ResistNews - Perdana Menteri Tunisia Hamadi Jebali di Jerman Rabu kemarin (14/3) menyatakan bahwa negaranya berada di persimpangan jalan setelah pemecatan tahun lalu rezim Ben Ali, pada saat sistem lama belum sepenuhnya digulingkan.
"Memang benar bahwa kami berhasil menggulingkan (kediktatoran) karena mantan presiden terpaksa harus melarikan diri," kata Jebali. "Tapi seluruh sistem yang ada belum berubah."
"Revolusi Tunisia sekarang di persimpangan jalan," tambahnya.
Jebali, yang juga mengadakan pembicaraan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel Rabu kemarin, mengatakan ada "semacam perlawanan" oleh mereka yang ingin memutar balik waktu ke masa lalu yang ditandai oleh maraknya korupsi.
"Bahaya terbesar di Suriah adalah konflik antara reaksioner dan modernis," kata Jebali, mengacu kepada kelompok Salafi.
"Yang terburuk adalah meyakini bahwa kebebasan dan demokrasi tidak kompatibel dengan Islam," tambahnya.
Jebali, yang merupakan orang nomor dua di partai Islam moderat An-Nahdhah, menyerukan rencana baru untuk membantu Tunisia memenuhi tantangan ekonomi.
"Kami tidak ingin mengemis," katanya, sambil menambahkan Tunisia membutuhkan uang untuk memperbaiki infrastruktur, terutama di daerah yang jauh dari pantai yang katanya tidak mendapat dana yang cukup selama beberapa dekade.
Investasi juga dibutuhkan dalam administrasi sektor pendidikan, dan energi terbarukan.
Jebali meminta para wisatawan untuk terus datang ke Tunisia setelah sektor pendapatannya menurun pada tahun lalu pada saat pemberontakan yang menggulingkan Zine El Abidine Ben Ali memaksa hotel-hotel tertutup dan menyebabkan ribuan pekerja di PHK.(fq/afp/eramuslim.com)
"Memang benar bahwa kami berhasil menggulingkan (kediktatoran) karena mantan presiden terpaksa harus melarikan diri," kata Jebali. "Tapi seluruh sistem yang ada belum berubah."
"Revolusi Tunisia sekarang di persimpangan jalan," tambahnya.
Jebali, yang juga mengadakan pembicaraan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel Rabu kemarin, mengatakan ada "semacam perlawanan" oleh mereka yang ingin memutar balik waktu ke masa lalu yang ditandai oleh maraknya korupsi.
"Bahaya terbesar di Suriah adalah konflik antara reaksioner dan modernis," kata Jebali, mengacu kepada kelompok Salafi.
"Yang terburuk adalah meyakini bahwa kebebasan dan demokrasi tidak kompatibel dengan Islam," tambahnya.
Jebali, yang merupakan orang nomor dua di partai Islam moderat An-Nahdhah, menyerukan rencana baru untuk membantu Tunisia memenuhi tantangan ekonomi.
"Kami tidak ingin mengemis," katanya, sambil menambahkan Tunisia membutuhkan uang untuk memperbaiki infrastruktur, terutama di daerah yang jauh dari pantai yang katanya tidak mendapat dana yang cukup selama beberapa dekade.
Investasi juga dibutuhkan dalam administrasi sektor pendidikan, dan energi terbarukan.
Jebali meminta para wisatawan untuk terus datang ke Tunisia setelah sektor pendapatannya menurun pada tahun lalu pada saat pemberontakan yang menggulingkan Zine El Abidine Ben Ali memaksa hotel-hotel tertutup dan menyebabkan ribuan pekerja di PHK.(fq/afp/eramuslim.com)
