-->

Aneh bin Ajaib, Pada Zaman Digital Ini Masih Ada Pelarangan Jilbab di Bali



+ResistNews Blog – Sungguh kejam, kolot dan kuno. Mungkin itu adalah kata-kata paling pas yang bisa disematkan pada aparatur SMA Negeri 2 Denpasar, Bali. Selama bertahun-tahun bersekolah di institusi itu, seorang siswi bersusah payah untuk mempertahankan jilbab yang dipakainya. Kepala SMA dan banyak oknum aparatur institusi tersebut kukuh melarang penggunaan jilbab bagi siswi muslimah.

Anita Whardani, siswi yang kini duduk di kelas XII telah memperjuangkan jilbab yang dipakainya di lingkungan belajar dan mengajar sejak 2011, saat ia masih kelas X. Sementara pihak yang paling ngotot untuk melanggar hak asasi yang dimiliki Anita untuk memakai jilbab adalah kepala SMA, Ketut Sunarta.

Salah satu alasan kolot dan intoleran yang pernah disampaikan oleh Sunarta selaku kepala adalah bahwa penggunaan jilbab membuat pemakaian seragam menjadi kacau. “Ini kan bukan sekolah Islam, bukan juga Hindu saja, jadi lebih baik jangan ada yang beda-beda (simbol-simbol agama) seperti itu, biar seragam saja.” begitu alasan yang ia sampaikan saat melakukan tekanan pada Anita untuk tak mengenakan jilbab.

Besar kemungkinan bahwa pelarangan jilbab SMA di Bali yang berlangsung pada zaman digital dan penuh keterbukaan informasi ini banyak melibatkan sistem penyelenggara sekolah. Bahkan disinyalir kuat komite sekolah ikut terlibat dalam aksi pelarangan tersebut.

Penolakan yang kolot dan keras terbukti tak hanya dilakukan kepala SMA. Salah satunya adalah seorang guru bernama Ni Putu Suka Putrini melakukan serangan verbal kepada Anita. “Pindah sekolah saja kalau mau memakai jilbab! Kasihan peraturan sekolah gaditaati!” begitu katanya.[shoutussalam.com/ +ResistNews Blog ]