![]() |
| Gereja Katedral Jakarta akan menjadi pusat pengamanan Polisi |
Harits mengatakan jika kemarin ada beberapa orang yang ditangkap Densus 88 dengan tuduhan terorisme bukan otomatis bisa membenarkan pernyataan SBY terkait ancaman jelang Natal dan tahun baru. Intelijen tetap saja adalah produk analisis yang bisa benar, juga bisa salah.
“Malah menurut saya pergerakkan Densus 88 dengan menangkap orang-orang yang disangka teroris justru untuk menjustifikasi omongan SBY supaya tidak dianggap ngibul. Dan, Densus 88 juga mau buktikan ke khalayak bahwa ancaman terorisme itu benar adanya, karena dari Densus lah Kapolri dapat pasokan utama tantang narasi terorisme dan disampaikan kepada SBY,” ujarnya kepada Islampos, Senin (16/12).
Padahal dalam perspektif hukum, kata Harits, orang yg ditangkap belum tentu benar mereka teroris bahkan punya rencana aksi jelang Natalan dan tahun baru. Pengadilan juga belum memproses mereka yang ditangkap.
“Jadi menurut saya SBY cenderung mencoba menggoreng isu keamanan dan terorisme untuk pengalihan isu yang negatif terkait Cikeas. Mungkin juga untuk mendulang empati publik non muslim dan Barat bahwa SBY orang yang sangat toleran dan perhatian kepada umat minoritas,” katanya.
Bukan tidak mungkin, lanjut Harits, “drama” dan rekayasa disiapkan sedemikian rupa dengan multi target. Umat Islam diminta waspada dan tidak terpancing provokasi pihak oportunis.
“Tapi lagi-lagi yang menjadi korban adalah anak-anak umat Islam ini. Saya pikir ada pihak-pihak opurtunis yang ingin melanggengkan isu terorisme,” tutupnya. [Islampos/ +ResistNews Blog ]
