-->

Beginilah Gambaran Amburadulnya Rezim Kabul yang Mereka Tutup-tutupi



Rezim Kabul di Afghanistan dinilai banyak kalangan mulai berbenah setelah pemilu berhasil terlewati. Namun tidak banyak yang tahu bahwa dari dalam tubuh pemerintahan Kabul sekarang sedang terjadi kerusakan dan pembusukan luar biasa. Alih-alih melawan Taliban, menata diri sendiri saja Kabul masih terseok-seok.

Hal itu terlihat dari infrastruktur pemerintahan Kabul yang acak adut. Pemerintah Kabul masih menunda pembentukan kabinet dan badan pelayanan publik tidak berjalan di hampir sekujur Afghanistan. Belum ditambah warisan sistem korupsi yang menggurita hampir di semua bidang, belum lagi angkat kakinya ISAF membuat Kabul sempoyongan.

Pekan kemarin, sebagian pasukan tempur Barat sudah angkat koper meninggalkan Afghanistan. Sejurus kemudian Presiden Ashraf Ghani berpidato bahwa inilah saatnya era baru Afghanistan, dimana Afghanistan akan membuktikan kemandiriannya.

Ia mengatakan negara itu ” melewati dua tes yang sulit ” yaitu transisi ke pemerintahan sipil yang baru dan kontrol militer, serta tantangan berikutnya, membangun ekonomi yang solid.

Namun Ghani tidak paham realita bahwa pemerintahannya sangat rapuh setelah ditinggal ISAF dan warisan buruk pemerintahan sebelumnya. Banyak wilayah bagian dan provinsi yang kosong dari orang-orang kredibel. Wilayah-wilayah tersebut tidak memiliki tim pemerintahan yang baik yang siap bertempur dengan Taliban dan bergulat melawan korupsi.

Sebagai contoh, dalam satu provinsi terdapat pejabat polisi yang telah dipecat, namun tidak diiringi dengan pergantian, padahal tugas keamanan sedemikian menumpuk. Di lain sisi administrasi kependudukan dan catatan sipil juga amburadul.

Bahkan pekerja kantor pemerintahan sering menganggur, bahkan kedapatan oleh wartawan sedang menyewa penari di lorong-lorong saat jam kerja berlangsung.

“Semuanya terjebak. Tidak ada kerangka kerja, tidak ada arahan, tidak ada prioritas pengaturan atau pembuat keputusan,” kata Fawzia Koofi, salah satu dari banyak anggota DPR yang telah menyatakan keprihatinan yang sama.

“Di negara seperti kita dengan sistem politik yang lemah, Anda perlu menteri yang kuat dan gubernur untuk memberikan kepemimpinan, tapi kami masih tidak memilikinya. Jadi mereka di bawah melihat hal ini sebagai peluang untuk bertindak hal-hal yang merugikan negara,” lanjutnya.

Serangan demi serangan Taliban yang berhasil menusuk jantung Ibukota menunjukkan lemahnya kepemimpinan dan jaringan keamanan dalam negeri. Kementrian pertahanan dan badan keamanan merupakan bagian terburuk dalam kinerja hingga serangan Taliban mampu menyasar tetara asing dan fasilitas tentara ibukota.

Tapi Ghani dan beberapa pembantu keamanan tetap saja berbicara pada upacara istana minggu ini dan sesumbar mampu menghadapi musuh-musuhnya meski tanpa kelanjutan dukungan tempur dari luar negeri.

“Anak-anak Anda (pasukan NATO- red) pulang ke rumah, namun anak-anak kita akan terus berkorban untuk Afghanistan,” kata Ghani, mengacu pada pasukan AS dan NATO yang berangkat angkat kaki dari Kabul.

“Hari ini kekuatan kita bertanggung jawab penuh atas seluruh negeri, dan keamanan Afghanistan akan menyebabkan keamanan dunia,” lanjutnya.

Ghani dan penasihatnya terus meminta kesabaran, setelah gagal memenuhi tenggat waktu beberapa sebelumnya untuk membentuk kabinet. Pekan lalu, Ghani bertemu dengan sekelompok legislator dan berjanji akan mengumumkan kelompok pertama calon minggu depan. Tapi beberapa pemimpin parlemen mengatakan mereka begitu muak dan mungkin menolak untuk meratifikasi pilihannya.

Seorang ajudan kepresidenan mengatakan bahwa proses pengangkatan tertunda karena tarik ulur dengan pejabat perihal komposisi etnis dan keseimbangan politik.

Ghani dan rekan politiknya telah membagi lembaga-lembaga penting dan negosiasi atas beberapa kandidat. Terutama Kementerian Dalam Negeri, area basah penuh proyek senjata dan korupsi.

Sementara itu, kebuntuan terjadi di tataran pelayanan publik. Mantan pejabat, legislator, dan analis mengatakan fungsi birokrasi yang rutin dilaksanakan tidak berjalan dengan baik. Para menteri enggan untuk menjalankan perintah sehingga banyak proyek berhenti.

Minggu ini, saluran berita Tolo-TV melaporkan bahwa Kantor Chief Executive sebagian besar masih belum memiliki staff, meskipun dialokasikan sekitar 500 posisi. Hal itu karena presiden tidak mengucurkan dana operasionalnya.

Tolo-TV juga mengatakan bahwa badan khusus yang dibentuk Ghani untuk mempromosikan reformasi dan tata pemerintahan dengan sekitar 200 posisi, tetap belum memiliki staff untuk alasan yang sama.

Banyak orang ditempatkan pada pekerjaan yang bukan bidangnya, karena keputusan Ghani November lalu yang menonaktifkan mantan menteri di semua lini pemerintahan. Dan sekarang para mantan menteri tersebut mengkritik kebijakan Ghani.

“Masalahnya bukan kekurangan teknis, tapi lemahnya kemauan politik,” kata seorang mantan menteri.

“Di lembaga ini bertanggung jawab untuk ribuan karyawan dan anggaran yang besar. Tidak ada alasan ini harus begitu lama.”

Pada Departemen Pendidikan, beberapa guru sudah tidak dibayar selama berbulan-bulan. Kementerian Pengungsi sama saja, sudah tidak ada lagi yang menjawab telepon di beberapa kantor manajemen pekan lalu, dan tidak ada seorang pun di meja resepsionis yang tahu situasi.

Jaringan Independen Anti – Korupsi Afghanistan baru-baru ini memperingatkan bahwa penundaan akan berakibat menjamurnya korupsi karena berhentinya sistem pemerintahan. “Ini kesempatan untuk menjarah Afghanistan,” katanya.


Slogan anti-korupsi yang dulu digembar-gemborkan Ghani saat kampanye presiden hanya pepesan kosong belaka. Ghani kena getahnya saat perjalanan ke provinsi paling barat Herat pekan lalu.

Ghani tiba-tiba diberhentikan sejumlah pejabat termasuk semua kepala polisi distrik 15 setelah mendengar keluhan dari penyimpangan dan kinerja yang buruk. Termasuk tidak segera diisinya posisi yang kosong setelah pemecatan yang berakibat pada lemahnya jaringan keamanan.

“Kami memiliki masalah mengerikan dengan ketidakamanan. Pemilik usaha sedang ditangkap untuk tebusan atau pembunuhan,” kata Haji Shahid Zada, seorang legislator dari Herat yang menemani presiden pada kunjungannya.
“Mungkin beberapa pejabat yang diberhentikan itu korup, tapi kami tidak mengira bahwa setelah itu malah kosong tidak ada orang baru di sana. Itu tidak benar,” katanya.

Efek amburadulnya pemerintahan juga berdampak ke sektor ekonomi. Sektor usaha kecil, kontraktor publik dan proyek terseok-seok. Padahal mereka adalah kunci bagi kelangsungan hidup ekonomi bagi ribuan orang Afghanistan.

Pada hari Kamis, beberapa tukang menganggur, duduk di luar deretan lokakarya di bagian Barat Kabul. Sambil merokok mereka mendiskusikan masalah bisnis mereka. Mereka mengatakan pesanan untuk meja kantor, meja, dan lemari hampir tidak ada ketika krisis pemilu dimulai, dan keadaan itu terus berlanjut meskipun instalasi pemerintah baru sudah disusun pada akhir September lalu.

“Saya memilih Dr. Ghani , karena semua orang mengatakan dia memiliki otak terbaik dan memiliki masa depan bagi negara kita,” kata salah seorang pembuat furnitur, Zabiullah (27).

“Tapi (kami tertipu) pemerintah tidak bisa membawa bisnis baru. Hanya bisa memberi pajak baru pada toko kami. Saya menyesal telah memilih dia, dan begitu pula banyak rakyat Afghanistan merasakan hal yang sama.”

Nampaknya kehancuran rezim Kabul tinggal menunggu waktu. Secara politik, Taliban akan mendapat dukungan luas dari rakyat untuk kembali mengatur Afghanistan dengan aturan syar’inya. Semoga… (wp/lasdipo/ +ResistNews Blog )