kenaikan 29% dan 5% dalam jumlah korban sipil dan serangan, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Zemeri Bashary mengatakan bahwa total 765 serangan teroris diluncurkan di bulan Juli.
Bashary mengatakan ibukota Kabul, wilayah barat daya dan selatan Afghanistan menjadi pusat serangan.
Menurut pemerintah Afghan, 263 orang ditahan atas kecurigaan terlibat dalam aktivitas teroris, sementara 673 militan Taliban tewas di bulan Juli.
Bashary menambahkan bahwa insiden paling mematikan terjadi pada tanggal 23 Juli di provinsi Helmand, di mana serangkaian serangan mortir menghilangkan nyawa 52 warga sipil di daerah pemukiman.
Statistik juga menunjukkan bahwa bulan Juli menjadi bulan paling berdarah bagi pasukan asing di Afghanistan dengan 89 personel asing tewas dalam satu bulan itu.
Sejauh ini, lebih dari 400 tentara asing terbunuh di negara tersebut, dengan hampir 2,000 tentara yang tewas sejak invasi tahun 2001. (rin/pv) www.suaramedia.com
