Oleh: Hendra Madjid
Terceritalah seorang Raja dari negeri antah berantah yang memerintah rakyatnya dengan adil. Suatu ketika sang Raja memerintahkan kepada rakyatnya untuk berpartisipasi dalam sebuah proyek. Dimana pada suatu malam yang ditentukan setiap orang harus membawa satu sendok susu dan dikumpulkan ke dalam sebuah belaga yang berada di atas bukit.
Pada malam yang ditentukan, ada seorang pemuda berpikiran, “ah tidak mengapa jika saya membawa sesendok air. Toh Raja tidak akan tahu. Apalagi tugas ini dilakukan pada malam hari. Sesendok air tak akan merubah satu belanga susu. Malam yang panjang itupun berhasil dilalui seluruh rakyat. Tepat ketika fajar menyingsing sang Raja memeriksa belanga tersebut. Tapi betapa terkejutnya Raja, karena tak sedikitpun dari isi belanga tersebut berwarna susu. Yang ada adalah satu belanga penuh berisi air.
***
Prolog yang penulis sampaikan di atas hanyalah sebuah gambaran. Bahwa banyak sekali di antara kita yang memiliki pikiran seperti pemuda tadi. “tak apalah bolos sehari, toh masih banyak yang lain?”. Mungkin jika seratus ribu warga Banjarmasin berpikiran seperti itu, maka bisa kita bayangkan telah terjadi pemborosan jutaan jam kerja dalam satu hari. Atau jika hampir semua dari kita berpandangan “ah, selembar kertas ini tidak akan membanjiri Banjarmasin. Tak apa membuang sampah sembarangan”. Setiap hari, seratus ribu saja warga yang berpikiran seperti itu. Bukan tidak mungkin Banjarmasin akan kebanjiran hanya dalam sepekan.
Dalam bukunya Stephen Covey menekankan pentingnya paradigma untuk membuat sebuah perubahan. Baik secara pribadi ataupun masyarakat. Karena sebuah paradigma akan menghasilkan sebuah believe yang berpengaruh terhadap perilaku. Sebut saja bagaimana paradigma orang-orang Jepang pasca Nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh sekutu? Mereka mencari para guru untuk mulai membangun negerinya. Persis di tahun itupula Negara kita merdeka. Setelah enam puluh lima tahun apa yang terjadi pada Indonesia dan Jepang? “sekarang para remaja di Jepang sudah bisa membuat handphone, dan Alhamdulillah para remaja di Indonesia juga bisa memakai handphone” ujar Aa Gym dalam sebuah ceramah.
Saat penulis mengantre di sebuah bank di Barabai, seorang nasabah dengan bangganya bercerita bahwa dia baru pulang dari Singapura. Beragam kemajuan di negeri itu membuat seolah-olah di Negara kita tak ada bandingan sedikitpun disbanding Negara yang tak lebih besar dari Kalimantan Selatan. Seorang kepala bagian di Bappeda HSUpun mengakui hal yang sama saat bertemu dengan penulis. Bahkan, dulu sempat seorang dosen berkelakar “Negara mereka jauh lebih Islami dari Negara kita”. Beliau membanding Negara kita yang mayoritas Muslim. “padahal, kita sudah diberitahu. Bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari Iman”.
Beberapa orang teman kecewa berat. Karena tahun ini Kalimatan Selatan tidak mendapat jatah CPNS. Sehingga sebagian dari mereka telah beripikir (sambil uring-uringan) untuk merantau ke negeri orang agar dapat menjadi PNS. Begitu menggiurkankan profesi sebagai PNS? Sekali lagi ini adalah masalah paradigma yang memunculkan believe tertentu yang membuat seolah tak ada pilihan lain selain menjadi PNS. Padahal jika kita menggeser sedikit saja paradigmanya ke arah penciptaan lapangan pekerjaan baru, mungkin akan lain jadinya. Bagaimana jika sepuluh persen saja rakyat Indonesia berpikir untuk menciptakan lapangan kerja baru? Saya yakin dalam tiga hingga lima tahun ke depan jumlah pengangguran akan berkurang. Efek dominonya tentu akan berpengaruh pada kriminalitas yang menurun, meningkatnya daya beli masyarakat dan dapat menghindarkan Negara kita pada inflasi. Mungkin hal ini terlampau sederhana jika dilogikakan. Namun, sebagian besar Negara maju seperti Amerika Serikat, Singapura, Jepang bahkan China mendorong agar muncul pengusaha-pengusaha lokal untuk membangun perekonomian negaranya.
Menurut hemat penulis, Nabi Muhammad juga sudah mengajarkan itu. Tak lama setelah Hijrah, Beliau SAW membangun Masjid dan tentu saja Pasar untuk memajukan menyaingi pasar Yahudi yang berkuasa di Madinah ketika itu.
Sebagai putera banua, saya sadar bahwa tulisan sederhana ini tidak akan banyak mengubah Banjarmasin apalagi Indonesia. Akan tetapi, jika semua orang memiliki paradigma yang sama tentang kemajuan sebuah Negara mungkin akan lain hasilnya. Lalu lintas menjadi tertib, kota tertata rapi dan bersih, pelayanan publik yang prima, pemimpin yang amanah, tegaknya hokum dan kesejahteraan rakyat bukan menjadi hal yang mustahil untuk terwujud di Banjarmasin dan tentau saja Indonesia.
Sebagai contoh kecil misalnya. Kita mulai berpikir untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi dan lebih memilih untuk menggunakan moda transporasi umum atau berjalan kaki. Mungkin masalah kuota BBM atau naiknya harga BBM tidak akan menjadi masalah rumit lagi bagi masyarakat. Efeknya, boleh jadi pemerintah akan mempertimbangkan untuk memperbaiki pelayanan pada transportasi umum, trotoar dan ruang terbuka hijau bagi masyarakat.
Tentu bagi Ummat Islam, Ramadhan ini bisa menjadi sebuah titik balik untuk merubah paradigmanya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Walau tidak mudah, tapi penulis yakin KITA BISA melakukannya. Dan semua itu berpulang kepada diri kita sendiri.
*telah dimuat di Harian Banjarmasin Post edisi Jumat 3 Agustus 2012
