+ResistNews Blog - Diperbolehkannya “berekspresi” dan menampilkan penghinaan kepada Nabi oleh Prancis kepada Charlie Hebdo membawa konsekuensi berat. Perancis berada dalam serangan peretas sejak penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo pekan lalu. Menurut pimpinan pertahanan siber untuk militer Prancis telah terjadi serangan terhadap setidaknya 19.000 situs hingga saat ini.
Jenderal Arnaud Coustilliere, Jumat (16/1), mengatakan bahwa ribuan situs Prancis berada dalam serangan siber – yang menurutnya merupakan aksi balasan terhadap jutaan masyarakat yang menghadiri long march Je Suis Charlie di Paris.
Situs seperti 20 Minutes, Mediapart, France Info, Le Parisien dan L”Express semua mendapatkan serangan tersebut. Serangan-serangan tersebut beragam sifatnya dari penutupan situs hingga penyusupan dan menempatkan simbol yang terkait dengan grup jihad di halaman depan.
Menurut Coustilliere melaporkan bahwa situs yang menjadi korban terdiri dari situs pengantaran pizza hingga situs resmi seperti situs militer.
“Ini adalah pertama kalinya negara Prancis mengalami serangan secara begitu besar,” kata Coustilliere.
“Tetapi ini sesuatu yang baru dan penting, bahwa ada 19.000 situs (diserang), yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ini untuk pertama kalinya negara dihadapkan dengan gelombang besar konsestasi cyber,” tuturnya.
Menurut The Telegraph, Prancis telah dihantam dengan lebih dari 1.000 serangan DDoS (Distributed denial of service) selama 24 jam terakhir. Serangan ini membuat server tak bisa bekerja karena dibanjiri dengan permintaan sehingga gagal memuat data yang diinginkan pengguna.
Serangan tersebut memang hanya seperempat dari serangan yang diterima Amerika Serikat. Mungkin terdengar tidak begitu banyak tapi AS memiliki server 30 kali lebih banyak dibanding Prancis, sehingga beban serangan yang dihadapi server Prancis jauh lebih besar dibandingkan server di AS. (bs/lasdipo/ +ResistNews Blog )
