ResistNews - Hasil penyelidikan Tim Pencari Fakta (TPF) Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), diperoleh fakta bahwa pihak yang memulai permasalahan sehingga menimbulkan bentrok di Gandekan, Solo berasal dari kawanan preman anak buah Iwan Walet.
Hal itu disampaikan oleh Tim Pencari Fakta (TPF) Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) saat menggelar konferensi pers untuk menyampaikan fakta-fakta temuan di lapangan terkait kasus bentrok Solo yang melibatkan sekelompok preman dan laskar Islam, Senin siang, 07/05/2012.
Melalui juru bicara sekaligus Ketua TPF LUIS, Edi Lukito, SH. asal mula bentrok di kawasan Gandekan berawal dari adanya pemukulan terhadap salah seorang anggota laskar Islam yang tengah pulang mengendarai motor dari melayat yang dilanjutkan dengan pembakaran motor yang dikendarainya.
"Saat itu Yunianto pulang bersama beberapa rombongan dari melayat di TPU Purwoloyo Pucang Sawit," kata Edi Lukito.
"Saat tengah berbelok dari arah jalan RE. Martadinata hendak melintasi tanggul pasar Kampung Sewu, Yunianto dipukul dengan bambu hingga terjatuh dari motor oleh dua orang yang tengah nongkrong di sebuah bengkel cuci motor," lanjutnya.
Saat Yunianto terjatuh dari motor, ketiga temannya melarikan diri dari lokasi. Sedang pelaku pemukulan diketahui merupakan anak buah preman Iwan Walet yang tengah nongkrong di sebuah bengkel cucian motor milik Iwan Walet.
"Merasa tidak bersalah, Yunianto mendatangi dua orang yang memukulnya. Ia menanyakan apa kesalahannya sehingga doa orang itu memukulnya secara tiba-tiba," kata Edi Lukito melanjutkan.
"Mas, apa salah saya kenapa memukul saya?" kata Edi Lukito menirukan perkataan Yunianto.
Bukan jawaban yang keluar dari kedua orang yang memukulnya, Yunianto justru memperoleh pukulan dari keduanya. Kedua orang pemukul itu selanjutnya memanggil sekitar 40-an teman-temannya.
"Melihat banyaknya jumlah kelompok preman rekan-rekan pemukulnya, Yunianto memilih mengurungkan niatnya untuk mengambil motornya. Ia menjauh melarikan diri karena takut dikeroyok oleh kelompok preman anak buah Iwan Walet," tutur Edi.
Motor berplat AD 5432 BZ yang semula dikendarai Yunianto itu pun lantas dibakar oleh sekelompok preman itu di tengah perempatan tanggul pasar Kampung Sewu, beberapa saat kemudian.
Keterangan Tim Pencari Fakta (TPF) Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dalam di depan wartawan dalam konferensi pers penyampaian fakta-fakta temuan di lapangan terkait kasus bentrok Solo yang melibatkan sekelompok preman dan laskar Islam, Senin siang, 07/05/2012.
Hadir dalam pembacaan hasil penyelidikan TPF LUIS yang disampaikan di Masjid Baitussalam, Tipes, Solo pada Senin siang, sejumlah pengurus LUIS dan para korban pengeroyokan preman yaitu Didik, Shandy dan Yunianto. Sementara korban yang mengalami luka paling parah, Agus Pamuji tidak bisa hadir karena masih mengalami pusing dan harus istirahat. [muslimdaily]
