Sebuah kudeta yang disponsori militer
Mesir—berkerjasama dengan kelompok sekular liberal, dengan dukungan
Kristen koptik dan Syaikh Ahmad ath-Thayib dari al-Azhar—telah
menumbangkan Mursi dari jabatan presiden Mesir. Mursi yang terpilih
secara demokratis mendapatkan kenyataan pahit: Partai an-Nur yang
berlatarbelakang salafi justru mendukung kudeta yang dilakukan militer
Turki.
Beberapa negara-negara Arab kaya, secara
memalukan, mengucapkan selamat atas kudeta ini dan memuji keberanian
militer Mesir. Raja Arab Saudi Abdullah mengirimkan ucapan selamat
kepada pemimpin baru Mesir. “Atas nama rakyat Arab Saudi, saya
mengucapkan selamat kepada Anda karena mengambil-alih kepemimpinan Mesir
pada saat kritis ini dalam sejarah Mesir,” ujar Raja Abdullah dalam
pesannya seperti dilansir kantor berita AFP,Kamis (4/7/2013).
Raja Abdullah juga memberikan pujian
kepada militer Mesir dan pemimpinnya Jenderal Abdel Fattah al-Sisi
karena menggunakan “kebijaksanaan” dalam membantu menyelesaikan krisis
ini dan menghindari “konsekuensi yang tak terbayangkan”.
Tidak hanya itu, negara-negara Arab ini
berjanji akan memberikan bantuan kepada rezim baru Mesir bentukan
militer. Khawatir rezim militer Mesir yang didukung Amerika Serikat
kembali jatuh, para penguasa kaya negara Arab berjanji memberikan
bantuan 12 miliar dolar untuk Mesir. Bantuan dari negara-negara kaya
Arab di Teluk Persia merupakan hal yang penting bagi para pemimpin Mesir
yang didukung militer, agar dapat bernafas lega untuk melakukan
pembayaran impor pangan dan bahan bakar. Namun, manfaat bantuan itu
hanya untuk sementara, karena ekonomi Mesir yang rusak tetap tidak
diperbaiki.
Buah ‘Revolusi’ Mesir yang Gagal
Penggulingan Mursi bisa disebut merupakan buah ‘revolusi’ Mesir yang gagal. Pertama:
perubahan yang terjadi di Mesir sebagai imbas dari ‘Arab Spring’ hanya
terjadi pada pergantian figur Mubarak dan orang-orang yang dianggap
dekat dengannya. Adapun rezim militer yang selama puluhan tahun menjadi
pemain utama panggung politik Mesir tidak berubah. Rezim militer masih
memiliki peran sentral dalam perpolitikan Mesir. Dalam kenyataannya,
militer merupakan pemegang kekuasaan riil di Mesir hingga saat ini.
Mursi yang dipilih secara demokratis
harus menghadapi kenyataan ini. Mursi tidak bisa berbuat banyak karena
harus berhadapan dengan dominasi militer penguasa riil Mesir. Presiden
yang berasal dari Ikhwan al-Muslimin ini, dibatasi oleh
kepentingan-kepentingan militer.
Bisa jadi militer Mesir yang korup dan
berada dalam kendali penuh Amerika Serikat. Meskipun pada awalnya
terpaksa menerima Mursi, belakangan militer melihat Mursi sebagai
ancaman kepentingan mereka baik itu kepentingan bisnis korup militer
atau kepentingan ideologi Amerika Serikat yang menjadi tuan besar
militer selama ini.
Militer Mesir memang dikenal bengis
terhadap lawan-lawan politiknya dan korup. Militer dengan kekuasaan
tunggal memiliki banyak bisnis. Tidak ada yang tahu persis berapa
sektor ekonomi yang mereka kuasai. Perwira-perwira tinggi militernya
memilik banyak perusahaan termasuk produsen laptop, tv, pemasok
peralatan medis, air minum, real estate termasuk bisnis parawisata di
tepi Pantai Sharm El Sheikh. Sebagian gubernur di berbagai kawasan di
Mesir juga merupakan pensiunan perwira tinggi militer. Bisa jadi
beberapa kebijakan Mursi seperti penunjukkan gubernur dari kelompok
Ikhwan dan kebijakan parawisata dianggap mengancam bisnis militer.
Seperti yang sering dijadikan alasan kelompok oposisi, Mursi melakukan
‘ikhwanisasi’.
Secara ideologis, Amerika punya tiga kepentingan besar di Timur Tengah, termasuk Mesir. Pertama: menjamin suplay energi murah untuk Amerika terutama minyak. Kedua: terjaminnya eksistensi entitas zionis Yahudi. Ketiga:
membendung gerakan-gerakan Islam politik yang ingin menegakkan Daulah
Islam atau Khilafah yang jelas-jelas mengancam kepentingan Amerika.
Dalam konteks ini, bagaimanapun bagi
negara adidaya ini, keberadaan penguasa Mesir dari kelompok liberal
sekular dengan dukungan militer jauh lebih aman dibandingkan dengan
penguasa yang berasal dari kelompok Islam. Meskipun rezim Mursi sendiri
berupaya menampilkan sosok ‘islam moderat’ yang pluralis dan
demokratis, kecurigaan bahwa kelompok Islam seperti Ikhwanul Muslimin
memiliki agenda tersembunyi ingin menegakkan syariah Islam masih ada.
Apalagi pasca tumbangnya Husni Mubarak,
seruan-seruan penegakan syariah Islam semakin kencang dilakukan di
tengah-tengah masyarakat, khutbah-khutbah Jumat dan ceramah-ceramah
keagamaan. Seruan-seruan jihad membebaskan Palestina pun semakin terbuka
dilakukan. Para demonstran secara berani menyerbu Kedubes Israel di
Kairo. Ini tentu saja sangat mengkhawatirkan Amerika Serikat dan sekutu
militernya.
Tidak mengherankan kalau Amerika Serikat
terus-menerus memilihara militer meskipun selama puluhan tahun
melakukan kekejaman hingga sekarang ini dan korup. Selama lebih dari 30
tahun, pemerintah demi pemerintah yang berkuasa di Gedung Putih, terus
menyalurkan sejumlah besar bantuan militer ke Mesir. Bantuan ini
merupakan bantuan kedua terbesar yang dikeluarkan Negara Paman Sama ini
setelah bantuan ke Israel; termasuk bantuan mesin perang dan jet-jet
tempur F-16. Selain itu terdapat 500 pejabat militer Mesir yang
menempuh pascasarjana militer di Amerika setiap tahun. Bahkan pria yang
memimpin militer dan menggulingkan Mursi adalah alumni US Army War
College di Pennsylvania. Melihat kedekatan militer Mesir dengan Amerika
Serikat hampir bisa dipastikan seluruh tindakan militer Mesir termasuk
dalam penggulingan Mursi tetap dalam restu negara imperialis Amerika
Serikat.
Perubahan yang hanya sebatas figur Husni
Mubarak ini tentu saja tidak membawa perubahan yang sifatnya ideologis
dan sistemik. Sistem yang diterapkan di Mesir tetap saja sekular, jauh
dari syariah Islam. Ini pulalah yang menyebabkan mengapa ekonomi Mesir
tidak banyak berubah. Pasalnya, pangkal persoalan ekonomi Mesir justru
karena negara itu masih tunduk pada kebijakan-kebijakan ekonomi Barat.
Pada masa Mursi, negara itu masih bekerjasama dengan lembaga-lembaga
ekonomi global seperti IMF dan Bank Dunia yang menjadi organ global
penjajahan Barat. Kondisi ekonomi yang belum mememuaskan masyarakat
inilah yang digunakan oleh kelompok sekular dan militer untuk
memprovokasi rakyat menentang Mursi.
Masa Depan Mesir
Untuk perbaikan yang nyata bagi Mesir ke
depan, tidak ada pilihan lain kecuali menghilangkan penyebab-penyebab
kegagalan ‘revolusi’ yang berhasil menumbangkan Husni Mubarak. Untuk
masa depan Mesir ada beberapa agenda penting yang harus dilakukan. Pertama:
tidak cukup perubahan figur atau rezim, tetapi harus terjadi perubahan
sistem. Sistem sekular yang menjadi pangkal persoalan di Mesir selama
ini harus diganti dengan sistem Islam yang menerapkan seluruh syariah
Islam di bawah naungan Khilafah.
Kedua: militer
Mesir yang memiliki posisi strategis harus mengubah loyalitas mereka
dari menghamba kepada Amerika menjadi semata-mata mengabdi kepada Allah
SWT; dari melayani kepentingan penjajahan Amerika menjadi benar-benar
melayani kepentingan rakyat untuk kebaikan rakyat. Inilah yang
memberikan jalan kebaikan bagi milter.
Ketiga: harus
diputus secara total bentuk hubungan dengan Amerika dan
sekutu-sekutunya, termasuk organ-organ politik dunia mereka seperti PBB,
IMF, dan Bank Dunia. Sikap menerima bantuan Amerika dan berkerjasama
dengan negara itu telah mengokohkan intervensi dan penjajahan Amerika di
Mesir dan Dunia Islam. Amerikalah musuh sejati umat Islam, bukan sesama
umat Islam.
Untuk itu umat Islam Mesir maupun
negeri-negeri Islam lainnya tidak memiliki pilihan lain kecuali berjuang
bersama untuk menegakkan Khilafah Islam sebagai sebuah kewajiban yang
diperintahkan Allah SWT. Dengan Khilafah Islam, seluruh syariah Islam
akan ditegakkan, persatuan umat Islam sejati akan kokoh, kebaikan di
dunia maupun di akhirat bisa diraih. Inilah jalan satu-satunya. Tidak
ada yang lain. [hizbut-tahrir.or.id/blog.resistnews.web.id]
