blog.resistnews.web.id - Selama ini Amerika Serikat (AS) dianggap sebagai negara penganut
demokrasi mutlak di dunia. Tetapi timbul banyak pertanyaan mengapa hanya
ada dua partai yang bertarung dalam pemilu.
Bagi Profesor Sejarah American University Allan Lichtman, tidak ada partai ketiga karena sifat dari sistem politik AS. "Dalam politik kami, hanya mengenal pemenang menguasai semuanya. Selain itu, biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kampanye, amat sangat mahal," ujar Profesor Lichtman, di hadapan para wartawan di American University, Washington, Selasa (26/9/2012) atau Rabu (27/9/2012) waktu Indonesia.
Lichtman memberikan contoh bagaimana beraninya Ross Perot untuk mencalonkan diri sebagai Presiden AS dari pihak independen. Meskipun dikenal sebagai miliuner, Perot yang mencalonkan diri sebagai Presiden AS pada 1992 dan 1996, tetap saja mengeluarkan dana yang lebih banyak.
"Salah satu yang membuat pihak ketiga (calon independen) ini kalah dalam pertarungan pemilu adalah perhatian media. Meskipun memiliki banyak dana tetapi tidak memiliki perhatian media, sangat sulit untuk menang," tuturnya.
Menurut Lichtman, bukan hanya kampanye Presiden AS saja yang mengeluarkan banyak biaya, tetapi kampanye senator juga mengeluarkan biaya yang tidak kurang. "Untuk melakukan kampanye wilayah saja masih membutuhkan jutaan dolar. Jadi sangat sulit untuk mendobrak sistem pemilu di Amerika," imbuhnya.
Tetapi Lichtman menunjukkan kelebihan AS dalam menganut sistem politik semacam ini. Menurutnya, dengan hanya dua partai, politik di Amerika sangat stabil.
"Sistem politik kami sudah berlangsung selama ratusan tahun dan hal ini terus berjalan stabil. Sistem dua partai ini memang tidak memberikan peluang bagi keterbukaan, tetapi sangat stabil," tegas Lichtman.(okezone/blog.resistnews.web.id)
Bagi Profesor Sejarah American University Allan Lichtman, tidak ada partai ketiga karena sifat dari sistem politik AS. "Dalam politik kami, hanya mengenal pemenang menguasai semuanya. Selain itu, biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kampanye, amat sangat mahal," ujar Profesor Lichtman, di hadapan para wartawan di American University, Washington, Selasa (26/9/2012) atau Rabu (27/9/2012) waktu Indonesia.
Lichtman memberikan contoh bagaimana beraninya Ross Perot untuk mencalonkan diri sebagai Presiden AS dari pihak independen. Meskipun dikenal sebagai miliuner, Perot yang mencalonkan diri sebagai Presiden AS pada 1992 dan 1996, tetap saja mengeluarkan dana yang lebih banyak.
"Salah satu yang membuat pihak ketiga (calon independen) ini kalah dalam pertarungan pemilu adalah perhatian media. Meskipun memiliki banyak dana tetapi tidak memiliki perhatian media, sangat sulit untuk menang," tuturnya.
Menurut Lichtman, bukan hanya kampanye Presiden AS saja yang mengeluarkan banyak biaya, tetapi kampanye senator juga mengeluarkan biaya yang tidak kurang. "Untuk melakukan kampanye wilayah saja masih membutuhkan jutaan dolar. Jadi sangat sulit untuk mendobrak sistem pemilu di Amerika," imbuhnya.
Tetapi Lichtman menunjukkan kelebihan AS dalam menganut sistem politik semacam ini. Menurutnya, dengan hanya dua partai, politik di Amerika sangat stabil.
"Sistem politik kami sudah berlangsung selama ratusan tahun dan hal ini terus berjalan stabil. Sistem dua partai ini memang tidak memberikan peluang bagi keterbukaan, tetapi sangat stabil," tegas Lichtman.(okezone/blog.resistnews.web.id)

