-->

Pemerintah Fatah Dalangi Perenggutan Cahaya Dari Gaza?

JALUR GAZA (SuaraMedia News) – Seorang pejabat pemerintah Palestina di Jalur Gaza menuding perdana menteri pemerintah Fatah, Salam Fayyad, mendalangi pemadaman listrik di Jalur Gaza.

Asisten direktur badan energi Palestina di Gaza, Kanaan Ubeid, mengatakan, "Listrik Gaza padam pada hari Jumat pukul delapan pagi karena semua generator kehabisan bahan bakar, yang berarti kekurangan pasokan daya untuk 50% populasi Gaza."

Ubeid membeberkan bahwa pemerintahan Salam Fayyad turut berperan untuk mengurangi jumlah bahan bakar industri yang disuplai untuk pembangkit listrik tersebut, tujuannya agar pasukan penjajah (Israel) dapat masuk ke Gaza.

Ubeid menambahkan, empat buah generator di fasilitas tersebut berhenti berfungsi karena pasokan bahan bakar berkurang, dari 2.200 unit per hari menjadi hanya 750 unit. "Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk menghidupkan satu generator."

Namun, Israel mengatakan bahwa pemadaman tersebut disebabkan oleh kekacauan pendanaan Palestina. Israel menambahkan, pemerintahan Hamas telah menghentikan pembelian bahan bakar.

Bahan bakar industri diperlukan untuk menggerakkan pembangkit listrik. Bahan bakar tersebut dialirkan melalui terminal bahan bakar yang dikendalikan Israel, di mana Israel menetapkan besaran kuota impor.

Jumlah pasokan bahan bakar untuk satu-satunya pembangkit listrik Gaza tersebut menurun sejak bulan November pada saat Komisi Eropa mengalihkan tanggung jawab pembelian bahan bakar kepada pemerintah Palestina di Tepi Barat setelah program bantuan mereka berakhir.

Angkatan Bersenjata Israel mengatakan Palestina tidak lagi membeli bahan bakar dalam beberapa hari terakhir. Menurut Israel, hal itu disebabkan karena Hamas tidak dapat membayar tanggungannya dari biaya keseluruhan.

"Tidak ada keterlibatan Israel dalam hal ini, jika mereka membeli bahan bakar, kami akan membiarkannya, seperti yang kami lakukan setiap hari," kata Guy Inbar, seorang juru bicara penghubung militer Israel untuk Gaza.

Kantor berita Press TV menyebutkan bahwa pemadaman tersebut terjadi di Gaza karena Israel menghalangi masuknya bahan bakar yang amat diperlukan di wilayah miskin tersebut.

Pejabat penghubung Palestina, Raed Fattouh, membenarkan adanya penutupan perbatasan oleh Israel yang kemungkinan besar terus berlanjut pada hari Sabtu.

Hal itu berarti listrik di Gaza akan tetap padam selama dua hari ke depan hingga bahan bakar dapat masuk dan dikirimkan ke pembangkit listrik.

Suplai bahan bakar khususnya tercatat amat rendah dalam beberapa minggu terakhir, sebagian karena sudah tidak ada lagi pengirman dalam dua hari terakhir, terkait perayaan Paskah Yahudi.

Hanya 550.200 liter (145.294 galon) bahan bakar yang dikirimkan minggu ini, dan minggu sebelumnya, jumlah pasokan bahan bakar 721.600 liter (190.642 galon). Bandingkan saja dengan jumlah 3,5 juta liter (924.602 galon) per minggu yang normalnya diperlukan untuk mengoperasikan pembangkit listrik, kata kelompok bantuan OXFAM.

70 persen listrik yang diperlukan Gaza dipasok oleh Israel, sementara Mesir menyumbangkan lima persen, sisanya berasal dari pembangkit listrik yang telah ditutup.

Sejak tanggal 3 Maret, fasilitas tersebut hanya dapat menghasilkan daya sebesar 30 megawatt, atau 38 persen dari kapasitas penuhnya.

Hal itu berujung pada pemadaman listrik yang berlangsung 8 hingga 12 jam sehari di wilayah miskin tersebut. Pemadaman itu mempengaruhi sejumlah layanan-layanan vital lainnya, termasuk pasokan air, perawatan medis, dan pembuangan selokan, menurut lembaga PBB yang mengawasi koordinasi isu kemanusiaan. (dn/im/ay/pv) www.suaramedia.com