+ResistNews Blog - Setelah kelompok pemberontak Syiah Hautsi yang didukungnya terpojok akibat serangan koalisi negara Teluk, Iran mengirimkan usulan rencana perdamaian kepada PBB. Teheran menuntut PBB untuk terlibat lebih efektif dalam mengakhiri serangan udara koalisi Teluk.
Menteri luar negeri Iran Javad Zarif mengirimkan surat yang berisi empat poin usulan rencana perdamaian di Yaman kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon, Jumat (17/04).
Melalui surat tersebut Iran mendesak PBB untuk terlibat lebih efektif dalam mengakhiri serangan udara, yang menurut mereka tidak masuk akal.
Dalam suratnya Menlu Iran juga menyebut bahwa kelompok teroris mendapatkan posisi strategis di Yaman, dengan dibantu serangan udara asing. Dalam rencana yang diusulkannya Iran juga meminta dilakukannya kembali dialog nasional yang dipimpin oleh orang Yaman sendiri.
Zarif juga mendesak dilakukannya gencatan senjata di Yaman. Menurutnya dengan dilakukannya gencatan senjata maka akan menjamin masuknya bantuan kemanusiaan bagi penduduk Yaman.
“Situasi kritis ini terus meningkat dan krisis kemanusiaan di Yaman mendekati dimensi bencana,” kata Zarif dalam suratnya.
Pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok Syiah Hautsi telah menyebabkan kekacuan di wilayah Yaman. Setelah menggulingkan pemerintahan yang sah pada bulan Februari lalu, mereka terus memperluas wilayahnya kekuasaannya bahkan hinga ke perbatasan Arab Saudi.
Iran adalah pendukung utama dibalik pemberontakan kelompok Syiah yang sebelumnya berbasis di wilayah utara Yaman tersebut, meskipun berulang kali membantah. Tertangkapnya dua perwira Garda Revolusi Iran di Aden menjadi bukti terbaru dukungan Teheran terhadap pemberontak Hautsi.
Untuk melindungi rakyatny dari ancaman pemberontak Hautsi, presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi meminta bantuan ke negara-negara Teluk. Akhirnya koalisi negara Teluk mulai melancarkan serangan udara terhadap kelompok pemberontak sejak tanggal 25 Meret lalu. [Anadolu/kiblat.net/ +ResistNews Blog ]