Gabi Ashkenazi merupakan pejabat tertinggi ketiga yang memberikan kesaksiannya minggu ini. Sebelumnya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Ehud Barat sudah memberikan kesaksian.
Sejauh ini, baru Ashkenazi yang memberikan keterangan paling kohesif, hidup dan runtut dari peristiwa penyerangan kapal Mavi Marmara oleh pasukan Israel di jalur Gaza pada 31 Mei lalu. Serangan tersebut menewaskan sembilan orang aktivis, termasuk satu orang berkewarganegaraan ganda, Turki dan AS.
Komite itu memutar kembali tayangan video yang memperlihatkan berbagai peristiwa (versi Israel) saat penyerangan, termasuk sebuah kontak radio yang berisi peringatan kepada armada kapal karena mereka berlayar menuju blokade laut dan permintaan agar kapal Mavi Marmara mengubah arah atau menuju Pelabuhan Ashdod, agar bantuan kemanusiaan yang dibawa bisa "diperiksa" terlebih dahulu.
Kemudian disusul rekaman serangan versi Israel, memperlihatkan pasukan komando memasuki kapal dari samping sebelum pasukan diturunkan dari helikopter. Menurut versi Israel yang sudah disunting tersebut, pasukan Israel "diserang" para aktivis yang "bersenjata".
Sesi sebelumnya berlangsung tidak ramai, berisi proses pembuatan kebijakan dan keputusan.
Namun, kesaksian hari Rabu tersebut lebih "mendalam" karena lima orang anggota Panel asal Israel dan dua orang pengamat internasional tampak hanyut dalam detail militer dan operasional dari serangan yang dikecam luas oleh kelompok-kelompok pembela HAM.
Ashkenazi menjawab semua pertanyaan. Saat ditanya mengenai senjata yang tidak mematikan, kepala staf militer tersebut mengatakan bahwa para prajuritnya telah diberikan berbagai pilihan. "Tapi, saat mereka ada dalam situasi yang 'mengancam nyawa', mereka mulai menembak."
Ia menambahkan bahwa para prajurit mulai menembak hanya untuk "membela diri" dan hingga jembatan sepenuhnya ada di bawah kendali mereka setelah 50 menit "bertempur" di perairan internasional.
"Setelah prajurit pertama menuruni tali, tidak ada pilihan lain kecuali melanjutkan rencana," katanya.
Ashkenazi, yang merupakan perwira militer kawakan, justru memuji "penilaian" prajurit dan menjaga nilai-nilai dan "kemurnian" penggunaan senjata IDF.
"Bisa dipastikan, para aktivis terlebih dahulu 'memulai menembak'," kata Ashkenazi. Ia juga membantah keras klaim Turki yang menyebut bahwa para korban dieksekusi mati dengan tembakan. Menurutnya, "baku tembak" dilakukan pada jarak dekat. Ashkenazi juga mengklaim bahwa pasukannya sudah memilih senjata kaliber 9 milimeter agar "meminimalkan dampak" dibandingkan dengan senjata kecepatan tinggi.
Mungkin, pertanyaan yang paling menonjol di benak Israel telah ditanyakan oleh Jacob Turkel, ketua komisi tersebut, yang menyatakan bahwa ada dugaan intelijen menyebabkan militer salah membaca niatan para penumpang kapal Mavi Marmara dan menganggapnya "provokatif". Kapal itu milik yayasan Turki, IHH, dan mendapatkan dukungan dari pemerintah Turki, yang memungkinkannya berlayar dari Istanbul.
Ashkenazi setuju, ia mengatakan bahwa Israel tidak banyak tahu soal IHH, yang dinyatakan Israel sebagai organisasi ilegal karena mendukung Hamas.
"Kesalahan militer yang paling besar adalah meremehkan kekuatan perlawanan. Pasukan yakin bahwa granat kejut yang dilempar dari helikopter ke arah para aktivis sudah cukup untuk membuka dek agar 15 prajurit bisa dengan cepat menuruni tali dalam semenit dan mengamankan jembatan," kata Ashkenazi.
Sama seperti Netanyahu dan Barak, Ashkenazi berhati-hati dan tidak secara publik menyalahkan Turki dan semakin merusak hubungan dengan negara yang dulunya menjadi sekutu Muslim terdekat Israel sebelum serangan terjadi. Ia berfokus pada tindakan dan pertanggungjawaban Israel.
"Anda tidak mungkin mengharapkan data intelijen 100 persen. Kita tidak mungkin tahu segalanya," kata Ashkenazi. Ia menambahkan bahwa akan selalu ada keputusan mendadak dan ada kesalahan. "Kita harus mengukur apakah kesalahan-kesalahan ini sah atau tidak," katanya. (dn/lt) www.suaramedia.com
