Mereka adalah bagian dari 2.500 tentara yang akan bertugas di kota bagian utara Australia.
ResistNews - Sebanyak 200 prajurit Marinir AS tiba di pangkalan militer Darwin, Australia, pada Rabu dini hari, 4 Maret 2012. Mereka adalah kloter pertama pasukan tambahan AS di negara tersebut, dari total 2.500 tentara yang akan dikirim.Stasiun televisi BBC memberitakan, kedatangan ratusan pasukan AS ini disambut Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith. Dalam pernyataan bersama antara Smith, Perdana Menteri Julia Gillard dan Menteri Besar Australia Utara, Paul Henderson, kedatangan pasukan ini adalah "evolusi dari pelatihan dan aktivitas yang telah ada."
Menurut rencana, AS secara berkala akan menambah jumlah marinir di Australia hingga 2.500 personel pada tahun 2017. Tentara akan ditugaskan secara rotasi dengan jangka waktu yang pendek, sehingga tidak ada tentara yang tinggal permanen.
Penambahan pasukan di Australia adalah salah satu bentuk perubahan kebijakan militer AS yang disampaikan Obama awal tahun ini. Obama mengatakan, AS akan mengurangi pasukan mereka di Timur Tengah dan fokus ke Asia. AS juga tidak ingin terlibat dalam dua perang sekaligus.
Sebelumnya, rencana pengiriman pasukan ke Australia yang disampaikan akhir tahun lalu menuai kecaman dari China. Pemerintahan Beijing khawatir, AS berusaha meningkatkan pengaruh mereka di kawasan untuk menekan Tiongkok soal isu Laut China Selatan.
Selain Australia, tentara AS di Pasifik juga tersebar di pangkalan militer Korea Selatan, Jepang dan Guam. Pemerintahan Obama juga memiliki kerja sama pertahanan yang erat dengan Singapura dan Filipina. China menuduh AS mulai mengepungnya dan mencegahnya menjadi salah satu kekuatan dunia yang berkembang.
AS berkali-kali membantah dan menenangkan negara-negara kawasan bahwa kehadiran mereka di pangkalan yang terletak sekitar 800 km dari Indonesia ini untuk tujuan positif. Di antaranya adalah untuk melakukan pelatihan tanggap bencana dan pemberian bantuan kemanusiaan untuk Asia Tenggara.
"Perkataan bahwa kami takut perkembangan China adalah salah. Perkataan bahwa kami tidak menanggapi China juga salah. Kami menyambut baik kebangkitan China yang damai," kata Obama kala itu, dikutip Reuters. (ren/viva)
