+ResistNews Blog - KOMISI Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan rekonstruksi penggerebekan yang dilakukan Densus 88 Antiteror Polri terhadap terduga teroris yang terjadi di Jalan H Dewantoro Gang H Hasan, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten..
“Komnas HAM datang untuk melakukan rekonstruksi penembakan kemarin. Kami akan menilai peristiwa ini ada pelanggaran HAM-nya atau tidak,” ujar Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila di Ciputat, Sabtu (4/1/2014) siang.
Alumni Fakultas Hukum UII Jogjakarta ini menegaskan Komnas HAM memiliki wewenang untuk menilai apakah ada pelanggaran HAM atau tidak dalam suatu peristiwa.
“Jadi ini sama sekali tidak dalam hal wacana konteks politik atau pun lainnya,” ujarnya
Kegiatan rekonstruksi ini merupakan proses awal untuk Komnas HAM dalam mencari fakta yang terjadi pada peristiwa yang telah menewaskan 6 terduga teroris. Menurut Siti Noor, masih ada tahapan lainnya yang harus dikerjakan Komnas HAM agar mendapatkan data yang dibutuhkan. Komnas HAM berjanji akan memaparkan hasil investigasi dalam waktu satu pekan.
“Perlu waktu kira-kira satu minggu untuk menjawab tindakan ini ada pelanggaran HAM atau tidak,” katanya.
Selain dirinya, anggota Komnas HAM yang datang ke lokasi adalah Sianne Indriani dan Nur Kholis. Setibanya pada sekitar pukul 11.00 WIB, mereka langsung menuju rumah kontrakan tempat kelompok teroris dikepung polisi untuk melakukan rekontruksi.
Sebelumnya, Komisioner sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan dari Komnas HAM, Siane Indriani menyatakan keprihatinannya terhadap aksi Densus 88 yang menewaskan enam orang di Ciputat terkait pemberantasan terorisme.
“kita sangat menyesalkan peristiwa tersebut, Densus 88 masih menggunakan pola-pola lama (dalam menangani kasus terorisme), tidak ada perubahan,” ujarnya kepada Islampos lewat sambungan telepon, Rabu (1/1/2014).
Menurut Siane Indriani, tindakan Densus 88 ini juga menunjukkan ketidak seriusan mereka dalam memperbaiki kinerjanya supaya lebih memperhatikan hak-hak asasi manusia.
“Sebenarnya sudah ada komitmen dari Kepolisian dan Densus 88 untuk memperbaiki kinerja, tapi dengan kejadian ini terbukti bahwa itu tidak lebih dari sekedar lips service,” papar Siane. [Islampos/ +ResistNews Blog ]